Loading...

ULAT JENGKAL: HAMA SEKUNDER YANG BISA MENJADI HAMA UTAMA UBIKAYU

ULAT JENGKAL: HAMA SEKUNDER YANG BISA MENJADI HAMA UTAMA UBIKAYU
Ubikayu merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan di Provinsi Lampung selain jagung dan padi. Penanaman ubikayu umumnya dilakukan di lahan kering dan bergiliran dengan jagung. Budidaya ubikayu digemari oleh petani di lahan kering karena pemeliharaannya yang cukup mudah dan adanya pasar produk. Kegagalan panen dan penurunan produksi umumnya akibat iklim seperti banjir dan kekeringan sedangkan akibat serangan hama hampir tidak ada. Laporan serangan gajah pada pertanaman ubikayu terutama pada wilayah lahan kering yang juga merupakan habitat gajah. Jarangnya serangan bukan berarti tanaman ubikayu bebas dari serangan hama dan penyakit. Hama utama tanaman ubikayu antara lain kutu putih (Paracoccus marginatus dan Pseudococcus jackbeardsleyi), kutu kebul (Aleurodicus dispersus) dan tungau (Tetranichus cinnabarinus). Serangan ulat sering tidak diperhatikan, namun pada kondisi tertentu serangan ulat justru dapat mengganggu pertanaman ubikayu. Salah satu kejadian di Desa Karang Rejo Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan, menjadi pembelajaran bahwa keberadaan ulat jengkal sebagai hama sekunder dapat menjadi masalah besar. KEJADIAN LUAR BIASA SERANGAN ULAT JENGKAL Beredarnya video di media sosial yang berisi serangan ulat jengkal yang menimbulkan kerusakan parah pada 0,5 ha pertanaman ubikayu ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung oleh PPL dan POPT. Berdasarkan pengecekan ke lokasi, serangan ulat meluas mencapai sekitar 4-5 ha dan kemungkinan akan semakin bertambah. Mengingat wilayah tersebut pernah mengalami penurunan produksi jagung akibat serangan ulat grayak FAW 2-3 tahun yang lalu, penyuluh setempat meneruskan informasi ke Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPH Bun) Lampung Selatan dan LO BPTP Lampung untuk Kabupaten Lampung Selatan. Berdasarkan peninjauan lapang oleh dinas/instansi terkait maka ditetapkan serangan tersebut sebagai kejadian luar biasa. Beberapa catatan penting dari pengecekan lapang sebagai berikut: Hama ulat ini menyerang tanaman ubikayu umur 5-9 bulan dan mampu menghabiskan daun ubikayu seluas 1 ha dalam waktu 2 (dua) hari dengan luas serangan sudah mencapai 5 (lima) ha. Selain daun ubikayu, hama ini menyerang rumput dan daun karet. Tidak ada laporan mengenai serangan hama ini pada tanaman jagung. Sebagai informasi tambahan, varietas yang terserang adalah varietas bayeman. Varietas ini merupakan salah satu jenis ubikayu yang dapat dikonsumsi langsung umbi dan daunnya sehingga disukai petani. PERUBAHAN STATUS HAMA Pada suatu ekosistem pertanian, beberapa serangga merusak tanaman dan menimbulkan kerugian yang cukup besar setiap tahunnya, sebagian lainnya memiliki populasi tidak begitu tinggi tetapi merugikan tanaman sedangkan beberapa beberapa jenis serangga populasinya sangat rendah dengan kerusakan tanaman kurang diperhitungkan. Berdasarkan hal tersebut, serangga perusak tanaman dikategorikan menjadi beberapa status yaitu: Major pest/Main pest/Key pest atau yang sering disebut hama penting/hama utama, adalah serangga hama yang selalu menyerang tanaman dengan intensitas serangga yang berat sehingga diperlukan pengendalian. Hama utama akan selalu menimbulkan masalah setiap tahunnya dan menimbulkan kerugian cukup besar. Biasanya ada satu atau dua species serangga hama utama di suatu daerah. Hama utama untuk tiap daerah dapat sama atau berbeda dengan daerah lain pada tanaman yang sama. Secondary pest/Potensial pest adalah hama yang pada keadaan normal menyebabkan kerusakan yang kurang berarti tetapi kemungkinan adanya perubahan ekosistem akan dapat meningkatkan populasinya sehingga intensitas serangan sangat merugikan. Status hama akan berubah menjadi hama utama. Hama ini juga sering disebut incidently pest/occasional pest yaitu hama yang menyebabkan kerusakan tanaman sangat kecil/kurang berarti tetapi sewaktu-waktu populasinya dapat meningkat dan akan menimbulkan kerusakan ekonomi pada tanaman. Migratory pest adalah hama bukan berasal dari agroekosistem setempat tetapi datang dari luar secara periodik yang mungkin menimbulkan kerusakan ekonomi. Dalam hal ini, hama ulat yang menyerang ubikayu pada awalnya termasuk secondery pest/potensial pest karena hama ini umum dijumpai di pertanaman namun populasinya sedikit dan tidak menimbulkan kerusakan berarti. Perubahan status hama ulat ini kemungkinan disebabkan adanya penyemprotan pestisida kimia pada saat ledakan hama ulat grayak pada jagung 2-3 tahun yang lalu yang memicu perkembangan hama sekunder. Selain itu pada saat ini, kondisi lingkungan yang mendukung (cuaca kering dan panas) menyebabkan intensitas serangan meningkat. Penggunaan insektisida yang tidak bijaksana menyebabkan permasalahan hama semakin kompleks, banyak musuh alami yang mati sehingga populasi serangga bertambah tinggi disamping berkembangnya resistensi, resurgensi dan munculnya hama sekunder. Resistensi terjadi kalau penggunaan satu jenis insektisida (bahan aktif sama atau kelompok senyawa yang sama) secara terus-menerus, terutama dosis yang digunakan tidak tepat (dosis sublethal). Penggunaan jenis insektisida yang sama secara terus menerus dan dosis yang tidak tepat maka individu yang ada dalam populasi tersebut akan terseleksi menjadi individu yang tahan. Serangga yang tahan akan berkembangbiak dan menghasilkan individu yang tahan sehingga populasi serangga tahan semakin banyak. Resurgensi adalah peningkatan populasi serangga yang terjadi. Setelah aplikasi insektisida, populasi serangga yang mula-mula rendah kemudian meningkat lagi dengan cepat melebihi tingkat populasi sebelum aplikasi insektisida. Penyebab utama terjadinya resurgensi adalah terbunuhnya musuh alami hama tersebut pada waktu aplikasi insektisida. Musuh alami umumnya lebih rentan terhadap insektisida dibandingkan serangga hama. Apabila populasi hama tersebut meningkat lagi pada generasi berikutnya atau datang dari tempat lain maka tidak ada lagi musuh alaminya yang mengendalikan serangga populasi serangga hama meningkat. Munculnya hama sekunder pada ekosistem pertanian disebabkan insektisida yang digunakan untuk mengendalikan hama utama, akan membunuh pula musuh alami hama utama dan musuh alami hama sekunder. Dalam kondisi demkian komposisi hama pada beberapa generasi berikutnya mungkin akan berubah (hama sekunder akan menjadi hama utama dan hama utama menjadi hama sekunder). MORFOLOGI ULAT JENGKAL Hama dalam bentuk larva (ulat) yang menyerang pertanaman ubikayu, memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut: Memiliki dua pasang proleg di dekat ujung belakangnya, bukannya lima pasang yang ditemukan di sebagian besar larva kupu-kupu atau ngengat. Memiliki tiga pasang kaki di bagian depan sedangkan di bagian tengah tubuhnya tidak ada Ulat bergerak dengan cara melingkar. Ia menambatkan dirinya dengan proleg belakang, menjulurkan tubuhnya ke depan, dan kemudian menarik ujung belakangnya ke atas untuk bertemu dengan ujung depannya. Warna tubuh sebagian besar coklat dengan garis hitam disisinya. Ciri lainnya antara lain: Larva (ulat) memakan daun tanaman ubikayu, karet dan rumput liar/pakan ternak. Saat tertentu, ulat ini berdiri tegak, menjulurkan tubuh lurus ke luar dari cabang atau batang yang mereka pegang sehingga tampak seperti ranting atau tangkai daun. Berdasarkan ciri fisik dan ciri lainnya, disimpulkan bahwa hama ulat yang menyerang termasuk pada family Geometridae namun spesiesnya belum bisa ditentukan karena masih harus diuji laboratorium terlebih dahulu. TEKNIK PENGENDALIAN Beberapa teknik pengendalian yang disarankan antara lain: Untuk tanaman yang sudah parah, karena sudah cukup umur panen maka tidak dilakukan pengendalian dan secepatnya di panen. Batang singkong disarankan untuk dimusnahkan dan pergiliran tanaman. Untuk tanaman dengan serangan ringan, disemprot dengan pestisida dengan dosis tepat sesuai anjuran. Monitoring imago dan pemasangan lampu perangkap. Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung) Sumber: Laporan peninjauan lapang outbreak hama ulat jengkal di Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan. 2022. Hill. D. S. 1997. The Economic Importance of Insects. Chapman and Hal. London. Weinheim. New York. Tokyo Melborne. Madras. 395 hlm. Idham Sakti Harahap, I.S. 1994. Seri PHT Hama Palawija. Penebar Swadaya. Jakarta Kalshoven, L.G.E. 1981. Metcalf; G. L and W.P Flint. 1967. Destructive and Useful Insect. Their Habits and Control. Tata Mc Grow Hill Publishing Company Ltd. New Delhi