Loading...

Upaya Penanganan Pasca Panen Untuk Mempertahankan Produksi Dan Kualitas Jagung

Upaya Penanganan Pasca Panen  Untuk Mempertahankan Produksi Dan Kualitas Jagung
UPAYA PENANGANAN PASCA PANEN UNTUK MEMPERTAHANKAN PRODUKSI DAN KUALITAS JAGUNG Peningkatan produksi jagung melalui perbaikan teknologi budidaya dapat dikatakan cukup berhasil. Keberhasilan peningkatan produksi jagung tersebut perlu diikuti dengan penanganan pasca panen yang baik agar dapat menekan kehilangan hasil dan mempertahankan mutu jagung. Penanganan pasca panen jagung adalah semua kegiatan yang dilakukan sejak jagung dipanen sampai menghasilkan produk antara (intermediate product) yang siap dipasarkan. Dengan demikian, penanganna pasca panen jagung meliputi serangkaian kegiatan yaitu : pemanenan, pengupasan, pengeringan jagung tongkol, pemipilan, pengemasan dan pengolahan jagung serta penyimpanan. Permasalahan pasca panen pada jagung cukup banyak, jika tidak ditangani aakan menimbulkan kerusakan dan kehilangan hasil. Permasalahan yang sering terjadi adalah : Susut Kuantitas dan Mutu Susut kuantitas terjadi akibat tertinggal di lapangan waktu panen, tercecer pada saat pengangkutan atau tidak terpipil. Sedangkan penurunan mutu sebagai akibat butir rusak, butir berkecambah, atau biji berkeriput selama proses pengeringan, pemipilan, pengangkutan atau penyimpanan. Keamanan Pangan Penundaan pengeringan paling besar kontribusinya dalam meningkatkan infeksi cendawan yang menghasilkan mikotoksin jenis aflatoksin yang bersifat mutagen dan diduga dapat menyebabkan kanker pada manusia. Toksin yang dikeluarkan oleh cendawan tersebut juga berbahaya bagi kesehatan ternak. Ketersediaan Sarana Prosesing Permasalahan lain dalam penanganan pasca panen jagung ditingkat petani adalah tidak tersedianya sarana prosesing yang memadai, padahal petani pada umumnya memanen jagung pada musim hujan dengan kadar air 35%. Oleh karena itu, diperlukan inovasi teknologi yang tepat baik daris segi peralatan, maupun sosial dan ekonomi. Cara-cara penanganan pasca panen yang berdasarkan prinsip-prinsip Good Handling Practices (GHP) perlu disampaikan pada petani sehingga diharapkan : Menekan tingkat kerusakan atau kehilangan hasil jagung Menjaga mutu jagung sesuai persyaratan Standar Mutu Jagung Memproduksi jagung yang terjamin kuantitas, kualitas maupun kontinuitasnya Untuk dapat tercapainya hal-hal tersebut kiranya perlu diperhatikan penanganan pasca panen sebagai berikut : Penentuan Saat Panen Jagung Panen dan pasca panen jagung bergantung tujuandan pemanfaatannya. Untuk konsumsi muda dipanen sekitar umur 68-70 hari. Sedangkan untuk pipilan kering dipanen pada umur 80-100 HST. Pemanenan Pemanenan jagung harus ditangani dengan baik, jagung dapat dipanen dalam bentuk tongkol tanpa kelobot maupun dalam bentuk tongkol berkelobot. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pemanenan jagung adalah : umur panen Waktu panen menentukan mutu biji jagung. Pemanenan terlalu awal menyebabkan banyaknya butir muda sehingga kualitasdan daya simpan rendah. Sebaliknya terlalu lambat menyebabkan penurunan kualitas, peningkatan kehilangan hasil akibat cuaca dan serangan hama dan penyakit di lapangan. Umur panen yang tepat adalah pada saat tanaman jagung berumur 7-8 minggu keluar bunga dan kadar air jagung 17-20% yang diukur dengan alat pengukur kadar air. Sedangkan untuk penanpakan fisik adalah umur tanaman mencapai maksimum yakni setelah pengisian biji optimal, daun menguning dan sebagian mengering berwarna kecoklatan atau putih kekuningan, kelobot sudah kering dan bila dibuka biji terlihat mengkilap dan keras dan bila ditekan dengan kuku tidak membekas pada biji. Cara panen. Pemanenan jagung dilakukan dengan cara sebagai berikut : pada kadar air tinggi (30-40%) cara panen dilakukan dengan menyabit batang jagung setinggi pinggang. Kemudian jagung dipetik dan dikupas kelobotnya serta dimasukkan dalam keranjang. Sedangkan pada kadar air rendah (17-20%) cara panen dilakukan dengan memetik dan mengupas kelobot jagung pada tanaman tanpa menyabit batang jagung terlebih dahulu. Pengeringan Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air sampai batas tertentu. Pengeringan diperlukan sebelum pemipilan untuk menghindari terjadinya biji pecah. Cara pengeringan jagung yang umum dilakukan petani adalah dengan bantuan sinar matahari atau penjemuran langsung di lapangan. Pengeringan jagung dapat dilakukan dengan 2 (dua) tahap yaitu pengeringan dalam bentuk tongkol tanpa kelobot hingga kadar air 18% dan dalam bentuk pipilan hingga kadar air 14%. Beberapa fasilitas penjemuran yang ada ditingkat petani adalah tanpa alas jemur (jagung langsung dikeringkan di atas tanah atau di tepi aspal), Anyaman bambu, Terpal dan Lantai jemur. Selain dengan cara penjemuran, pengeringan jagung pipilan dapat dilakukan juga dengan mesin pengering. Pemipilan Pemipilan jagung merupakan proses pemisahan biji dari tongkolnya. Pemipilan biji jagung berpengaruh terhadap butir rusak, kotoran dan membantu mempercepat proses pengeringan. Pemipilan jagung bisa dilakukan secara manual, yaitu dengan cara memipil biji satu per satu dari tongkolnya. Cara ini lebih amandari kerusakan biji namun membutuhkan proses yang cukup lama dan tenaga kerja yang cukup banyak sehingga berpengaruh pada biaya produksi yang dikeluarkan. Selain manual, pemipilan juga dapat dilakukan secara mekanis, yaitu dengan mesin pemipil jagung. Penyimpanan Jagung Penyimpanan merupakan tindakan untuk mempertahankan jagung agar tetap dalam keadaan baik dalam jangka waktu tertentu. Kesalahan dalam melakukan penyimpanan jagung biji dapat mengakibatkan terjadinya respirasi, tumbuhnya jamur dan serangan serangga, binatang mengerat dan kutu yang dapat menurunkan mutu jagung. Jagung dapat disimpan dalam bentuk tongkol berkelobot, tongkol tanpa kelobot atau dalam bentuk biji pipilan. Penyimpanan jagung biji dapat dilakukan dengan cara : Cara curah, yaitu biji jagung yang sudah kering dicurahkan pada suatu tempat yang dianggap aman dari gangguan hama maupun cuaca. Penyimpanan jagung biji dengan cara curah dapat dilakukan dengan menggunakan silo, yaitu tempat menyimpan jagung dengan kapasitas yang sangat besar. Menggunakan kemasan /wadah seperti karung goni, karung plastik, dll. Ditulis oleh Afriani Wahibu, STP (PP Muda Kec. Matuari) Sumber : Direktorat Jenderal Pengolahan dan Penanganan Pasca panen, Pedoman Penanganan Pasca panen Tanaman Pangan, Jakarta : 2006