Waspada terhadap udara berbahaya sehingga banyak usaha yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk bisa menghasilkan udara yang bersih dan aman. Di Kalimantan Selatan khususnya Kota Banjarbaru beberapa petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan sudah ikut dalam pelatihan Sekolah Lapang Kader Usaha Bersih (SL KUBI) yang dilaksanakan oleh Yayasan FIELD (Farmer`S Initiatives For Ecological Livelihoods, and Democracy), Program Udara Bersih Indonesia dikembangkan dalam upaya mengurangi resiko dari perubahan iklim dan pembakaran lahan pertanian dengan mempromosikan serta memberikan praktek Pertanian yang Ramah Lingkungan untuk mewujudkan Udara bersih, aman dan tidak berbahaya Sebagai salah satu Kota yang dekat dengan Bandara, Kota Banjarbaru termasuk Zona 1 yang dijaga keamanan udaranya, sehingga Pemerintah Daerah sangat melarang bagi para pembakaran lahan untuk memperluas lahan usaha pertanian. Salah satu Kecamatan yang ikut serta dalam pengkaderan pelatihan SL KUBI adalah Kecamatan Cempaka, yang berada di 2 titik yaitju : Kelompok Tani Karya Bakti Kelurahan Palam dan Kelompok Tani Mekar Tani Kelurahan Bangkal sebagai pelopor dalam melaksanakan Program Udara Bersih Indonesia Praktek Pertanian ramah lingkungan ini diharapkan dapat mewujudkan Udara Bersih melalui penerapan Teknologi Mulsa Tanpa Olah Tanah memanfaatkan lahan Sawah setelah selesai panen Padi lokal untuk Ditanami Padi Unggul Varietas Inpari 32 yang dikembangkan oleh Poktan Karya Bakti Kelurahan Palam dengan menggunakan jerami sebagai mulsa, serta penerapan sistem tanam Jajar Legowo 2 : 1, pemanfaatan kulit bawah sebagai Zat Perangsang Tumbuh dan Penerapan VUB (varietas unggul Baru), Sedangkan selain Tanpa Olah Tanah, Kelompok ini jua menggunakan perbandingan tanam dengan olah tanah yang menggunakan agensi hayati organik, VUB sehingga dari hasil demplot keduanya diperoleh perbandingan : 1. Tanpa Olah Tanah Penurunan Biaya Olah Tanah Penurunan penggunaan pupuk kimia sekitar 30 %, karena pupuk kimia dilepaskan secara perlahan dikarenakan penggunaan jerami sebagai mulsa mengurangi penguapan secara langsung Penggunaan Kulit Bawang Merah sebagai ZPT meningkatkan pertumbuhan tanaman dan anakan serta mempercepat perakaran Penggunaan Jerami sebagai mulsa mempertahankan kelembaban serta meningkatkan perkembangan mikroorganisme sehingga pupuk dapat diserap secara maksimal Diperoleh hasil ubinan mencapai 4,14 kg atau produktivitas mencapai 6,62 ton/ha 2. Dengan Olah Tanah Biaya Olah Tanah lebih mahal dibandingkan dengan TOT Penggunaan pupuk kimia lebih banyak 30 % dari TOT Penggunaan agensi hayati (asam homat) dapat meningkatkan pH Tanah dengan cepat Penggunaan agensi hayati tidak dapat serta merta diberikan sepenuhnya tetap harus diimbangi dengan penggunaan pupuk kimia Jumlah anakan lebih sedikit karena pemberian pupuk tidak dapat langsung terserap tanaman Diperoleh hasil ubinan mencapai 3,98 kg atau produktivitas mencapai 6,36 ton/ha Demikian hasil pelaksanaan Demplot ini semoga kedepannya para petani yang berada di Kota Banjarbaru akan selalu mampu menghasilkan pertanian udara bersih, dan aman dari lingkungan OLEH WIWIEK S. HARI, SP PPL UPT BPP CEMPAKA