Tanaman kedelai merupakan salah satu kelompok tanaman pangan terpenting setelah padi dan jagung. Kedelai merupakan komoditas palawija yang kaya akan protein nabati, suatu zat yang sangat diperlukan bagi kesehatan juga relatif murah dibandingkan sumber protein hewani. Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan baku industri olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai dan sebagainya. Namun produksi kedelai cenderung menurun seiring dengan menurunnya luas tanam. Disisi lain, Kementerian Pertanian mentargetkan Indonesia bisa swasembada kedelai pada tahun 2018 dengan target produksi 2,2 juta ton. Untuk mencapai produksi tersebut, pemerintah mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki dengan mengutamakan penambahan areal tanam baru (PATB), salah satunya dengan memanfaatkan lahan dibawah tegakan pohon perkebunan/ lahan tahunan (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2018). Sampai saat ini produktivitas kedelai masih rendah hanya 15,68 ku/ha (Badan Pusat Statistik, 2018), sedangkan jika menerapkan teknologi budidaya spesifik lokasi dapat menghasilkan produktivitas 1,7 “ 3,2 t/ha tergantung lokasi dan teknologi yang diterapkan, salah satunya penggunaan varietas unggul baru. Dalam rangka mendukung program PATB, penggunaan varietas unggul yang cocok yang tahan naungan untuk meningkatkan produktivitas kedelai sangatlah penting. Badan Litbang Pertanian telah melepas varietas unggul kedelai tahan naungan dengan potensi produksi 2,8 “ 2,9 t/ha (Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2016). Varietas unggul tersebut adalah Dena I dan Dena II yang toleran naungan hingga 50%, sesuai untuk dikembangkan di bawah tegakan tanaman perkebunan dan lingkungan agroforestri yang tanamannya masih muda ( Varietas Unggul Kedelai Dena I Tipe Tumbuh : DeterminateUmur Berbunga : ± 33 hariUmur Masak : ± 78 hariWarna hipokotil : UnguWarna epikotil : HijauWarna Daun : HijauWarna Bunga UnguWarna Kulit Polong : Coklat kekuninganBentuk Daun : OvalUkuran Daun : SedangPercabangan : 1 “ 3 cabang / tanamanJumlah polong pertanaman : ± 29 hariTinggi tanaman : 59,0 cmKerebahan : Agak tahan rebahPecah Polong : Tidak Mudah pecahUkuran biji : BesarBobot 100 biji : ± 14,3 gramBentuk Biji : LonjongPotensi hasil : ± 2,9 t/haRata-rata hasil : ± 1,7 t/haKandungan Protein : ± 36,7 % BKKandungan lemak : ± 18,8 % BKKetahanan terhadap hama dan penyakit : Tahan terhadap penyakit karat daun (Phakopsora pachirhyzi Syd.), rentan hama pengisap polong (Riptortus linearis) dan hama ulat grayak (Spodoptera litura F.Keterangan : Toleran hingga naungan 50% Varietas Unggul Kedelai Dena IITipe Tumbuh : DeterminateUmur Berbunga : ± 35 hariUmur Masak : ± 81 hariWarna hipokotil : UnguWarna epikotil : UnguWarna Daun : HijauWarna Bunga : UnguWarna Kulit Polong : Coklat kekuninganBentuk Daun : SegitigaUkuran Daun : SedangPercabangan : 1 “ 3 cabang / tanamanJumlah polong pertanaman : ± 27 hariTinggi tanaman : 40,0 cmKerebahan : Tahan rebahPecah Polong : Tidak Mudah pecahUkuran biji : SedangBobot 100 biji : ± 13 gramBentuk Biji : BulatPotensi hasil : ± 2,8 t/haRata-rata hasil : ± 1,3 t/haKandungan Protein : ± 36,5 % BKKandungan lemak : ± 18,2 % BKKetahanan terhadap hama dan penyakit : Tahan terhadap penyakit karat daun (Phakopsora pachirhyzi Syd.), tahan hama pengisap polong (Riptortus linearis) dan agak tahan ulat grayak (Spodoptera litura F.Keterangan : Sangat toleran hingga naungan 50% (Ir. Sari Nurita, Penyuluh Pertanian BPTP Kalimantan Barat) Sumber :Badan Pusat Statistik Indonesia, 2018. Statistik Indonesia 2018. Jakarta. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2016. Deskripsi Varietas Unggul Kedelai 1918 “ 2016. Malang. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2018. Petunjuk Teknis Pengelolaan dan Penyaluran bantuan Pemerintah Lingkup Direktorat Jenderal tanaman pangan Tahun Anggaran 2018. Jakarta.