Pendahuluan Tanaman jagung merupakan bahan makanan pokok kedua setelah beras. Tanaman ini selain sebagai pengganti beras juga digunakan sebagai bahan pakan ternak dan bahan baku industri. Saat ini, dengan semakin berkembangnya industri pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung juga semakin meningkat. Di Bangka Belitung kebutuhan akan jagung juga terus meningkat, namun peningkatan jumlah kebutuhannya belum seiring dengan peningkatan luas tanam, produksi maupun produktivitasnya. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung produksi jagung sampai dengan tahun 2018 hanya mampu memproduksi 2.828 ton dari luasan panen 587 ha dengan produktivitas 4,82 ton/ha. (BPS, 2019). Penyebab utamanya adalah masalah lahan, benih, serangan hama penyakit serta mahalnya upah tenaga kerja. Laporan dari penyuluh pertanian lapangan di wilayah Provinsi Bangka Belitung serangan hama merupakan momok yang paling ditakuti oleh para petani jagung akhir akhir ini, serangan hama yang ditakuti petani ini adalah serangan dari ulat grayak (UGJ) yang dapat menurunkan produksi dan menyebabkan petani mengalami kerugian besar bahkan gagal panen. Ulat grayak (UGJ) Spodoptera frugiperda berasal dari Amerika menyebar ke nigeria. Pada Tahun 2018 mulai ditemukan di Thailand dan Srilangka, dan pada tahun 2019 mulai menyebar ke Indonesia wilayah Sumatera termasuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pertama kali ditemukan di Kabupaten Bangka di Desa Jada Bahrin dan Desa Pagarawan Siklus hidup Ulat grayak (UGJ) Spodoptera frugiperda mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap lingkungannya, ngengat S. frugiperda ini mampu terbang sejauh ratusan kilometer dengan bantuan angin sehingga penyebarannya sangat cepat sekali. Selain itu daya makan yang lebih rakus dibandingkan ulat sejenisnya karena UGJ aktivitas makannya dapat berlangsung pada siang maupun malam hari. Ciri khusus daru UGJ ini adalah pada bagian kepala ada garis yang membentuk huruf Y terbalik, sementara dibagian belakang ada 4 titik hitam (pincula) yang membentuk bujur sangkar. Ulat grayak (UGJ) Spodoptera frugiperda mempunyai siklus hidup yang pendek. Telur yang dihasilkan akan mengelompok dimana dalam satu kelompok bisa terdapat 100-200 butir telur dengan kisaran umur telur 2-3 hari. Selanjutnya akan tumbuh dan berkembang larva dimana larva ini akan bersifat kanibal. Selanjutnya larva akan menjadi pupa berada didalam tanah selama 8-12 hari. Setelah itu akan terbentuk imago menjadi ngengat dengan umur 2-3 minggu. Ngengat ini mampu terbang sampai dengan 100 km dalam satu malam saja. Gejala Serangan Gejala serangan yang ditimbulkan oleh UGJ ini adalah ditandai dengan adanya bekas gerekan dari larva atau ulat, pada permukaan atas daun atau disekitar pucuk tanaman jagung akan ditemukan serbuk kasar seperti serbuk gergaji. Apabila serangan ini dengan cara merusak bagian pucuk tanaman jagung dan daun muda, dipastikan tanaman akan segera mati. Pada kondisi yang lebih parah, serangan UGJ ini akan terjadi juga pada vase generatif dengan menyerang bagian tongkol jagung. Serangan yang tinggi oleh larva ini akan meninggalkan sisa pada bagian tulang daun dan batang tanaman jagung saja. Daun akan dikikis, dirusak atau digores, tongkol jagung ikut dimakan, titik tumbuh tanaman akan dipotong, dan akarpun akan ikut dipotong oleh UGJ ini. Teknik Pencegahan dan Pengendalian Untuk mencegah terjadinya serangan UGJ pada tanaman jagung dapat dilakukan dengan cara pertama dengan penggunaan benih yang terbebas hama dan penyakit, kedua dengan cara waktu tanam yang serempak, dan ketiga dengan menjaga keanekaragaman jenis tanaman dikebun. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara sistem tanam tumpang sari antara tanaman jagung dengan rumput gajah. Sementara untuk tanaman jagung yang terlihat sudah mulai ada serangan dapat dilakukan dengan cara petani sebagai peneliti yaitu dengan melakukan monitor imago. Imago tersebut dapat diperangkap dengan menggunakan perangkap berferomon yang saat ini sudah banyak terdapat dipasaran. Selanjutnya petani dapat mengumpulkan kelompok kelompok telur tersebut untuk selanjutnya dibuang dan dibakar. Tingkat serangan dapat diketahui dengan menggunakan metode Scouting dengan pola huruf W untuk menghitung tanaman yang terserang. Penggunaan Insektisida dapat diaplikasikan pada umur 3-4 minggu setelah tanam jika tingkat serangan mencapai 5 %, diaplikasikan pada umur 5-7 minggu setelah tanam jika tingkat serangan mencapai 10-20 % atau pada vase generatif kerusakan bunga mencapai 10 %. Insektisida berbahan aktif spinetoram, thiametoxan, lambda cyhalotrin, cyantraniliprolem dan chlorantaniliprole dapat diaplikasikan unutk pengendalian UGJ ini. Dan penggunaan biopestisida sangan dianjurkan dengan kandungan bahan bahan antara lain Metarhizium anisopliae, Metarhizium rileyi, Beauveria bassiana, Verticilium lecanii, dan Bacillus thuringiensis, NPV (Nuclear Polyhydrosis Virus). Pengendalian dengan musuh alami juga dapat dilakukan, musuh alami dai UGJ ini antara lain Trichogramma spp, cecopet, kumbang kepik, dan semut rang-rang. Untuk meminimalisir tingkat serangan pengamatan setidaknya satu minggu sekali dilakukan.