Loading...

Antisipasi Perubahan Iklim dan Penggilingan Padi

Antisipasi Perubahan Iklim dan Penggilingan Padi
Pada saat ini terjadi perubahan iklim yaitu terjadinya hujan yang berkepanjangan atau terjadinya musim kemarau berkepanjangan sehingga mengakibatkan terganggunya budidaya pertanian khusus tanaman pangan yang mengakibatkan dapat terganggunya peroduksi tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia. Antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi adalah salah satu upaya tetap terlaksananya budidaya pertanian tanaman pangan dengan baik sehingga produksi tetap terjamin yangdapat memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia. Tingkat kerentanan lahan pertanian terhadap cekaman kekeringan cukup bervariasi antar-wilayah dan hal menunjukkan bahwa lahan sawah di beberapa wilayah di Sumatera dan Jawa rentan terhadap kekeringan. Dari 5,14 juta ha lahn sawah yang dievaluasi, 74 ribu ha di antaranya sangat rentan dan sekitar satu juta ha rentan terhadap kekeringan (Wahyunto, 2005). Salah satu juga dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian adalah ancaman banjir yang semankin sering pada lahan sawah, yang menyebabkan berkurangnya luas areal panen dan produksi padi. Luas lahan sawah di Jawa yang rentan terhadap banjir/genangan. Begitu juga di luar pulau Jawa pada lahan pertanian khususnya tanaman padi potensi banjir sangat besar misalnya lahan pertanian di Deli Serdang sepanjang sungai ular terjadi banjir hampir setiap tahun. Jadi dengan terjadinya perubahan iklim yang ekstrim kering atau basah maka perencanaan tanam padi perlu dilakukan dengan baik dengan memperhatikan perkiraan iklim yang terjadi di wilayahnya berdasarkan data yang diperoleh dari tanda-tanda yang dapat atau rasakan maupun dari Badan Meteorologi dan Geofisika. Dan memperhatikan waktu tanam dan umur tanaman padi sehingga dapat diperkirakan waktu panen tanaman pangan tiba dan pelaksanaan yang benar-benar tepat, baik tepat waktu, tepat pelaksanaan dan tepat perlakuan. Bila hal ini dilakukan muda-mudahan hasil panen yang diperoleh petani sesuai dengan harapan bersama, yang akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani. Pemanenan merupakan tahap awal yang sangat penting dari seluruh rangkain kegiatan penanganan pasca panen tanaman padi, karena tidak hanya berpengaruh terhadap kuantitas hasil panen melainkan juga berpengaruh terhadap kualitasnya. Dengan melakukan pemanenan yang tepat waktunya membantu kegiatan selanjutnya pada pasca panen yaitu penggilingan gabah, adapun langkah-langkah pasca panen waktu penggilingan yang tepat agar mendapatkan kuantitas dan kualitas beras yang baik adalah sebagai berikut ; a) menentukan panen yang tepat waktunya dengan melihat sudah kekuningan-kekuningan pada bulir padi b) menentukan kadar air pada gabah yang baik yaitu 14 % -18 % untuk dapat digiling, karena menentukan kadar air ini sangat penting untuk mendapatkan mutu kualitas beras yang baik, c)kerapatan alat mesin penggiling yaitu menggunakan alat penggiling gabah tidak terlalu rapat dan tidak terlalu regang, agar kondisi gabah pada waktu digiling kerapatanya disesuaikan dengan ukuran gabahnya. Adapun tujuan melakukan langkah-langkah pasca panen yang baik dan tepat agar mendapatkan kualitas mutu beras yang baik. Maka disarankan para petani melakukan waktu pasca panen dengan baik dan pengolahan padi dengan jalan penggilingan padi benar-benar diperhatikan. Agar mendapatkan mutu dan kualitas beras yang baik. Sehingga petani tidak merasa rugi dan sia-sia melakukan pada tahap pasca panen dan pengolahan tersebut. Karena pasca panen dan pengolahan hasil perlu benar-benar dilakukan karena merupakan tahap akhir yang merupakan pendapatan yang akan diperoleh para petani di lapangan. Para petani padi di lapangan disarankan untuk melakukan pengolahan dengan penggilingan padi setelah menjadi beras baru dijual. Karena jika petani menjual padi misalnya per Kg Rp 3.000 / gabah kering giling, bila 2 Kg gabah dijual harganya Rp 6.000, tapi bila padi 2 Kg digiling menjadi beras 1,4 Kg dengan harga 7.000 / Kg x 1,4 Kg menjadi Rp. 9.800 dan ditambah dedak dan bekatul. Jadi jika 1 Ha sawah menghasilkan 5 ton gabah kering senilai Rp. 30.000.000, jika dijadikan beras menjadi 5 ton / 2 x 1,4 x 7.000 = 34.500.000, belum lagi sisa hasil dedak dan bekatul. Jadi bila petani padi menjual hasilnya berupa beras maka petani akan mendapat tambahan hasil lebih kurang 4.500.000 + dedak dan bekatul bila dibandingkan dengan menjual hanya dengan padi. Sedangkan waktu yang dibutuhkan dan tenaga yang dikeluarkan untuk melakukan proses penggilingan padi menjadi beras tidak terlalu banyak dan sulit. Hanya yang perlu menjadi perhatian penyuluh pertanian dan petani di lapangan berdasarkan survei dari FAO di daerah Subang dan Kerawang ada beberapa penggilingan padi yang melakukan penggilingan bersifat nakal. Yaitu dengan jalan kerapatan mata gigi giling padi lebih dirapatkan sehingga beras banyak yang pecah sebahagian masuk ke dalam mesin yang merugikan petani tetapi menguntungkan pihak pemilik penggiling padi. Disarankan supaya penyuluh pertanian dan petani sebelum menggiling padinya harus menanyakan dengan baik pada perusahan penggilingan untuk mendapatkan hasil beras giling yang baik dengan ketentuan standar kertapatn mata gigi yang normal sehingga tidak saling merugikan. Oleh : Dr. Ibrahim Saragih / Penyuluh Pertanian Sumber : Kementan, Kenali dan Pahami Perubahan Iklim, 2010, Jakarta Badan Litbang, Peta Kerentanan Sektor Pertanian dan Dampak Perubahan Iklim, 2010, Jakarta Ibrahim Saragih, Penelitian Iklim (Perubahan Mempengaruhi Produksi pertanian), 2010, Jakarta