Loading...

UPSUS PAJALE

UPSUS PAJALE
Upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan di Kecamatan Cisolok terbilang cukup berat untuk saat ini. Berbagai kegiatan yang menunjang usaha tersebut telah, sedang dan akan dilaksanakan oleh beberapa kelompoktani dengan berbagai fasilitas bantuan dari pemerintah, baik itu Sarana Produksi, Perbaikan Jaringan Irigasi maupun Jalan Pertanian. Masalah pangan lebih diutamakan karena hal ini menyangkut urusan perut penduduk. Dan komoditas ini juga rawan ditunggangi kepentingan politik. Dalam menunjang kegiatan ini pemerintah membuka kerjasama antara kementerian pertanian dengan pihak TNI yang bertugas mengawal dan mendampingi kegiatan di kelompoktani. Alasan lain urusan pangan lebih diutamakan adalah karena jumlah konsumen pangan (beras) terus meningkat sedangkan lahan penyedia pangan (sawah) menyempit. Kebutuhan konsumsi beras penduduk Indonesia sebanyak 102 kg/kapita/tahun merupakan yang tertinggi di Asia bahkan didunia yang hanya 60 kg/kapita/tahun. Bandingkan dengan negara tetangga seperti Korea yang mengkonsumsi beras 40 kg/kapita/tahun, jepang 50 kg, Thailand 70 kg dan Malaysia 80 kg/kapita/tahun. Kedaulatan pangan merupakan harga mati sebagai cita-cita dalam rangka mewujudkan mimpi kemandirian bangsa dan negara dalam bidang pangan. Dinamika pemenuhan pangan pokok beras di Kecamatan Cisolok menjadi sangat strategis, mengingat hambatan dan problema menghadang guna mewujudkannya. Data di lapangan menunjukkan beberapa lokasi irigasi dalam kondisi rusak, hampir semua bendung tidak optimal menyediakan suplai air karena sedimentasi yang tidak terkendali. Kondisi ini bertambah berat karena pemenuhan kebutuhan benih unggul dan pupuk sering terkendala dengan masalah distribusi sehingga tidak memenuhi kaidah tepat jumlah, tepat jenis (sesuai ajuan) dan tepat waktu (sering terlambat). Belum lagi adanya alih fungsi lahan sawah menjadi perumahan/villa/penginapan terutama sawah-sawah yang berada di jalan protokol dan sekitar tempat wisata.Sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat, pemerintah telah menetapkan Pencapaian Swasembada Pangan Berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan upaya peningkatan produksi yang luar biasa. Sehingga dibutuhkan perhatian berbagai pihak. Upaya peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai dengan dana dalam jumlah besar dari Anggaran Pembangunan Belanja Negara terus digulirkan pemerintah pusat. Dengan dana tersebut pemerintah memberikan sejumlah target penambahan produksi padi, jagung dan kedelai bagi setiap daerah. Tentu sangat banyak faktor yang dapat mempengaruhi produksi pangan nasional, salah satu di antaranya adalah pendampingan dan pengawalan. Pengawalan dan pendampingan menjadi unsur penting dalam menggerakkan para petani untuk dapat menyiapkan teknologi. Pengawalan dan pendampingan ini, tidak hanya dilakukan oleh para penyuluh dan Babinsa saja, melainkan mahasiswa dan penyuluh swadaya (petani) pun dilibatkan. Pengawal dan pendamping ini merupakan salah satu penggerak bagi para petani sebagai pelaku utama karena dapat berperan sebagai komunikator, fasilitator, advisor, motivator, edukator, organisator dan dinamisator. Kegiatan pengawalan dan pendampingan inilah yang selanjutnya disebut sebagai kegiatan UPSUS (Upaya Khusus) peningkatan produksi tiga komoditas padi, jagung, dan kedelai (Pajale) dalam upaya pencapaian swasembada berkelanjutan.Penyuluh pertanian berperan penting dalam meningkatkan kemampuan kelembagaan petani (Poktan, Gapoktan, P3A, dan GP3A) dan kelembagaan ekonomi petani. Mengembangkan jejaring dan kemitraan dengan pelaku usaha, dan melakukan identifikasi pendataan serta pelaporan teknis pelaksanaan kegiatan. Sementara tugas Babinsa adalah menggerakkan dan memotivasi petani untuk tanam serentak, perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi, gerakan pengendalian OPT, dan panen. Mereka pun harus mendukung pula dalam keadaan tertentu. Misalnya penyaluran benih, pupuk, dan alsintan tepat sasaran serta melaporkan infrastruktur jaringan irigasi. Namun yang perlu ditegaskan adalah bahwa kehadiran Babinsa bukan untuk mengambil peran penyuluh, tetapi lebih ke arah sinergi langkah dan gerak dengan fungsi dan perannya masing-masing guna mendinamisasi pembangunan pertanian di pedesaan. Tugas mahasiswa adalah melaksanakan pengawalan dan pendampingan pelaksanaan kegiatan di lapangan. Selain itu mahasiswa juga berperan memfasilitasi introduksi teknologi dari Perguruan Tinggi, mengembangkan jejaring dan kemitraan dengan pelaku usaha serta identifikasi pendataan dan pelaporan teknis pelaksanaan kegiatan.Akhirnya terlepas dari program tersebut, petanilah yang menjadi penentu akhir terwujudnya target peningkatan produksi pangan negeri ini. Keterlibatan semua pihak di sini, yakni pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, TNI, dan akademisi tetap tidak bisa melupakan peran penting para petani. Penulis : Lida ReslidiawatiSumber : AGRONOMERS, Kridanto Priyo Digdo. Pembaruan : Rabu, Mei 20, 2015 www. Neraca.co.id tertanggal 27 Maret 2013