Peluang untuk meningkatkan produksi padi nasional hanya dapat ditempuh dengan menggunakan Padi Tipe Baru (PTB) dan padi hibrida sebab jika menggunakan varietas unggul biasa tingkat produktivitasnya sudah "leveling off". Badan Litbang Pertanian juga merekayasa bibit padi yang kaya gizi. Apa saja? Dengan memiliki kedua jenis varietas tersebut maka produksi padi nasional dapat ditingkatkan antara 15 - 20 persen dari varietas padi yang ada", kata Bambang Suprihatno APU seorang pemulia dari Balitpa. Padi hibrida ini diharapkan bisa meningkatkan produksi sekitar 15 - 20 persen dan padi tipe baru juga didesain dapat meningkatkan produksi sampai 20 persen. Namun, kata dia, di antara kedua varietas ini berbeda dalam hal memproduksi benihnya, di mana padi hibrida benihnya sulit diproduksi di samping harganya yang mahal, sementara padi tipe baru lebih mudah diproduksi benihnya. Dikatakan, padi tipe baru diperoleh dengan menyilangkan padi Indica dan japonica tropis sehingga terjadilah peningkatan heterosisnya. Antara padi hibrida dan padi tipe baru sating kejar mengejar satu sama lain dalam hat kemampuan produktivitas dan ketahanannya terhadap OPT Kedepan, peningkatan produksi padi nasional akan lebih difokuskan dengan menggunakan padi hibrida dan padi tipe baru. Ia metihat tantangan baru di dunia penelitian padi nasional yakni tuntutan diproduksinya varietas padi yang memiliki kadar zat besi, untuk pengobatan penderita diabet. Contohnya IR 65 yang memiliki kadar besi cukup tinggi sehingga bisa dimanfaatkan untuk atasi penyakit anemia. Menurut dia, penelitian terhadap vitamin A pada beras belum dimulai tapi di IRRI Filipina sudah dimulai, bahkan belakangan ini Indonesia mengimpor beras dari Tajmahal India untuk mengobati penyakit diabet. Di Indonesia juga sudah berhasil diidentifikasi padi yang memiliki kadar gizi sama seperti halnya beras impor dari India yakni varietas IR 36. Varietas IR 36 ini sudah lama ditinggalkan petani karena rasa nasinya kurang enak, dan petani lebih cenderung menanam varietas padi yang rasa nasinya tebih enak seperti IR 64, Ciherang dan lain-lain. Menurut dia, penelitian terhadap beras mengandung kadar besi tinggi dimulai tahun 2000, dan persoalan yang sedang diteliti yakni menghasilkan padi yang mengandung kadar besi tinggi tapi rasa nasinya enak. Menurut Siti Dewi Indrasari seorang Peneliti Balitpa, kadar beras merah unggul dalam hat kandungan vitamin B kompleks seperti B1, B2, B3, B6 dan Asam Pantotenat. Karena itu ke depan penelitian akan lebih fokus lagi ke mutu gizi beras merah tersebut, dan tahun ini penelitian masih difokuskan ke vitamin B1, B2, B3 dan B6 dan penelitian terhadap kadar Anthosianin akan diteliti lebih lanjut. Penjajagan penelitian terhadap beras merah ini terus dilakukan seperti di Pustitbangtan misalnya BP (Balai Padi) 1924 rasanya enak, bahkan dalam waktu dekat akan segera dilepas varietas beras merah ini dan sekarang ini masih dalam taraf diusulkan ke Menteri Pertanian seperti BP 1924, BP 1804. Dikatakan, pihaknya juga sedang meneliti beras untuk pengobatan penderita diabetes dengan bekerjasama Balai Pasca Panen, dimana beras ini kadar glikomiknya rendah sehingga dengan mengkonsumsi beras ini maka kadar gula dalam tubuh tidak metonjak. Dibuktikan bahwa indeks glikemik beras jenis tersebut ternyata sama dengan beras IR 36. Sebagai contohnya beras Dobalkoni yang diimpor dari India dengan harga sekitar Rp 90 ribu per kilogram, sementara IR 36 harga tidak berbeda dengan harga beras di Indonesia pada umumnya. Penelitian terhadap beras berkadar besi (Fe) sudah dilakukan dan awalnya bekerjasa dengan IRRI, dan Filipina sudah melepas varietas padi yang kaya kadar besi yakni Maligaya Spesial 13 dan bahkan Negara itu mendistribusikannya ke Bangladesh, Vietnam, Indonesia dan Flipina sendiri. Sementara di Indonesia padi varietas itu dimanfaatkan sebagai tetua betina yang disilangkan dengan varietas unggul seperti Fatmawati, Ciherang dan lain-lain. Dari hasil awal seleksi itu, kata dia, ada dua varietas padi yang cukup tinggi kadar besinya dibandingkan Ciherang. Jika Ciherang dalam bentuk beras pecah kulit kadar besinya 11 ppm (part per million), maka kedua varietas bisa mencapai 16- 17 ppm, sehingga dikatakan cukup tinggi kadar besinya. Namun demikian, penyilangan masih dilakukan sampai diharapkan lebih dari 20 ppm kadar besinya seperti varietas aslinya di Filipina. Sumber : SINAR TANI Edisi 10-16 Mei 2006