Peningkatan suhu udara global selama 100 tahun terakir rata -rata 0,570 C (Runtunuwu dan Kondo, 2008). Boer (2007) menggambarkan perubahan suhu udara di Jakarta dalam periode 1880-2000 dengan peningkatan suhu selama 100 tahun terakhir rata-rata 1,4 0 C pada bulan Juli dan 1,040 C pada bulan Januari. Peningkatan suhu menyebabkan terjadinya peningkatan transpirasi yang selanjutnya menurunkan produktivitas tanaman pangan (Las, 2007), meningkatkan konsumsi air, mempercepat pematangan buah/biji, menurunkan mutu hasil, dan berkembangnya berbagai hama dan penyakit. Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, dan beberapa wilayah lainnya, terutama di dataran rendah, akan mengalami penurunan produksi pangan strategis secara signifikan. Tanpa inventaris berupa upaya adaptasi, penurunan produksi jagung mencapai 10,5-19,9 % hingga tahun 2050 akibat kenaikan suhu udara. Penelitian terbaru KP3I (Boer, 2008) menunjukkan bahwa peningkatan suhu akibat naiknya konsentrasi CO2 akan menurunkan hasil tanaman. Apabila laju konversi lahan sawah 0,77 % per tahun dan tidak ada peningkatan indeks penanaman, maka produksi padi di tingkat kabupaten pada tahun 2025 akan mengalami penurunan sebesar 42.500-162.500 ton. Namun, jika dilakukan peningkatan indeks pertanaman maka dampak negatif kenaikan suhu pada tahun 2025 tidak lagi signifikan, terutama di Jawa Tengah. Upaya peningkatan Indeks pertanaman akan efektif di sebagian kabupaten di Jawa barat dan Jawa Timur. Dengan adanya perubahan iklim dan suhu udara banyak sekali mengalami kerugian khusus sektor pertanian dimana saat ini musim yang tidak menentu, sehingga perlu perhatian yang efisien dan efektif untuk membuat alat penyimpanan beras yang baik. Dalam penyimpanan beras yang Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi. Para petani padi di lapangan disarankan untuk melakukan pengolahan dengan penggilingan padi setelah menjadi beras baru dijual. Karena jika petani menjual padi misalnya per Kg Rp 3.000 / gabah kering giling, bila 2 Kg gabah dijual harganya Rp 6.000, tapi bila padi 2 Kg digiling menjadi beras 1,4 Kg dengan harga 7.000 / Kg x 1,4 Kg menjadi Rp. 9.800 dan ditambah dedak dan bekatul. Jadi jika 1 Ha sawah menghasilkan 5 ton gabah kering senilai Rp. 30.000.000, jika dijadikan beras menjadi 5 ton / 2 x 1,4 x 7.000 = 34.500.000, belum lagi sisa hasil dedak dan bekatul. Jadi bila petani padi menjual hasilnya berupa beras maka petani akan mendapat tambahan hasil lebih kurang 4.500.000 + dedak dan bekatul bila dibandingkan dengan menjual hanya dengan padi. Sedangkan waktu yang dibutuhkan dan tenaga yang dikeluarkan untuk melakukan proses penggilingan padi menjadi beras tidak terlalu banyak dan sulit. Biasanya para petani langsung menjual berasnya ke pasar atau ke tengkulak sehingga sebahagian besar beras yang diperoleh dijadikan uang dan beras yang disimpan di rumah hanya sedikit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi dalam penyimpanan beras perlu disarankan kepada para petani yang menyimpan beras ataupun pedagang beras yang berada di pasar untuk menyimpan beras dengan alat karung dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian FAO alat penyimpan beras yang baik dan ekonomis dapat di lihat secara rinci pada penjelasan bawah ini ; Analisa Ekonomi No Tipe Kantong Penyimpanan Harga Spesifikasi 1 GrainPro Superbag U.S.$ 3.00 (= Rp. 27,000,-) - SGB1-GPSB- type 75-130 (75 cmx130 cm) - Kapasitas 60 kg 2 Kantong Semar superbag Rp. 12,000,- - Kapasitas 60 kg 3 PVC bag Rp. 10.000,- Rp. 20.000,- - Kapasitas 30 kg, untuk pemesanan lebih dari 100 buah - Kapasitas 30 kg, untuk pemesanan kurang dari 100 buah 4 Polpropylene bag Rp. 3.000,- - Kapasitas 50 ka Semua superbag (Grainpro dan kantong semar dan kantong plastik PVC efektif melidungi beras giling dari serangan hama selama 3 bulan penyimpanan. Serangga yang mencemari butir pada periode penyimpanan awal terlihat secara visual mati dalam waktu satu minggu karena kondisi kedap udara dalam kantong. Dalam sudut pandang ekonomi penggunaan superbag kantong semar adalah yang paling efisien pedagang beras. Dalam mengahadapi perubahan iklim maka antisipasi dan adapatasi terhadap perubahan iklim dalam penyimpanan beras jawaban salah satunya adalah penggunaan kantong dalam penyimpanan beras. Sehingga beras nyaman walaupun terjadi perubahan iklim di lapangan. Tapi perlu diingat juga bahwa beras yang disimpan di dalam karung harus di masukan dalam gudang atau rumah yang terhindar dari hujan dan panas. Selain itu gudang atau rumah tempat menyimpan beras haru ada ventilasinya atau peredaran udara dan jangan lupa beras yang ada dalam kantong tidak boleh langsung diletakan di atas ubin, harus dikasih kayu atau besi pembatas kantong beras dengan ubin langsung. Oleh : Dr. Ibrahim Saragih / Penyuluh Pertanian Sumber : Kementan, Kenali dan Pahami Perubahan Iklim, 2010, Jakarta Badan Litbang, Peta Kerentanan Sektor Pertanian dan Dampak Perubahan Iklim, 2010, Jakarta Ibrahim Saragih, Penelitian Iklim (Perubahan Mempengaruhi Produksi pertanian), 2010, Jakarta Idham Sakti Harahap dkk, Keefektifan Superbag dalam melindungi Beras, FAO, 2011, Jakarta