Loading...

Mengatasi Kekeringan pada Tanaman Kopi

   Mengatasi Kekeringan pada Tanaman Kopi
Pada musim kemarau yang ekstrim, tanaman kopi banyak mengalami kerusakan dan bahkan kematian sehingga dapat mengakibatkan penurunan produksi hingga 60%. Diantara ketiga jenis kopi komersial, kopi robusta merupakan kopi yang paling peka terhadap kekeringan karena akar tunggang kopi robusta paling pendek bila dibandingkan kopi liberika dan arabika. Mengingat lebih dari 90% areal kopi di Indonesia adalah areal kopi robusta, maka masalah kekeringan ini merupakan masalah yang sangat penting. Pengaruh kekeringan terhadap pertumbuhan vegetatif. Tanaman kopi muda (belum berbuah ) lebih peka terhadap kekeringan bila dibandingkan dengan tanaman dewasa (sudah berbuah). Pada musim penghujan, kandungan air dalam daun dewasa ±70%, dan pada musim kemarau berangsur-angsur turun hingga ±60%. Apabila kekeringan terus berlangsung, maka kandungan air dalam daun akan berangsur-angsur turun hingga mencapai 56% sehingga menyebabkan daun nampak kusam (tidak mengkilat) dan menjadi kuning layu pada kandungan air 54%. Tanaman yang layu menyebabkan daya asimilasi menurun karena sebagian stomata menutup dan daun telah kehilangan 60% dari kandungan khlorofilnya. Bila sebagian besar daun rontok dan asimilasi berkurang maka banyak zat-zat cadangan yang diambil dari cabang, sehingga cabang akan mati kering (die –back) termasuk bunga dan pentil (buah yang masih muda) yang terdapat pada cabang tersebut. Dengan demikian maka akan mengurangi produksi pada tahun berikutnya. Pengaruh kekeringan terhadap pertumbuhan generatif. Primordia atau calon bunga mulai terbentuk pada akhir musim hujan hingga awal musim kemarau. Pada awal-awal musim kemarau primordia bunga berangsur-angsur tumbuh menjadi kuncup bunga. Pertumbuhan tersebut terhenti setelah mencapai panjang 10-12 mm. Stadium istirahat ini disebut stadium lilin. Apabila turun hujan, maka kira-kira seminggu sesudahnya bunga-bunga tersebut akan mekar dan bila lama tidak turun hujan maka bunga tersebut akan kering dan gugur sebelum mekar. Apabila kekeringan terjadi setelah bunga mekar, maka pentil-pentil buah akan mengalami hambatan pertumbuhan. Pentil buah lebih tahan terhadap kekeringan bila dibandingkan dengan kuncup bunga. Tapi bila tidak ada hujan maka sisa-sisa mahkota bunga yang telah kering tidak dapat terlepas dari dompolan pentil buah. Sisa-sisa mahkota bunga ini sangat disukai oleh kutu putih untuk bersarang, sehingga pentil buah menjadi rontok. Disamping itu pentil buah yang terdapat pada cabang yang gundul pada umumnya banyak mengalami pengguguran. Kekeringan telah menimbulkan banyak kerusakan terhadap bunga maupun pentil buah, sehingga mengakibatkan produksi pada tahun berikunya akan mengalami penurunan. Langkah-langkah untuk mengurangi dampak kekeringan. Untuk mengurangi dampak kekeringan dapat dilakukan beberapa tindakan kultur teknik yang bertujuan untuk memperbesar daya simpan air tanah dan memperkecil penguapan dari permukaan tanah (evaporasi) dan dari tubuh tanaman (transpirasi). Perlakuan tanah: 1)Penyiangan gulma untuk mengurangi persaingan dalam mengambilan air tanah; 2) Kebrukan atau pencangkulan ringan pada musim kemarau untuk memutus pipa-pipa kapiler tanah sehingga evaporasi dapat terhambat; 3) Pembuatan Rorak di sekitar pangkal batang kemudian diisi dengan bahan-bahan organik sehingga akan memperbaiki struktur tanah dan menyebabkan daya simpan air tanah bertambah besar; 4) Pemberian mulsa untuk melindungi tanah terhadap kontak langsung dengan sinar matahari , angin dan udara panas sehingga akan mengurangi evaporasi. Pengaturan naungan: Gunakan klon-klon lamtoro tertentu seperti L2 dan L19 yang dapat tumbuh dengan cepat dan memiliki tajuk yang lebar, sehingga jumlah pohon penaung dapat dikurangi sehingga akan mengurangi persaingan pohon penaung dalam penyerapan air tanah. Pemangkasan kopi: Pemangkasan harus segera dimulai setelah panen selesai sehingga trasnpirasi berkurang. Penanaman pohon penahan angin: Angin sangat berpengaruh terhadap intensitas penguapan air sehingga tanaman kopi di tempat yang terbuka dan di pinggir –pinggir jalan perlu ditanami pohon-pohon penahan angin. Pemupukan: Tanaman yang dipupuk teratur akan mempunyai struktur perakaran yang lebih baik sehingga mampu memanfaatkan air tanah yang tersedia. Pemberian irigasi: Pemberian irigasi merupakan cara yang paling efektif untuk mengatasi kekeringan. Penggunaan klon yang toleran terhadap kekeringan: Cara yang mudah dan efisien untuk mengurangi dampak kekeringan pada perkebunan kopi di Indonesia adalah dengan menggunakan klon yang toleran terhadap cekaman kekeringan. Klon yang paling toleran terhadap cekaman kekeringan adalah Klon BP 409. Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian Sumber: Rangkaian Perkembangan Dan Permasalahan Budidaya & Pengolahan Kopi Di Indonesia oleh Ir. Mudrig Yahmadi. Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Jatim. Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Pertumbuhan Bibit Klonal Kopi Robusta (Coffea canephora Pierre Ex. A. Froehner) oleh Erdiansyah, Novie Pranata Wahjar, Ade Sulistyono, Eko Supijatno, 2019