Lahan rawa lebak mempunyai ciri yang sangat khas, yaitu pada musim hujan tergenang air dalam kurun waktu yang cukup lama. Air genangan tersebut bukan merupakan limpasan air pasang, tetapi berasal dari limpasan air permukaan yang terakumulasi di wilayah tersebut karena topografinya yang lebih rendah dan drainasenya buruk. Kondisi genangan air dipengaruhi oleh curah hujan, baik di daerah tersebut maupun wilayah sekitarnya serta daerah hulu. Pengembangan lahan rawa lebak untuk usaha pertanian memerlukan pengelolaan lahan dan air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayah agar diperoleh hasil yang optimal. Selain itu, diperlukan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kelembagan serta prasarana pendukung yang memadai. Keberhasilan pengembangan lahan rawa lebak untuk area pertanian sangat bergantung pada teknologi yang diterapkan dan kondisi fisik lingkungan yang spesifik lokasi, sehingga penanaman padi memungkinkan dilakukan. Padi termasuk tanaman yang mempunyai spektrum ekologi yang relatif luas dan dibudidayakan di berbagai tipe agroekosistem, termasuk lahan rawa lebak. Kondisi lahan yang tergenang seperti lahan rawa lebak dan ditambah sumber air dari hujan menyebabkan tanaman padi pada lahan rawa lebak dapat tumbuh baik. Dari segi ketersediaan air, kondisi seperti ini mendekati lahan irigasi yang airnya tersedia sepanjang tahun. Oleh karena itu penggunaan varietas padi sawah masih memungkinkan untuk mendapatkan produktivitas yang relatif tinggi. Salah satu inovasi teknologi yang diandalkan dalam peningkatan produktivitas padi adalah varietas unggul berdaya hasil tinggi. Varietas unggul merupakan teknologi yang dominan peranannya dalam peningkatan produksi padi dunia. Sumbangan peningkatan produktivitas Varietas unggul baru terhadap produksi padi nasional cukup besar, sekitar 56%. IRRI dalam Revolusi Hijaunya, salah satu strategi yang dikembangkan adalah penggunaan varietas unggul modern yang memiliki daun tegak dan anakan banyak, sehingga memiliki kemampuan intersepsi cahaya yang lebih besar dan laju fotosintesis yang lebih baik. Hal ini membuat tanaman padi mampu menyediakan energi yang cukup untuk tumbuh dan menghasilkan gabah yang lebih baik. Saat ini beragamnya varietas yang telah dilepas dan sangat berguna bagi pertanian. Varietas-varietas yang telah dirilis menjadi sumberdaya genetik yang akan menjadi pilihan bagi petani untuk menentukan varietas yang cocok untuk wilayahnya baik kondisi lingkungan abiotik maupun biotiknya. Ketersediaan varietas-varietas yang dapat menjadi pilihan, memudahkan petani untuk melakukan pergiliran varietas. Semakin banyak varietas yang berdaya hasil tinggi dan adaptasinya luas dapat memudahkan diseminasi varietas terutama untuk menunjang program pemerintah. Varietas padi Inpari 32 memiliki karakter daun tegak dengan potensi hasil 8,53 t/ha GKG. Pada lahan sawah irigasi, varietas Inpari 32 biasa mencapai produktivitas tinggi sekitar 7 t/ha GKG. Hasil pengkajian yang dilakukan Hidayanto dan Yosita (2019) yang membandingkan produktivitas padi varietas Inpago 5, Inpago 8, Ciherang, Inpari 30, dan Inpari 32; yang masing-masing ditanam dengan sistem tanam jajar legowo [(25 x 12,5) x 50 cm] dan pupuk Urea 200 kg + NPK Pelangi 200 kg per hektar; Jumlah anakan produktif masing-masing yaitu: 12,00 : 12,50 : 15,40 : 15,30 : 15,70 anakan. Bobot 1.000 butir masing-masing yaitu: 17,50 : 18,50 : 20,80 : 21,10 : 23,30 gram Produktivitas masing-masing yaitu: 3,90 : 4,10 : 5,00 : 5,80 : 7,60 t/ha. (Ahmad Damiri). Sumber: Muhamad Hidayanto dan Yossita Fiana. 2019. Kajian Varietas Unggul Baru Untuk Meningkatkan Produktivitas Padi Di Kabupaten Malinau. Prosiding Seminar Nasional Pertanian 2019. Hal 418 – 426.