Padi bukan merupakan tanaman air, namun dalam budidaya tanaman padi, air merupakan unsur yang sangat menunjang keberhasilan budidaya, selain hara udara dan sinar matahari. Kebutuhan air pada tanaman padi bisa dikatakan sangat banyak dibandingkan dengan palawija. Upaya pemanfaatan air dari berbagai sumber terutama air irigasi gravitasi pada petak usahatani padi sawah agar terjamin produktivitas, efisiensi dan produksi yang meningkat secara berkelanjutan. Persiapan lahan dan selama pertumbuhan tanaman bahkan fase menjelang panen. Dapat dilakukan dengan cara perbaikan atau penyesuaian teknik budidaya dengan potensi sumber daya air setempat. Melalui perbaikan metoda pengairan dan lebih spesifik yaitu melalui inovasi cara pemberian air. Prinsip dari konsep hemat air Ketersedian air semakin terbatas Pasokan air baik dari curah hujan dan irigasi tidak menentu Kemarau panjang akibat el nino (anomaly iklim) Intensitas tanaman masih rendah Teknik hemat air yang mudah dilaksanakan Pemilihan varietas yang berumur genjah, Kalender tanam dalam satu hamparan tersier yang seragam. Waktu dan cara pengolahan tanah yang sesuai dengan jadwal pemberian air. Pengaturan penggenangan menurut fase pertumbuhan tanaman baik tingginya dan durasinya (kondisi pasokan air normal). Penerapan pergiliran air (kondisi pasokan air dibawah normal). Pemeliharaan pematang termasuk kerapatan pematang dalam luasan tertentu. Drainase permukaan terutama pada musim hujan. Teknik hemat air mempunyai sasaran : Produktivitas air perbandingan antara hasil gabah dan konsumsi air total) yang lebih tinggi dari pada produktivitas air dengan cara pemberian air secara kontinyu. Strategi dalam perbaikan produktivitas air : Hasil gabah meningkat dengan konsumsi air total tetap. Hasil gabah meningkat dengan konsumsi air total berkurang. Secara teknis dapat dilakukan dengan memasang sebuah selinder alas terbuka dangan dinding berlubang (perched tube) pada jarak 50 – 75 cm dari pematang. Selinder tersebut dapat terbuat dari paralon tebal 2 mm, panjang 35 cm dan diameter antara 20 cm atau terbuat dari bahan metal tahan karat. Banyak alat yang diperlukan yaitu untuk lahan datar dibutuhkan hanya satu alat untuk luasan petakan usaha tani 0.25 hektar dan diperlukan dua alat untuk luas lahan yan sama namun dengan kemiringan kurang dari 5%. Cara pengamatannya Waktu pengamatan yaitu pagi hari sekali saja. Untuk mengamati perubahan tinggi air dalam selinder dibutuhkan mistar 30 cm, dan ajir bambu kecil. Tempat pengukuran tetap tidak boleh berubah posisi. Ajir bambu dimasukkan ke dalam selinder, selanjutnya diangkat dan bagian yang basah di ukur dengan mistar. Dengan standard titik nol pada bagian atas selinder maka dapat dihitung besarnya perubahan air tiap hari dalam satuan cm. Bila posisi air di atas permukaan tanah bernilai positif dan negative bila air berada dibawah permukaan tanah. Waktu pemberian air dilakukan setelah dalam selinder turun sampai 15 cm dari permukaan tanah dengan cara pemberian air di petakan sawah sampai tinggi genangan air 5 cm dari permukaan tanah. Bila terjadi hujan dan mengakibatkan tinggi air dalam selinder lebih dari 5 cm, maka caranya dilakukan pembuangan air (drainase) tidak boleh air dalam selinder tersebut lansung dikuras. Cara pengelolaan Saat tanam sampai umur tanaman 7 hari tanah cukup digenangi air 1 – 2 cm. Sampai umur tanaman 60 hari dilakukan pemberian air atau drainase permukaan (terutama musim hujan) yaitu mengikuti pembacaan tinggi permukaan air dalam selinder, pemberian air dilakukan bila air dalam selinder turun mencapai 15 cm dari permukaan tanah. Periode 60 – 75 HST (periode kritis air tanaman) tanah digenangi 2 – 5 cm (tanaman tidak boleh mengalami cekaman kekurangan air). 75 HST – 10 hari menjelang panen cara pemberian air kembali seperti semula. 10 hari menjelang panen, tanaman tidak perlu lagi diari. Bahan Tulisan: dari berbagai sumber