PENDAHULUAN Usahatani tanaman padi menjadi perhatian utama dalam pengelolaan lahan pertanian karena menghasilkan kebutuhan pangan yang sangat mendasar yaitu beras. Produktivitas padi sendiri sangat ditentukan oleh ketersediaan air selama pertumbuhannya. Dampak kekurangan air adalah menurunnya produktivitas yang diakibatkan terganggunya pertumbuhan tanaman. Fungsi air dalam berusahatani padi sawah diantaranya adalah menyediakan struktur tanah yang baik sejak dilakukan pengolahan tanah, menghambat dan menekan pertumbuhan gulma, mengatur tinggi rendahnya suhu dalam tanah dan menetralkan/mencuci unsur-unsur yang bisa meracuni tanaman. Kebutuhan air pada budidaya padi sawah dipengaruhi oleh struktur, tekstur, tingkat kesuburan tanah, kondisi iklim dan jenis padi yang ditanam. Air sebagai sumber kehidupan menjadi bagian penting dalam pengelolaan usahatani khususnya budidaya padi sawah dengan kebutuhan air sebanyak 11.000-14.000 m3/ha pada musim kemarau dan 8.000-10.000 m3/ha pada musim hujan. Meskipun tanaman padi membutuhkan air dalam jumlah lebih banyak daripadi tanaman lain, padi bukanlah tanaman air. Oleh sebab itu diperlukan teknik budidaya tanaman yang memanfaatkan air irigasi maupun dari sumber lainnya untuk meningkatkan efisiensi dalam proses produksi dan menjamin produksi yang berkelanjutan yaitu teknologi hemat air. Pengelolaan lahan disesuaikan dengan kondisi agroekosistem yang mendukung usahatani padi di lahan sawah, lahan kering maupun lahan rawa TEKNOLOGI HEMAT AIR Hasil penelitian Setiobudi dan Fagi (2009) bahwa teknik pengairan berselang dapat menghemat air 49% pada musim hujan dan 41% pada musim kemarau. Beberapa teknologi hemat air lainnya yaitu dengan menerapkan tabur benih langsung yang mempersingkat umur tanam dan menerapkan tanpa olah tanah apabila ketersediaan sumber air terbatas. BB Padi (2015) dan BRIA Indonesia (2015) memberikan informasi tentang teknologi hemat air dengan menerapkan Alternate wetting and drying (AWD) atau pengairan basah kering dengan prinsip mengurangi aliran yang tidak produktif seperti rembesan, perkolasi, dan evaporasi, serta memelihara aliran transpirasi. Hal tersebut bisa dilaksanakan mulai saat persiapan lahan, tanam, dan teknologi AWD dapat menghemat air 15-30% selama pertumbuhan tanaman. Teknologi hemat air yang diterapkan akan mengupayakan produktivitas air yang diberikan sesuai kebutuhan tanaman lebih tinggi dibandingkan produktivitas air yang diberikan secara terus menerus. Beberapa praktek penggunaan teknologi hemat air yaitu pemilihan varietas padi yang berumur genjah, diterapkannya kalender tanam pada hamparan tersier yang seragam, waktu dan cara pengolahan air yang sesuai dengan jadwal pemberian air, pengaturan penggenangan air, pergiliran air, pemeliharaan kerapatan pematang dalam luasan tertentu dan drainase permukaan pada musim hujan. Sedangkan kebutuhan air pada periode vegetatif dan generatif akan bervariasi yaitu pada waktu pembentukan anakan aktif, pembentukan anakan maksimal, inisiasi malai, bunting dan pembungaan. Pemberian air yang sudah biasa dilakukan oleh petani dengan memanfaatkan air irigasi baik teknis atau setengah teknis adalah dengan cara digenangi secara terus menerus. Padahal tanaman padi sawah bukanlah tanaman yang membutuhkan air secara terus menerus sepanjang pertanamannya sehingga diperlukan pengaturan efisiensi penggunaan air.