Alpokat merupakan tanaman buaha-buahan yang dapat dikonsumsi langsung maupun setelah diolah. Tanaman ini temasuk famili Lauraceae, genus Persea dan species Persea americana Mill Tanaman alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon dengan nama alpuket (Jawa Barat), alpokat (Jawa Timur/Jawa Tengah), boah pokat, jamboo pokat (Batak), advokat, jamboo mentega, jamboo pooan, pookat (Lampung) dan lain-lain. Tanaman alpukat berasal dari dataran rendah/tinggi Amerika Tengah dan diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-18. Secara resmi antara tahun 1920-1930 Indonesia telah mengintroduksi 20 varietas alpukat dari Amerika Tengah dan Amerika Serikat untuk memperoleh varietas-varietas unggul guna meningkatkan kesehatan dan gizi masyarakat, khususnya di daerah dataran tinggi (Rismunandar,1981). Syarat tumbuh tanaman alpokat tidak begitu sulit, hampir semua jenis tanah apat adaptasi dengan baik. Namun demikian sebagai tanaman yang menyukai tanah lembab dan subur tanaman ini lebih optimal pertumbuhan dan produksinya di wilayah dengan ketinggian lokasi 200-1.000 m dpl dengan jenis tanah alluvial,podzolik, dan andosol serta kaya akan bahan organik (Kalie,1997) dan ccurah hujan 700-1.200 mm/tahun Budidaya tanaman alpokat dapat dilakukan secara generatif (dari biji) maupun secar vegetatif (cangkok, stek dan sambung). Umur produksi tanaman alpokat sekitar 8 tahun setelah ditanam dan masa prouksi dapat mencapai 30 tahun. Sebagai tanaman perennial dan berkayu tanaman alpokat dapat mencapai ketinggian 6-8 m dan diameter batang 30-40 cm. Wilayah Junjung Sirih terutama merupakan daerah perkembangan alpokat yang cukup potensial. Diperkirakan tanaman ini telah ada sejak jaman kolonial. Varietas tanaman yang berkembang di wilayah tersebut cukup banyak namun ada 3 varietas yang telah dirilis oleh Kementan RI pada tahun 2000-an yaitu Varietas Mega Paninggahan, Mega Gagauan dan Mega Murapi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. : 520Kpts/PD.210/10/2003, Selain itu ada varietas hijau lonjong dan hijau bulat. Keunggulan dari varietas tersebut adalah daging tebal, berwarna kuning, rasa enak, dan buah relative besar (dapat mencapai 0,8 Kg per buah. Rata-rata alpokat di Junjung Sirih memiliki spesifik rasa yang gurih dan tidak berserat. Pada saat ini tanaman alpokat banyak dibudidayakan di areal pekarangan dan lahan kering lainnya. Diperkirakan jumlah tanaman alpokat di Junjung Sirih sekitar 30.000 batang atau setara dengan 200 Ha ( 150 batang/Ha). Perawatan tanaman alpokat tidak terlalu sulit hanya saja perlu waspada hama dan penyakit yang sering mengganggu tanaman tersebut diantaranya benalu, penggerek batang, ulat daun dan kutu buah. Pengendalian benalu dilakukan dengan pemangkasan ranting yang ditumbuhi benalu, sedangkan penggerek batang dan ulat dikendalikan secara mekanis maupun kimiawi. Pemasaran alpokat dilakukan dalam bentuk segar belum masak (tua fisiologis) dengan ditandai warna kulit sudah membayang abu-abu dan sebagian telah berguncang bijinya. Daerah pemasaran alpokat dari Junjung Sirih meliputi Propinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Penjualan alpokat di Junjung Sirih melalui pedagang pengumpul di wilayah Kecamatan Junjung Sirih. Harga jual alpokat pada musim panen raya berkisar Rp.10.000-Rp.12.000,- sedangkan pada musim sela berkisar Rp.12.000-Rp.16.000,- . Harga jual alpokat berdasarkan kualitas buah semakin besar dan mulus kulit buah semakin mahal. Harga alpokat Junjung Sirih di daerah luar Sumatera Barat dapat mencapai Rp.20.000,-/Kg. Masyarakat sangat antusias untuk terus mengembangkan tanaman alpokat karena dari aspek ekonomi sangat menjanjikan dan pemasarannnya tidak sulit. Penulis : Suyitno,S.Pt,M.Pt (PPL Nagari PaninggahanTHLTBPP) Daftar PustakaKalie, Moehd. Baga (1997). "Alpukat: budidaya dan pemanfaatannya". Yogyakarta: Kanisius. 112 hal.Rismunandar (1981). "Memperbaiki lingkungan dengan bercocok tanam jambu mede dan alpukat". Bandung: Sinar Baru 39 hal.