Loading...

Pengendalian Ulat Grayak pada Tanaman Jagung

Pengendalian Ulat Grayak pada Tanaman Jagung

Ulat grayak (Spodoptera frugiperda) atau Fall Armyworm (FAW) merupakan hama utama pada tanaman jagung yang dapat menyebabkan kerusakan parah sejak fase vegetatif awal. Hama ini menyerang daun muda, titik tumbuh, bahkan tongkol muda sehingga berdampak langsung pada penurunan hasil panen.

Pada pengamatan di lapangan, terlihat daun jagung berlubang tidak beraturan, sobek, dan terdapat bekas gerekan memanjang—ciri khas aktivitas makan ulat grayak. Jika tidak dikendalikan sejak dini, tingkat kerusakan dapat mencapai lebih dari 70%.

Gejala Serangan

Beberapa gejala serangan ulat grayak yang umum ditemukan:

a. Daun berlubang

Lubang berukuran kecil hingga besar, bentuk tidak beraturan, muncul terutama pada daun muda.

b. Gerekan pada whorl (jantung daun)

Ulat sering bersembunyi di bagian tengah tanaman dan memakan daun dari dalam sehingga ketika daun membuka, tampak sobekan memanjang.

c. Kotoran ulat

Kotoran berwarna cokelat atau hitam menumpuk di whorl—tanda keberadaan ulat aktif.

d. Titik tumbuh rusak

Pada serangan berat, pucuk dapat mati (dead heart).


Dampak Terhadap Pertumbuhan Tanaman

  • Pertumbuhan terhambat karena daun rusak parah.

  • Penurunan luas daun efektif sehingga fotosintesis berkurang.

  • Tanaman lebih rentan terhadap penyakit sekunder.

  • Pengisian tongkol kurang optimal, hasil panen bisa menurun drastis.


Strategi Pengendalian Ulat Grayak

A. Pengendalian Secara Kultur Teknis

  1. Tanam Serempak di Suatu Wilayah
    Menekan populasi awal karena perkembangan hama tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

  2. Rotasi Tanaman Non-Inang
    Hindari menanam jagung terus menerus di lahan yang sama. Gunakan tanaman seperti kedelai atau kacang tanah sebagai pergiliran.

  3. Pengolahan Tanah Intensif
    Membantu menghancurkan pupa yang berada di bawah permukaan tanah.

  4. Pemanfaatan Varietas Toleran
    Gunakan varietas jagung yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap FAW.


B. Pengendalian Secara Mekanis

  1. Pengambilan Ulat Secara Manual
    Jika populasi rendah, ulat dapat dikumpulkan dan dimusnahkan.

  2. Membersihkan Kotoran pada Whorl
    Membersihkan kotoran mempermudah pestisida mencapai ulat.


C. Pengendalian Hayati

  1. Aplikasi Agen Hayati

    • Bacillus thuringiensis (Bt) efektif untuk ulat muda.

    • Beauveria bassiana atau Metarhizium anisopliae dapat menginfeksi ulat secara alami.

  2. Mendorong Kehadiran Musuh Alami
    Seperti parasitoid Trichogramma, predator laba-laba, dan semut rangrang.


D. Pengendalian Kimia (Jika Populasi Tinggi)

Penggunaan insektisida dilakukan secara bijak berdasarkan ambang pengendalian:
Jika ditemukan ≥10% tanaman terserang pada fase vegetatif.

Bahan aktif yang umum direkomendasikan:

  • Klorantraniliprol

  • Emamektin benzoate

  • Metoksifenozid

  • Spinetoram

  • Lufenuron

  • Lambda-sihalotrin (untuk populasi tidak resisten)

Cara aplikasi:

  • Arahkan semprotan ke bagian whorl/jantung tanaman.

  • Semprot saat sore hari karena ulat aktif pada malam hingga pagi.

  • Ulangi 7–10 hari kemudian jika masih ditemukan populasi.


Pemantauan Rutin

Monitoring sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih parah:

  • Lakukan pengamatan minimal 1 minggu sekali.

  • Catat jumlah tanaman terserang dan ulat yang ditemukan.

  • Awasi fase awal pertumbuhan (1–30 HST), karena merupakan fase paling rawan.

Serangan ulat grayak menjadi ancaman serius bagi tanaman jagung, terlihat dari daun yang berlubang dan robek seperti pada kondisi lahan saat ini. Pengendalian harus dilakukan secara terpadu, menggabungkan tindakan kultur teknis, hayati, mekanis, dan kimia yang terukur. Dengan pengelolaan yang tepat, tingkat serangan dapat ditekan sehingga pertumbuhan jagung tetap optimal dan hasil panen tidak menurun.