PENDAHULUAN Mungkin kita sudah tidak asing lagi mendengar kata tumpangsari dan ini sudah biasa. Tetapi tumpangsari tanamana jagung – padi gogo (turiman Jago) yang akan diperkenalkan ini ada kata supernya. Kita akan bertanya-tanya, apa bedanya dengan tumpangsari yang sudah biasa kita kenal dengan turiman Jago super ini? Tumpangsari merupakan salah satu bentuk pertanaman campuran yang melibatkan lebih dari satu jenis tanaman dalam satu lahan pertanian dengan jumlah populasi tetap 1 ha. Sedangkan tumpangsari Jago Super ini, jumlah populasinya masing-masing tanaman tidak berkurang dengan kata lain, jika kita menanam padi gogo dan jagung dalam 1 ha, berarti kita akan dapatkan populasinya untuk 2 ha yaitu 1 Ha padi gogo dan 1 ha jagung. Keuntungan tumpangsari jago super ini yaitu efisien dalam penggunaan lahan, mengurangi biaya pengolahan lahan dan pemeliharaan tanaman serta dapat mengurangi serangan OPT dan mendapatkan hasil panen lebih dari satu jenis tanaman. Tahapan Pelaksanaan Varietas Unggul Penggunaan varietas unggul merupakan salah satu upaya berperan penting dalam peningkatan produktivitas tanaman padi gogo dan jagung Pemilihan varietas harus melihat deskripsi tanaman terutama melihat potensi hasil, ketahanan terhadap penyakit atau hama, umur tanaman dan kesesuaian lahan. Varietas padi gogo yang dapat direkomendasikan untuk ditanam yaitu Situ Patenggang, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11, Inpago 12, Rindang 1, Rindang 2 dan Jati Luhur. Untuk tanaman jagung dapat digunakan varietas Nasa 29, Bima 2 dan JH 27. Persiapan Lahan Persiapan lahan dapat dilakukan dengan tanpa olah tanah ataupun dengan olah tanah sempurna menggunakan hand traktor atau traktor roda 4. Penanaman Lakukan perendaman benih untuk memisahkan benih yang hampa dengan yang bernas. Benih yang timbul dibuang, sedangkan yang tenggelam diambil (gabah bernas). Perlakuan benih padi gogo dengan menggunakan pupuk Hayati Agrice-plus atau yang lain. Untuk mencegah penyakit bulai pada tanaman jagung, lakukan juga perlakukan benih dengan menggunakan fungisida berbahan aktif Isoprotiolan, Trisiklazol, Dimetomorf 200 g/l atau metalaxy Penanaman jagung diantara tanaman padi gogo dilakukan sebanyak 2 baris tanaman dengan jarak tanam 260 cm (40 x 20 cm x 50 cm). Jumlah tanaman antar baris 71 dan jumlah populasi perha 110.000 tanaman. Penanaman jagung dilakukan 2 biji/lubang tanam, kebutuhan benih per ha sebanyak 40 kg. Pada saat tanam lubang tanam ditutup dengan pupuk kandang antara 25 – 50 g/lubang Penanaman padi gogo dilakukan dengan cara tugal, jumlah benih 5 butir/lubang tanam. Penanaman padi gogo antara tanaman jagung dilakukan 9 baris tanaman dengan jarak 140 cm (20 x 10 x 50 cm). Jumlah baris tanaman 250 rumpun, jumlah dalam baris 1.000 rumpun sehingga jumlah populasi tanaman per ha sebanyak 250.000 rumpun. Kebutuhan benih per ha sebanyak 50 kg Pemupukan Pemupukan dilakukan berdasarkan spesifik lokasi, bisa berdasarkan hasil analisis tanah, PUTK atau rekomendasi umum. Pemupukan kapur dan pupuk kandang dilakukan sebelum tanam minimal 2 minggu. Pemupukan padi gogo dilakukan sebanyak 3 kali yaitu umur 21-25 hst, umur 40-46 hst, dan umur 60 - 65 hst dengan dosis masing-masing 1/3 bagian. Dosis pemupukan padi gogo 200 kg NPK 15:15:15/ha, 100 kg urea/Ha dan 17 kg TSP/Ha. Aplikasi pupuk cair biosilika (BioSinta) 2-4 kali yaitu pada umur 30 hst, 45 hst, 60 hst dan 75 hst atau berdasarkan dosis sesuai anjuran. Pemupukan jagung dilakukan 2 kali yaitu pemupukan dasar umur 10-15 hst dengan dosis pupuk NPK 200 kg/ha, Urea 50 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, pemupukan pertama sebaiknya diaplikasikan dengan cara tugal dan sedangkan pemupukan kedua dilakukan pada umur 28-35 HST dosis NPK 15:15:15 (200 kg/ha), urea 100 kg/ha dilakukan secara tebar. Pengendalian Gulma Gulma merupakan tanaman yang tidak dikehendaki keberadaannya, karena gulma menjadi masalah yang besar dans erius pada pertanaman di lahan kering. Pertumbuhan gulma dilahan kering dengan kondisi basah kering leboh cepat dan lebih banyak, sehingga pengendalian sebaiknya dilakukan sebelum gulma berkembang atau beberapa hari setelah tanaman utama tumbuh. Untuk menekan pertumbuhan gulma, maka sebelum tanam benih dilakukan penyemprotan dengan herbisida Penyiangan gulma pada padi gogo dilakukan dengan penyemprotan herbisida selektif bahan aktif Natrium bispiribak 400 g/L SE dengan dosis 200-300 ml/ha kemudian dilakukan secara manual dengan cara mencabut rumput sebanyak 2 kali yaitu pada saat tanaman berumur 10-20 hst dan umur 40-50 hst atau menjelang pemupukan urea ke dua Pengendalian gulma pada tanaman jagung dilakukan dengan penyemprotan herbisida selektif bahan aktif glifosat, paraquat, Atrazin 500 gr/l dan Mesotrion 50 gr/l pada umur 10- 15 hst. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua atau pada umur 21-30 hst, dengan tujuan agar tanaman lebih kuat dan kokoh sehingga tidak mudah rebah, serta untuk mengemburkan tanah sehingga perakaran tanaman berkembang dengan baik Pengendalian Hama dan Penyakit Pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (OPT) dilakukan dengan menggunakan pestisida anorganik, namun jika populasi diatas ambang batas maka dilakukan dengan pestisida anorganik Hama yang menyerang padi pada pertumbuhan vegetative adalah lalat bibit, pengerek batang dan lundi. Pada pertumbuhan lebih lanjut, hama penggerek batang dan penggulung daun. Pada tanaman yang sudah mengeluarkan malai, hama walang sangit, kepik. Sedangkan penyakit utamanya adalah blas yang disebabkan oleh jamur. Untuk mengurangi kerugian hama dan penyakit perlu ada strategi yang benar-benar terencana. Untuk mengurangi gangguan penyakit blas perlu dipilih varietas padi yang tahan dan lakukan perlakuan benih. Hama yang seringkali merusak tanaman jagung antara lain lalat bibit, pengerek batang dan penggerek tongkol. Lalat bibit umumnya menyerang tanaman pada awal pertumbuhan tanaman sehingga pengendaliannya dilakukan sejak saat tanam dengan insektisida karbufuron, terutama didaerah endemic lalat bibit. Untuk penggerek batang, jika serangan mulai terlihat, pengendalian disarankan menggunakan insektisida karbufuron. Penyakit utama yang biasanya merusak tanaman jagung adalah bulai yang disebabkan oleh jamur. Kendalikan penyakit dengan perlakuan benih (seed treatment) yaitu mencampur benih dengan fungisida metalaksil secara merata dengan dosis 2 gr/kg benih. Panen dan Prosesing hasil Pada saat tanaman jagung berumur 60-70 hst dilakukan pemangkasan daun tanaman di bawah tongkol. Kemudian pada umur 80-90 hst dilakukan pemangkasan pucuk tanaman. Pemangkasan tanaman bertujuan untuk mempercepat proses pengeringan tongkol, mengurangi kanopi yang saling menaungi sehingga sinar matahari lebih optimal diterima oleh tanaman sela agar proses fotosintesis berjalan optimal. Hasil pemangkasan berupa biomas segar dapat digunakan sebagai pakan ternak potensial. Panen sebaiknya dilakukan pada cuaca cerah, pada saat tanaman sudah masak fisiologis yang ditandai dengan dengan daun/kelobot sudah kering, berwarna kekuning-kuningan, kadar air biji ± 30%, biji telah mengeras dan telah membentuk lapisan hitam (black layer) minimal 50% disetiap barisan biji. Selanjutnya tongkol yang sudah dipanen segera dijemur. Jika selama pengeringan kadar air ±20%, jagung telah siap untuk dipipil dengan alat pemipil. Setelah itu biji yang telah dipipil dijemur kembali sampai kadar air 14% dan siap untuk dipasarkan Padi dipanen pada saat matang fisiologis yaitu untuk padi gogo bilamana 90% bulir padi telah menguning. Padi gogo dapat dipanen pada umur 110 – 130 hari tergantung varietas. Panen dilakukan pada saat cuaca cerah. Padi yang telah dipanen kemudian dirontok dengan menggunakan powerthresher. Selanjutnya gabah dijemur sampai kadar air 14% (GKG) untuk digiling menjadi beras. Namun jika akan dijadikan benih, gabah perlu dikeringkan sampai akdar air mencapai 10 – 12%. Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2008. Pengelolaan Tanaman Terpadu Jagung. Jakarta Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2008. Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Gogo. Jakarta Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat, 2018. Tumpangsari Tanaman Jagung-Padi-Kedelai (Turiman Jagole). Pontianak Penyusun : Ir. Sari Nurita BPTP Kalimantan Barat