Loading...

UBINAN VUB SIDENUK DAN INPARI 19 DESA GOLANTEPUS MEJOBO KUDUS

UBINAN VUB SIDENUK DAN INPARI 19 DESA GOLANTEPUS MEJOBO KUDUS
Padi merupakan tanaman istimewa karena berjuta orang terutama masyarakat Indonesia menjadikan olahannya sebagai bahan makanan utama. Pagi itu, Selasa 2 Oktober 2012, petani wilayah desa Golantepus Kecamatan Mejobo Kudus menunjukkan kesibukan mempersiapkan kegiatan ubinan di hamparan sawah terhadap varietas unggul baru tanaman padi, yaitu varietas Sidenuk, Inpari 19 dan Ciherang. Masing-masing display dilaksanakan pada petak sawah milik bapak Samingoen dan bapak Soleh. Keduanya berada pada wilayah Kelompok Tani "Tentrem Ayem" desa Golantepus yang diketuai oleh bapak H. Ngatrimo. Kegiatan ubinan ini di hadiri oleh BPTP Jawa Tengah, Ka. Sie Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kab. Kudus, Penyuluh Pertanian, Mantri Tani, Formulator, Petani, Kelompok Tani, Gapoktan desa Golantepus, Perangkat desa Golantepus, Petani sekitar dan mahasiswa Agrotek UMK tak kurang dari 50 peserta. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari uji varietas yang dilaksanakan oleh BPTP Jawa Tengah di desa Golantepus Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus. Penanaman dilaksanakan pada Kamis, 21 Juni 2012 untuk varietas Ciherang di petak sawah milik Bapak Soleh sedangkan Varietas Sidenuk dan Inpari 19 ditanam pada Sabtu 23 Juni 2012 pada petak sawah milik Bapak H. Samingoen. Keduanya ditanam dengan sistem tanam tabela (Tanam Benih langsung). Pada perkembangan awal vegetatif sudah di serang hama penggerek batang (Sundep) dengan populasi yang tidak sedikit. Pengendalian dengan cara "cap jempol" pada kelompok telur ternyata memberikan hasil yang cukup signifikan dalam mengatasi permasalahan hama tersebut tanpa menggunakan pestisida (racun) berlebihan. Keuletan serta pengamatan rutin dan berkelanjutan adalah kunci dalam mengatasi setiap hama pada tanaman padi. Tidak hanya masalah hama saja yang menjadi tantangan petani desa Golantepus untuk mensukseskan kegiatan display uji varietas. Di awal masa pertumbuhan munculnya tumbuhan di sekitar tanaman utama yang disebut gulma juga menjadi masalah yang cukup mengganggu. Dengan pendampingan yang dilaksanakan oleh BPTP Jawa Tengah serta Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan melalui Penyuluh Pertanian serta Mantri Tani setempat serta hubungan yang baik dengan beberapa formulator masalah ini pun bisa terlewati dengan baik. Ujian tidak berhenti. Di masa generatif penggerek batang menyerang kembali sebagai beluk. Lagi-lagi pengamatan menjadi senjata utama dalam pengendaliannya. Hingga yang cukup berat ujian ini adalah musim kemarau yang cukup panjang. Petani secara bersama-sama mengusahakan sumur pompa di sekitar areal display. Selama beberapa hari beberapa pompa tersebut mencukupi kebutuhan tanaman akan air saat pengisian berlangsung. Selasa, 2 oktober 2012 sebagai hasil dari jerih payah petani untuk menerima hasilnya. Ujian demi ujian dilalui dengan sabar dan tawakal sehingga menjadikan rasa syukur itu bertambah. Varietas Sidenuk yang diusahakan menjadi idola dan harapan baru petani desa Golantepus. Hasil ubinan Varietas Sidenuk dari 3 (tiga) petak ukuran 2,5 m x 2,5 m adalah masing-masing 6,5 kg ; 7 kg ; 6,5 kg dengan rerata 6,6 sehingga capaian produksi 10,6 ton/ Ha. Kadar air rerata 21%. Hasil ubinan Varietas Inpari 19 dari 3 (tiga) petak ukuran 2,5 m x 2,5 m adalah masing-masing 5 kg ; 6 kg ; 5 kg dengan rerata 5,3 kg sehingga capaian produksi 8,53 ton/ Ha. Kadar air rerata 21,6%. Hasil ubinan Varietas Ciherang dari 3 (tiga) petak ukuran 2,5 m x 2,5 m adalah masing-masing 5 kg ; 5 kg ; 5 kg dengan rerata 5 kg sehingga capaian produksi 8 ton/ Ha. Kadar air rerata 22 %. Sementara itu produksi riil varietas Sidenuk dan Inpari 19 adalah 9,6 ton/ Ha. Sedangkan varietas Ciherang mendapat 9,1 ton/ Ha. Dari gelar teknologi ini petani mengidamkan varietas Sidenuk karena memiliki karakteristik gabah yang tipis dengan rendemen atau beras yang gemuk. Di samping itu varietas ini memiliki sedikit sungut yang diyakini memiliki rasa yang pulen dan enak. Semoga keberhasilan ini sebagai titik kembali kejayaan padi Indonesia menjadi tetap swasembada padi. (Indri Subekti P, SP - Penyuluh Pertanian Kab. Kudus)