UPAYA PENGENDALIAN PENYAKIT BLAST PADA PADI SAWAHOLEH : NI KADEK SINTYA DEWI, SP Dewasa ini hama dan penyakit tanaman padi menjadi salah satu faktor penurunan hasil komoditas padi, serangan OPT berkembang sejak dari persemaian hingga panen. Salah satu penyakit yang banyak berkembang pada pertanaman padi yaitu penyakit blas. Penyakit blas pada tanaman padi pada umumnya menyerang pada batang, daun, malai dan gabah padi. Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea, yang menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian hingga menjelang panen. Pada fase vegetatif tanaman padi, P. grisea menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase generatif tanaman padi tanaman padi, gejala penyakit blas menyebar pada tangkai atau leher malai yang disebut blas leher. Infeksi blas leher dapat berkembang parah mencapai bagian gabah sehingga jamur P. grisea dapat menginduksi gabah sebagai patogen tular benih (seed borne). Pada lingkungan yang kondusif, blas daun berkembang pesat dan kadang-kadang dapat menyebabkan kematian tanaman. Penyakit blas leher dapat menurunkan hasil secara nyata karena menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa. Gangguan penyakit blas leher di daerah endemis sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso. Jamur P. grisea mempunyai banyak ras, yang mudah berubah dan membentuk ras baru dengan cepat. Pada kondisi lingkungan yang mendukung, satu siklus penyakit blas membutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu, yaitu dimulai ketika spora jamur menginfeksi dan menghasilkan suatu bercak pada tanaman padi dan berakhir ketika jamur bersporulasi (menghasilkan spora baru) yang siap disebarkan ke udara. Selanjutnya dari satu bercak dapat menghasilkan ratusan sampai ribuan spora dalam satu malam dan dapat terus menghasilkan spora selama lebih dari 20 hari. Penyakit blas lebih menyukai kondisi periode embun yang panjang, kelembaban yang tinggi dan temperatur malam hari sekitar 22–25 OC. Faktor lain yang mendukung perkembangan penyakit blas adalah pemakaian pupuk nitrogen yang berlebihan, tanah dalam kondisi aerobik dan stres kekeringan. Pengaruh nitrogen terhadap sel epidermis menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding sel dan menurunnya kadar unsur silika (Si), sehingga jamur lebih mudah melakukan penetrasi. Pemberian Si cenderung membantu kekerasan dan ketegakan daun. Sumber inokulum primer penyakit blas di lapang adalah jerami. Di daerah tropis sumber inokulum selalu ada spanjang tahun karena adanya spora di udara dan tanaman inang alternatif selain padi Kiat-Kiat Pengendalian Penyakit Blas.1. Gunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah setempat.2. Gunakan benih sehat.3. Hindarkan penggunaan pupuk nitrogen diatas dosis anjuran.4. Hindarkan tanam padi dengan varietas yang sama terus menerus sepanjang tahun.5. Sanitasi lingkungan harus intensif karena inang alternatif patogen dapat berupa rerumputan.6. Hindari tanam padi terlambat dari tanaman petani di sekitarnya.7. Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 30 hari setelah sebar.8. Penyemprotan fungisida sistemik sebaiknya 2 kali pada saat stadia tanaman anakan maksimum dan awal berbunga untuk mencegah penyakit blas daun dan blas leher terutama di daerah endemik.9. Hindarkan jarak tanam rapat (sebar langsung).10. Pemakaian kompos sebagai sumber bahan organik.Sumber : http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/240-penyakit-blas-pada-tanaman-padi-dan-cara-pengendaliannya