Loading...

Uji Coba Teknologi (display Varietas Unggul Baru (vub) ) Sebagai Upaya Pergiliran Varietas Padi Di Kecamatan Kasemen

Uji Coba Teknologi (display Varietas Unggul Baru (vub) ) Sebagai Upaya Pergiliran Varietas Padi Di Kecamatan Kasemen
Ditulis oleh : Siti Nurani, S.P Pelaksanaan uji coba teknologi display varietas ini dilaksanakan pada bulan April 2021 sampai dengan Agustus 2021 bertempat di kelompok tani Tirta Jaya Kelurahan Sawah Luhur Kecamatan Kasemen bekerjasama dengan Balai Pengkajian Tanaman Pangan (BPTP) Banten. Varietas yang digunakan antara lain : : (1) tarabas, (2) inpari 32, (3) Pajajaran , (4) Mantap, (5) Cakra buana, (6) Siliwangi, (7) Pamelan, (8) Inpari 45, (9) Inpari nutri zinc. Metode pelaksanaan uji teknologi display varietas ini adalah dengan menanam 9 varietas unggul baru di satu hamparan sawah, dengan menggunakan sistem tanam jajar legowo 2 : 1. Masing – masing varietas di pisahkan atau diberi jarak dengan galangan untuk memudahkan pengamatan. Masing – masing varietas ditanan dengan luasan yang berbeda karena tergantung dengan keterbatasan benih. Sampel tanaman yang diamati masing – masing varietas adalah 5 tanaman dengan sistem ambil sampel diagonal. Adapun pengamatan dilakukan setiap 2 minggu sekali. Dominasi varietas ciherang terus berlanjut sampai saat ini, ciherang dengan segala kelebihannya masih menjadi varietas unggul bagi para petani. Dengan inisiatif dan kerjasama antara beberapa pihak instansi terkait, di kecamatan kasemen khususnya kelurahan sawah luhur mengadakan display varietas unggul baru untuk dijadikan acuan pergiliran varietas dan untuk memutus rantai penyebaran hama dan penyakit tanaman pada padi. Sebagaimana disebutkan diatas ada 9 varietas yang dijadikan sampel / contoh display varietas antara lain : (1) tarabas, (2) inpari 32, (3) Pajajaran , (4) Mantap, (5) Cakra buana, (6) Siliwangi, (7) Pamelan, (8) Inpari 45, (9) Inpari nutri zinc. Sembilan varietas itu diamati pertumbuhan dan perkembangannya, baik dari tinggi tanaman, jumlah anakan, keseragaman, kondisi pertanaman terkait hama dan penyakit. Dari pengamatan lapang tentang pertumbuhan dan perkembangan varietas unggul baru yang dilaksanakan di kecamatan kasemen. Varietas yang memiliki tinggi tanaman tertinggi saat panen adalah Tarabas dengan tinggi 121,6 cm diikuti dan inpari 45 dengan tinggi tanaman 120,8 cm. Untuk varietas yang memiliki tinggi tanaman terendah adalah pajajaran 97,8 cm. Ke sembilan varietas ini menunjukan respon pertumbuhan yang baik karena mengalami peningkatan di setiap minggunya Untuk jumlah anakan total dapat bahwa terdapat peningkatan di setiap minggunya. jumlah anakan total yang tertinggi adalah varietas pamelan dengan jumlah anakan total pada umur 42 HST adalah 25, diikuti oleh nutri zinc 24, inpari 45 dan mantap 23, pajajran dan siliwangi 22, inpari 32 21, dan yang paling sedikit adalah tarabas dan cakra buana dengan 16 anakan total. Jumlah anakan produktif yang diamati pada saat menjelang panen yang menghasilkan jumlah anakan produktif tertinggi yaitu pamelan dengan jumlah anakan produktif 31, diikuti oleh siliwangi 25, inpari nutri zinc 21, inpari 45 20, inpari 32 19, tarabas 18, pajajaran dan mantap 17, dan yang paling sedikit adalah cakra buana sebanyak 15 anakan produktif. (Olahan data bpp kasemen, 2021) Dalam perkembangannya terdapat gangguan dari berbagai macam hama dan penyakit tanaman salah satunya tikus, hawar daun bakteri, penggerek batang, dan ulat grayak. Dari hasil pengamatan lapang varietas tarabas, inpari 32, dan inpari nutri zinc agak tahan hawar daun bakteri dan sundep, sedangkan varietas mantap dan inpari 45 agak rentan hawar daun bakteri serta terkena sundep dan tikus. Kemudian untuk komponen hasil diamati panjang malai, jumlah butir per malai, serta hasil ubinan. jumlah butir per malai tertinggi adalah tarabas dengan jumlah 170 butir, diikuti oleh inpari 32 166, pamelan 155, siliwangi 150, mantap 141, inpari 45 135, inpari nutri zinc 119, pajajaran 112, dan terakhir cakra buana 94. Selanjutnya untuk untuk panjang malai tertinggi adalah varietas mantap dengan panjang malai 28,67 cm, kemudian diikuti oleh pamelan 27,6 cm, siliwangi 27 cm, pajajaran 25,57 cm, tarabas 25,33 cm, inpari nutri zinc 24,83 cm, inpari 45 23,6 cm, dan yang terakhir cakra buana 23 cm. Dari gambar diatas terihat bahwa hasil ubinan dan produktivitas tertinggi adalah inpari nutri zinc (7,7337 yon/ha), diikuti oleh inpari 32 (7,352 ton/ha). Dari ubinan ini diamati juga hasil ubinan pada varietas yang pada saat itu banyak ditanam oleh petani yaitu varietas mekongga. Respon petani terhadap kegiatan display varietas unggul baru Petani sebagai pelaku utama dilibatkan secara langsung untuk menilai secara fisik dan penampilan tanaman di persawahan. Petani menilai dengan jawaban suka atau tidak suka di kriteria tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang malai, bentuk malai, bentuk gabah, keseragaman, ketahanan terhadap penyakit dan yang lainnya. Dari hasil survey petani, tarabas memiliki kelebihan tahan terhadap hama dan penyakit akan tetapi kekurangannya adalah terlalu tinggi, umur panjang, dan anakan yang kurang. Yang kedua adalah inpari 32, menurut para petani inpari 32 memiliki kelebihan anakan banyak, tahan terhadap hama dan penyakit, malai bagus, gabahnya bersih dan panjang, sedangkan kekurangan dari varietas inpari 32 hanya benih yang belum tersedia banyak di pasaran. Varietas yang ketiga adalah mantap, menurut petani kelebihan dari varietas mantap adalah tinggi sesuai, malai bagus, akan tetapi ada kelemahan yaitu rentan terhadap hama dan penyakit. Varietas yang keempat adalah inpari 45. Menurut petani, inpari 45 memiliki kelebihan tumbuh seragam dan malainya bagus, akan tetapi kekurangannya terkena serangan tikus dan penggerek batang. Dan yang terakhir varietas inpari nutri zinc. Varietas ini memiliki kelebihan anakan banyak, tahan terhadap hama dan penyakit, serta tahan rebah. Sedangkan kekurangannya bentuk gabah atau biji yang kecil. (olahan data BPP Kasemen, 2021) Dari penjelasan diatas, varietas padi yang memiliki potensi hasil tinggi dan tahan terhadap hama dan penyakit adalah varietas inpari 32 dan inpari nutri zinc. Kedua varietas itu memiliki potensi hasil sampai ± 7 ton/ha. Akan tetapi, ada kelemahan di varietas nutri zinc dari segi bentuk gabah / biji yang tidak disukai oleh petani sekitar karena harga jual yang rendah. Mayoritas gabah / beras yang dijual dengan harga tinggi adalah yang bentuknya agak lonjong dan besar serta rasanya yang pulen serta bersih dari butir kapur, sedangkan padi inpari nutri zinc memiliki bentuk gabah yang bulat dan kecil. Atas dasar itu petani lebih memilih varietas inpari 32 sebagai VUB yang akan ditanam di musim selanjutnya sebagai langkah awal pergiliran varietas padi untuk memutus rantai serangan hama dan penyakit tanaman. Ditulis oleh : Siti Nurani, S.P