Pendahuluan Lahan sawah tadah hujan adalah lahan sawah yang sumber air pengairannya tergantung atau berasal dari curahan hujan tanpa adanya bangunan irigasi permanen. Lahan sawah tadah hujan umumnya tidak subur (miskin hara), sering mengalami kekeringan, dan petaninya tidak memiliki modal yang cukup, sehingga agroekosistem ini disebut juga sebagai daerah miskin sumber daya. Tingkat produktivitas pertanian tadah hujan secara umum rendah dikarenakan kondisi tanah yang terdegredasi, tingginya evaporasi, kekeringan dan minimnya manajemen air. Namun usaha pertanian di lahan sawah tadah hujan memiliki potensi untuk lebih produktif dengan mengelola air hujan dan kelembaban tanah lebih efektif. Secara umum masalah yang dihadapi pada lahan sawah tadah hujan adalah ketidakpastian intensitas dan distribusi hujan, kesuburan tanah rendah, gulma, serangan hama dan penyakit, kepemilikan lahan yang sempit, kualitas produk pertanian rendah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan indeks Pertanaman (IP) melalui penggunaan varietas unggul baru yang cocok d lahan tadah hujan. Badan Litbang Pertanian telah melepas beberapa varietas unggul baru untuk lahan tadah hujan yang memiliki potensi produksi tinggi, toleran kekeringan dan tahan penyakit blas antara lain Inpari 38 Tadah hujan Agritan , Inpari 39 Tadah Hujan Agritan, Inpari 40 Tadah Hujan Agritan dan Inpari 46 GSR Tadah Hujan (TDH). Inpari 38 Tadah Hujan Agritan Inpari 38 Tadah Hujan Agritan memiliki potensi hasil 8,16 t/ha GKG dengan rata-rata hasil ± 5,71 t/ha GKG, berumur genjah ±115 hari setelah semai (HSS serta agak toleran kekeringan. Varietas ini memiliki bentuk tanaman dan daun bendera tegak, bentuk gabah medium berbulu pendek dengan tektur nasi pulen. Inpari 38 ini mempunyai ketahanan terhadapa penyakit blas 073, agak tahan blas ras 033,133 dan 173, agak tahan hawar daun bakteri (HDB) strain III, tetapi agak rentan wereng batang coklat (WBC) dan rentan virus Tungro. Mutu beras pecah kulit Inpari 38 cukup tinggi yaitu 78.35 % dan beras kepala 68.79 %. Inpari 39 Tadah Hujan Agritan Inpari 39 Tadah Hujan Agritan memiliki potensi hasil 8,45 t/ha GKG dengan rata-rata hasil ± 5,89 t/ha GKG, berumur genjah ±115 HSS serta agak toleran kekeringan. Varietas ini memiliki bentuk tanaman dan daun bendera tegak, bentuk gabah medium dengan tektur nasi pulen. Inpari 39 ini mempunyai ketahanan terhadapa penyakit blas 073, 033,133 dan 173, agak HDB strain III, tetapi agak rentan WBC dan rentan virus Tungro. Rendemen beras pecah kulit varietas ini adalah 79.37 % dan beras giling 69.38 %. Inpari 40 Tadah Hujan Agritan Inpari 40 Tadah Hujan memiliki rata-rata hasil gabah kering giling 5.79 t/ha dengan potensi hasil 9,60 t/ha, berumur genjah (±116 hari HSS), dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas ini tahan terhadap penyakit blas 073 dan agak tahan penyakit HDB strain III, akan tetapi agak rentan terhadap WBC. Varietas ini juga memiliki mutu beras cukup baik, yaitu rendemen beras pecah kulit 77.8 % dan beras giling 68,3 %. Inpari 46 GSR TDH Inpari 46 GSR TDH memiliki potensi hasil 9,08 t/ha GKG dengan rata-rata hasil ± 6,74 t/ha GKG, berumur genjah ±111 HSS serta agak toleran kekeringan. Varietas ini memiliki bentuk tanaman tegak dan daun bendera sedang, bentuk gabah ramping dengan tektur nasi pulen. Inpari 46 GSR ini mempunyai ketahanan terhadapa penyakit blas 133 dan agak tahan ras 033. 073 dan 173, tahan HDB patotipe III, agak tahan WBC biotipe 1 dan rentan virus Tungro. Mutu beras baik dengan rendemen beras giling: ± 70,20% DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2020. Pertanian Tadah Hujan. http://id.m.wikepedia.org/wiki/ pertanian tadah_hujan). Sastro, Y. et al. 2021. Deskripsi Varietas Unggul Baru Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Toha, H.M., dan D. Juanda. 1991. Pola tanam tanaman pangan di lahan kering dan sawah tadah hujan (Kasus Desa Ngumbul dan Sonokulon, Kabupaten Blora). Prosiding Seminar Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah diLahan Sedimen dan Vulkanik DAS Bagian Hulu. Proyek penelitian penyelamatan hutan tanah dan Penyusun : Ir. Sari Nurita_Penyuluh Pertanian BPTP Kalimantan Barat