Loading...

Agens Pengendali Hayati sebagai Pilar Pengendalian Hama dan Penyakit Padi Ramah Lingkungan

Agens Pengendali Hayati sebagai Pilar Pengendalian Hama dan Penyakit Padi Ramah Lingkungan

Pengendalian hama dan penyakit tanaman padi tidak lagi dapat bergantung sepenuhnya pada pestisida kimia. Penggunaan bahan kimia secara terus-menerus terbukti menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari resistensi hama, resurjensi, hilangnya musuh alami, hingga pencemaran lingkungan dan residu pada hasil panen. Oleh karena itu, dalam kegiatan Sekolah Lapang (SL) Tematik budidaya padi ramah lingkungan yang didanai melalui DAK Non Fisik, pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) dengan penekanan pada pemanfaatan agens pengendali hayati (APH) diperkenalkan dan dipraktikkan langsung di lapangan.

PHT merupakan konsep pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang memadukan berbagai teknik pengendalian secara harmonis dan berkelanjutan. Prinsip utama PHT meliputi budidaya tanaman sehat, pelestarian musuh alami, pengamatan lapangan secara berkala, serta peningkatan kapasitas petani sebagai pengambil keputusan utama di lahannya. Dalam konteks ini, APH menjadi komponen kunci karena mampu menekan populasi hama dan patogen tanpa merusak keseimbangan agroekosistem. FAO menegaskan bahwa penerapan PHT berbasis pengendalian hayati merupakan strategi paling efektif untuk pertanian berkelanjutan di negara berkembang .

Agens pengendali hayati adalah organisme hidup yang digunakan untuk menekan perkembangan OPT, baik berupa predator, parasitoid, maupun mikroorganisme seperti jamur, bakteri, dan virus. Pada tanaman padi, kelompok mikroba menjadi yang paling banyak dikembangkan karena relatif mudah diperbanyak dan diaplikasikan oleh petani. Dua APH utama yang diperkenalkan dalam SL Tematik ini adalah Trichoderma sp. sebagai fungisida hayati dan Beauveria bassiana sebagai insektisida hayati. Kedua mikroba ini telah terbukti efektif dalam menekan penyakit tular tanah dan hama utama padi seperti penggerek batang dan wereng.

Trichoderma sp. bekerja melalui beberapa mekanisme, antara lain kompetisi ruang dan nutrisi, mikoparasitisme terhadap jamur patogen, serta produksi senyawa antibiotik dan enzim perusak dinding sel patogen. Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Trichoderma sp. secara konsisten dapat menekan penyakit blas dan hawar pelepah serta memperbaiki pertumbuhan perakaran tanaman padi. Selain itu, Trichoderma juga berperan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman (plant growth promoting fungi) yang meningkatkan efisiensi serapan hara .

Sementara itu, Beauveria bassiana merupakan jamur entomopatogen yang menyerang serangga hama melalui kontak langsung. Spora jamur menempel pada tubuh serangga, berkecambah, lalu menembus kutikula dan berkembang di dalam tubuh inang hingga menyebabkan kematian. Keunggulan Beauveria bassiana adalah spektrum pengendalian yang luas, aman bagi musuh alami dan manusia, serta tidak meninggalkan residu berbahaya. Berbagai studi menyebutkan bahwa penggunaan Beauveria bassiana secara terpadu mampu menekan populasi hama padi hingga lebih dari 70% pada kondisi lapangan tertentu.

Dalam SL Tematik, petani juga diperkenalkan pada teknik perbanyakan APH secara mandiri, baik dalam bentuk padat maupun cair, menggunakan bahan-bahan lokal seperti beras menir, jagung pecah, air cucian beras, air kelapa, dan gula. Pendekatan ini penting karena menekan biaya produksi dan meningkatkan kemandirian petani. APH cair yang dihasilkan melalui proses fermentasi menghasilkan metabolit sekunder, yaitu senyawa bioaktif seperti antibiotik, enzim, hormon, dan toksin alami yang efektif menghambat perkembangan patogen dan meningkatkan ketahanan tanaman.

Metabolit sekunder APH memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mudah larut dalam air, tidak meninggalkan residu, mudah diaplikasikan, serta dapat dipadukan dengan pupuk dan pestisida lain dalam sistem PHT. Aplikasi metabolit sekunder terbukti mampu melindungi fase awal pertumbuhan tanaman, memperkuat jaringan tanaman, dan menekan perkembangan patogen secara preventif. Pendekatan ini sejalan dengan hasil penelitian terkini yang menyebutkan bahwa biopestisida berbasis mikroba dan metabolitnya merupakan alternatif paling prospektif dalam sistem pertanian rendah input kimia.

Secara keseluruhan, penerapan agens pengendali hayati dalam kerangka PHT pada SL Tematik padi ramah lingkungan tidak hanya berfungsi sebagai teknik pengendalian OPT, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran ekologis bagi petani. Petani didorong untuk memahami agroekosistem, mengenali musuh alami, serta mengambil keputusan pengendalian berdasarkan hasil pengamatan lapangan. Dengan pendekatan ini, pengendalian hama dan penyakit tidak lagi bersifat reaktif, melainkan preventif, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung peningkatan produktivitas padi dan pelestarian lingkungan pertanian.

 

Hilmi Hardimansyah, SP