Loading...

Asap Cair Sebagai Penggumpal Lateks

Asap Cair Sebagai Penggumpal Lateks
Pendahuluan Karet merupakan salah satu komoditas unggulan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selain lada. Komoditas ini telah memberikan konstribusi nyata sebagai sumber pendapatan masyarakat, devisa dan lapangan kerja. Di Kepulauan Bangka Belitung sebagian besar perkebunan karet merupakan perkebunan rakyat. Produk yang dihasilkan dari tanaman karet ini adalah lateks. Lateks diperoleh dengan cara menyadap pohon karet, antara kambium dan kulit pohon. Hasil olahan lateks dikenal sebagai karet alam, biasanya dikelompokan atas bahan olah karet, lateks pekat, karet bongkah (block rubber), karet spesifikasi teknis atau karet remah (crumb rubber), dan tyre rubber. Bahan olah karet umumnya diperoleh dari perkebunan rakyat sehingga dikenal dengan nama bokar (bahan olah karet rakyat). Menurut pengolahannya bahan olah karet dibagi menjadi 4 macam : lateks kebun, sheet angin, slab tipis dan lump segar. Masalah utama yang terjadi dalam pengolahan karet (bokar) adalah mutu bokar yang rendah dan bau busuk yang menyengat sejak dari kebun. Mutu bokar yang rendah ini disebabkan petani menggunakan bahan pembeku lateks (getah karet) yang tidak dianjurkan seperti tawas dan TSP dan merendam bokar di dalam kolam/sungai selama 7-14 hari. Hal ini akan memacu berkembangnya bakteri perusak antioksidan alami di dalam bokar, sehingga nilai plastisitasnya menjadi rendah. Bau busuk menyengat terjadi juga disebabkan oleh pertumbuhan bakteri pembusuk yang melakukan biodegradasi protein di dalam bokar menjadi amonia dan sulfida. Kedua hal tersebut terjadi karena bahan pembeku lateks yang digunakan saat ini tidak dapat mencegah pertumbuhan bakteri. Untuk meningkatkan kualitas bokar, petani karet dianjurkan menggunakan bahan penggumpal salah satunya adalah Asap Cair. Asap Cair Asap cair merupakan suatu hasil kondensasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung lignin, selulosa, hemiselulosa serta senyawa karbon lainnya. Asap cair dapat digunakan sebagai pengumpal karet dan sekaligus dapat mencegah terjadinya bau busuk. Asap cair (liquid smoke) merupakan suatu hasil destilasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran tidak langsung maupun langsung dari bahan yang banyak mengandung karbon dan senyawa-senyawa lain. Bahan baku yang banyak digunakan untuk membuat asap cair adalah kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penggergajian kayu, dan lain-lain. Selama pembakaran, komponen dari kayu akan mengalami pirolisa menghasilkan berbagai macam senyawa antara lain fenol, karbonil, asam, furan, alkohol, lakton, hidrokarbon, polisiklik aromatik dan lain sebagainya. Asap cair mempunyai berbagai sifat fungsional, seperti ; untuk memberi aroma, rasa dan warna karena adanya senyawa fenol dan karbonil ; sebagai bahan pengawet alami karena mengandung senyawa fenol dan asam yang berperan sebagai antibakteri dan antioksidan ; sebagai bahan koagulan lateks pengganti asam format serta membantu pembentukan warna coklat pada produk sit. Asap merupakan sistem komplek yang terdiri dari fase cairan terdispersi dan medium gas sebagai pendispers. Asap diproduksi dengan cara pembakaran tidak sempurna yang melibatkan reaksi dekomposisi konstituen polimer menjadi senyawa organik dengan berat molekul rendah karena pengaruh panas yang meliputi reaksi oksidasi, polimerisasi dan kondensasi. Jumlah partikel padatan dan cairan dalam medium gas menentukan kepadatan asap. Selain itu asap juga memberikan pengaruh warna rasa dan aroma pada medium pendispersi gas. Asap cair juga mengandung senyawa yang merugikan yaitu tar dan senyawa benzopiren yang bersifat toksik dan karsinogenik serta menyebabkan kerusakan asam amino esensial dari protein dan vitamin. Pengaruh ini disebabkan adanya sejumlah senyawa kimia di dalam asap cair yang dapat bereaksi dengan komponen bahan makanan. Upaya untuk memisahkan komponen berbahaya di dalam asap cair dapat dilakukan dengan cara redistilasi, yaitu proses pemisahan kembali suatu larutan berdasarkan titik didihnya. Redistilasi dilakukan untuk menghilangkan senyawa-senyawa yang tidak diinginkan dan berbahaya sehingga diperoleh asap cair yang jernih, bebas tar, poliaromatik hidrokarbon (PAH) dan benzopiren pendispersi. Asap cair yang telah dipisahkan dari kandungan tar berat berupa cairan bersifat asam dalam pelarut fase air dan berwarna kuning kecoklatan bergantung pada jenis kayu. Lateks Lateks adalah getah kental, seringkali mirip susu, yang dihasilkan banyak tumbuhan dan membeku ketika terkena udara bebas. Lateks terdiri atas partikel karet dan bahan bukan karet (non-rubber) yang terdispersi di dalam air. Lateks juga merupakan suatu larutan koloid dengan partikel karet dan bukan karet yang tersuspensi di dalam suatu media yang mengandung berbagai macam zat. Di dalam lateks mengandung 25-40% bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-75% serum yang terdiri dari air dan zat yang terlarut. Lateks merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein, alkaloid, pati, gula, (poli) terpena, minyak, tanin, resin, dan gom. Lateks merupakan suspensi koloidal dari air dan bahan-bahan kimia yang terkandung di dalamnya. Lateks kebun akan menggumpal atau membeku secara alami dalam waktu beberapa jam setelah dikumpulkan. Penggumpalan alami atau spontan dapat disebabkan oleh timbulnya asam-asam akibat terurainya bahan bukan karet yang terdapat dalam lateks akibat aktivitas mikroorganisme. Hal itu pula yang menyebabkan mengapa lump hasil penggumpalan alami berbau busuk. Selain itu, penggumpalan juga disebabkan oleh timbulnya anion dari asam lemak hasil hidrolisis lipid yang ada di dalam lateks. Anion asam lemak ini sebagaian besar akan bereaksi dengan ion magnesium dan kalsium dalam lateks membentuk sabun yang tidak larut, keduanya menyebabkan ketidakmantapan lateks yang pada akhirnya terjadi pembekuan. Manfaat dan Keunggulan Penggunaan Asap Cair Manfaat dari penggunaan asap cair sebagai pembeku lateks adalah harga relatif murah, meningkatkan mutu dan kualitas bokar, ramah lingkungan, mengurangi bahkan mencegah bau yang tidak sedap sejak dari kebun sampai ke pabrik pengolahan karet. Sedangkan keunggulan dari teknologi asap cair ini antara lain menghilangkan/menetralkan bau busuknya, dapat membekukan lateks dengan sempurna, nilai plastisitas tinggi, dan sifat fisik vulkanisat setara atau bahkan lebih baik dengan pembeku lain, meningkatkan kadar karet kering (K3) dan proses pembekuan cenderung lebih cepat. Produksi Asap Cair dan Perbandingan Fisik Bokar Produksi asap cair dilakukan dengan metode pirolisis. Produksi asap cair potensial dikembangkan terutama untuk daerah penghasil lateks seperti Bangka Belitung, karena bahan baku mudah didapat seperti limbah kelapa sawit (cangkang), tempurung kelapa, serbuk gergaji (kayu) dan limbah pertanian lainnya. Kualitas fisik bokar setelah pembekuan dipengaruhi oleh bahan dasar pembuatan asap cair dan dosis. Hasil Pengkajian BPTP Bangka Belitung tahun 2013 dan 2016 diperlihatkan pada tabel dibawah ini.Asal asap cair Dosis (ml/100 ml air) Warna Bau dan Tekstur Kadar Air (%)Asap Cair Cangkang 2,5 putih Tidak bau, lebih keras 43 4 putih Tidak bau, lebih keras 39 5,5 putih Tidak bau, lebih keras 36Asap Cair Tandan 2,5 putih Bau, lembek 49 4 putih Bau, lembek 50 5,5 putih Bau, lembek 48Asap Cair Sabut 2,5 putih Bau, lembek 50 4 putih Bau, lembek 48 5,5 putih Bau, lembek 39Tawas putih Bau, lembek 50 Menyusun materi penyuluhan pertanian dalam bentuk bahan website Judul : Asap Cair Sebagai Penggumpal Lateks. Ditulis Oleh : Ria Maya, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung) Sumber Bacaan : - Pengembangan Teknologi Produksi Asap Cair dari Limbah Sawit untuk Bahan Penggumpal Lateks (Laporan Akhir BPTP Bangka Belitung, 2013) - Teknologi Produksi Asap Cair sebagai Bahan Penggumpal Lateks (Laporan Akhir BPTP Bangka Belitung, 2016) Sumber Gambar : Koleksi Pribadi dan BPTP Bangka Belitung.