Loading...

WASPADAI ULAT GRAYAK PADA TANAMAN JAGUNG

WASPADAI ULAT GRAYAK PADA TANAMAN JAGUNG
PendahuluanUlat grayak dan dikenal juga dengan sebutan ulat tentara adalah larva dari ngengat Spodoptera dapat menyerang berbagai jenis tanaman pangan, sayuran, dan buah-buahan. Hama ini tersebar luas di daerah dengan iklim panas dan lembap dari subtropis sampai daerah tropis. Ngengat Spodoptera terdiri dari banyak spesies, namun yang paling banyak menyerang tanaman di Indonesia adalah Spodoptera exigua dan Spodoptera litura. Ulat grayak dari spesies Spodoptera exigua berwarna coklat kehijauan dan Spodoptera litura larvanya berwarna coklat. Ulat grayak merupakan hama nokturnal yang aktif di malam hari dan pada siang hari bersembunyi di dalam tanah atau di balik daun. Hama ini biasanya berkelompok dan serangannya bisa sangat hebat karena dalam waktu satu malam bisa menghabiskan tanaman, mulai dari daun, batang hingga buah. Sehubungan dengan itu hama ulat grayak perlu diwaspadai karena serangan hama tersebut dapat menurunkan produksi jagung dan mengakibatkan menurunnya produktivitas dan pendapatan petani dan bahkan gagal panen.Biologi HamaHama ulat grayak termasuk jenis serangga yang mengalami metamorphosis sempurna yang terdiri dari empat stadia hidup yaitu telur, larva, pupa, dan imago. Perkembangan telur sampai ngengat/imago relatif pendek. Ulat grayak yang sering menyerang tanaman jagung adalah larva dari ngengat Spodoptera exigua L. Ngengat dari spesies ini memiliki sayap depan berwarna kelabu gelap dan sayap belakang berwarna agak putih. Imago (ulat dewasa) betina biasanya meletakkan telur secara berkelompok pada ujung daun. Satu kelompok biasanya berkisar 50–150 butir. Seekor betina mampu menghasilkan telur rata-rata 1.000 butir. Telur dilapisi bulu-bulu putih yang berasal dari sisik tubuh induknya. Telur berwarna putih, berbentuk bulat atau bulat telur (lonjong) berukuran 0,5 mm. Telur menetas dalam waktu 3 hari. Larva Spodoptera exigua berukuran panjang 2,5 cm dengan warna yang bervariasi. Ketika masih muda, larva berwarna hijau muda. Jika sudah tua berwarna hijau kecoklatan gelap dengan garis kekuningan-kuningan. Hama ini merupakan hewan nocturnal, aktif pada malam hari untuk mencari makanan dan perilaku kawin, sehingga tanaman akan habis dalam waktu yang singkat. Pada waktu pagi hari petani melihat tanaman yang telah rusak. Selama siang hari mereka akan bersembunyi di balik daun dan di dalam tanah.Gejala SeranganSpodoptera litura hidup dalam kisaran inang yang luas dan bersifat polifagus. Karena itu hama ini dapat menimbulkan kerusakan serius. Kerusakan yang ditimbulkan pada stadium larva berupa kerusakan pada daun tanaman inang sehingga daun menjadi berlubang-lubang. Larva instar 1 dan 2 memakan seluruh permukaan daun, kecuali epidermis permukaan atas tulang daun. Larva instar 3-5 makan seluruh bagian helai daun muda tetapi tidak makan tulang daun yang tua. Kerusakan dan kehilangan hasil akibat serangan ulat grayak ditentukan oleh jumlah populasi hama, fase perkembangan serangga, fase pertumbuhan tanaman, dan varietas tanaman. Serangan pada varietas rentan menyebabkan kerugian yang cukup besar dan bahkan gagal panen.Faktor-Faktor Penyebab Meningkatnya Populasi HamaSerangan hama ulat grayak perlu diwaspadai, karena dapat menurunkan produktivitas tanaman yang tidak sedikit. Kasus di Lampung (Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Timur, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Pesawaran, dll) pada tanaman jagung pada musim tanam II (MK I) ledakan populasi ulat grayak cukup hebat, sehingga tidak sedikit petani yang melakukan tanam ulang. Berbagai pestisida kimia telah dicoba untuk pengendalian hama, sepertinya hama tersebut sudah kebal. Beberapa faktor penyebab meningkatnya populasi ulat grayak dan timbulnya sifat kebal terhadap pestisida kimia, antara lain;Penggunaan dosis pestisida tidak sesuai anjuran.Penggunaan satu jenis bahan aktif secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.Penggunaan pestisida dengan bahan aktif yang tidak sesuai dengan hama sasaran.Waktu dan frekuensi penyemprotan pestisida yang tidak tepat.Strategi PengendalianPengendalian alami dengan mengurangi tindakan-tindakan yang dapat merugikan atau mematikan perkembangan musuh alami. Penyemprotan dengan insektisida yang berlebihan, baik dosis maupun frekuensi aplikasinya, akan mengancam populasi musuh alami (parasitoid dan predator).Pengendalian fisik dan mekanik untuk mengurangi populasi hama, dilakukan dengan mengambil kelompok telur, membunuh larva dan imago atau mencabut tanaman yang terserang dengan tingkat intensitas serangan tinggi. Selain itu dapat juga dilakukan dengan cara mengganggu aktivitas fisiologis hama, serta mengubah lingkungan fisik menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan perkembangan hama, seperti dengan cara menggenangi lahan pertanaman, terutama pada stadia vegetatif akhir dan pengisian buah untuk mematikan ulat grayak yang bersembunyi di dalam tanah pada siang hariPengelolaan ekosistem melalui teknologi budidaya tanaman untuk mewujudkan tanaman sehat dan mendorong berfungsinya agensia pengendali hayati. Beberapa teknologi budidaya tanaman yang dapat menekan populasi hama meliputi; penanaman varietas tahan, penggunaan benih sehat dan berdaya tumbuh baik, pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup hama, sanitasi lingkungan, penetapan waktu tanam dan penanaman secara serempak, penanaman tanaman perangkap atau penolak hama (refugia).Penggunaan agens hayati (pengendalian biologis). Pengendalian biologis pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan hama. Ulat grayak memiliki berbagai jenis musuh alami antara lain kelompok patogen (nuclear-polyhedrosis virus, Metarhizium anisopliae), parasitoid telur (Telenomus spodopterae Dodd), parasitoid larva (Apanteles spp), parasitoid pupa (Brachimeria spp), dan predator larva (Paederus fuscipes, Lycosa pseudoannulata, Selenopsis gemminata).Pestisida nabati untuk mengembalikan populasi hama pada asas keseimbangannya Serbuk biji mimba efektif mengendalikan hama ulat grayak.Pengendalian dengan pestisida kimiawi dapat dilakukan apabila tingkat serangan hama/populasi hama diatas ambang kendali. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan pestisida kimia antara lain; gunaka pestisida dengan bahan aktif yang mampu mengatasi hama ulat grayak, gunakan dosis/konsentrasi sesuai anjuran jangan sampai mengurangi atau melebihi, volume semprot sesuai yang dianjurkan, aplikasi dilakukan dengan cara yang tepat agar penggunanaan pestisida tidak sia-sia, penyemprotan pestisida dilakukan pada waktu yang tepat ketika matahari sudah terbenam, karena ulat grayak aktif pada malam hari. Pestisida yang digunakan harus yang efektif dan telah diizinkan, seperti; regent, larvin, prevathon, curacron, Pegasus, raydent, metindo dll.Penyusun:Kiswanto, Fauziah Y Adriyani dan Tri Kusnanto (Penyuluh BPTP Lampung)Sumber Materi: dari berbagai sumber