Loading...

BEF DAN SURRA, PENYAKIT MENULAR BERBAHAYA PADA TERNAK RUMINANSIA

BEF DAN SURRA,  PENYAKIT MENULAR BERBAHAYA PADA TERNAK RUMINANSIA
Seperti halnya ternak yang lain, ternak ruminansia juga berpotensi kena serangan penyakit. Untuk itu sudah seyogyanyalah para peternak memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan ternak peliharaannya. Kesehatan ternak sangat penting karena jika ternak tidak sehat akan menyebabkan banyak kerugian. Sebutlah misalnya: gangguan pertumbuhan, gangguan reproduksi, dan bahkan yang paling fatal kematian ternak itu sendiri. Terlebih lagi, akhir-akhir ini dunia peternakan dihebohkan dengan berjangkitnya kembali Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang sangat mudah menular sehingga sangat meresahkan dan menganggu pemenuhan dan ketersediaan proten hewani yang berasal dari ternak ruminansia. Selain PMK, masih banyak lagi yang lain penyakit menular berbahaya bagi ternak ruminansia, diantaranya sebagai berikut : 1. BOVINE EPHERAL FEVER (BEF)/ DEMAM TIGA HARI, BEF hanya menyerang sapi dan kerbau dan tidak dapat menulari dan menimbulkan penyakit pada hewan lain. Sapi/ kerbau yang terserang penyakit ini akan sembuh kembali beberapa hari kemudian (2–3 hari). Angka kematian sangat kecil sekali tidak sampai 1 % tetapi angka kesakitan tinggi. Dari segi produksi dan tenaga kerja cukup berarti karena hewan yang sedang berlaktasi turun produksi sususnya dan hewan pekerja tidak mampu bekerja selama 3 –5 hari. Penyebab Penyakit, adalah virus dari genus yang tidak ada namanya, tetapi termasuk dalam keluarga Rhabdoviridae dari virus RNA. Penularan Penyakit, demam tiga hari disebarkan oleh Cullicoides sp. (serangga pengisap darah) dan nyamuk. Cullicoides yang terinfeksi dapat menyebarkan penyakit mencapai jarak 2.000 Km. Ada dugaan penyebaran dapat pula terjadi melalui angin. Tanda tanda penyakit, demam (39º C sampai 42º C), lesu, kekakuan anggota gerak, pincang, kelemahan anggota gerak sampai tidak sanggup berdiri, hypersalivasi, sesak napas, gemetar, keluar sedikit cairan dari mata dan hidung, sesekali ditemukan busung di daerah submandibularis dan kaki, sapi yang berlaktasi produksi air susunya turun atau berhenti sama sekali. Pencegahan, dengan menjaga kebersihan lingkungan, pemakaian insektisida untuk membunuh vektor penyakit (serangga pengisap darah dan nyamuk) di sekitar daerah terjangkit, dan mengisolasi hewan sakit. Pengobatan, sampai saat ini belum ada pengobatan yang efektif, namun demikian pemberian antibiotika berspektrum luas perlu dianjurkan untuk mencegah infeksi sekunder dan pemberian vitamin untuk menghindari stres. Ternak penderita BEF dapat dipotong dan dagingnya boleh dikonsumsi dan diperdagangkan. Namun, mengingat angka kematian relatif sangat rendah maka pemotongan sebaiknya hanya dilakukan pada keadaan sangat terpaksa ditinjau dari segi medis dan atas anjuran seorang Dokter Hewan. Sisa pemotongan beserta sisa pakan yang masih tertinggal harus dibakar dan dikubur dalam- Tempat pemotongan dibersihkan dan disucihamakan. 2. TRYPANOSOMIASIS/ SURRA, penyakit ini merupakan penyakit parasiter yang bersifat akut ataupun kronis. Kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah berupa penurunan berat badan, gangguan pertumbuhan, penurunan produksi susu, penurunan tenaga kerja dan berkahir dengan kematian. Penyebab, oleh protozoa Trypanosoma evansi. Parasit ini hidup dalam darah induk semang dan memperoleh glukosa, sehingga dapat menurunan kadar glukosa darah induk semangnya. Penularan, terjadi secara mekanis dengan perantaraan lalat pengisap darah genus Lalat jenis lain seperti Stomoxys, Lyperosia, Chrysopsdan Hematobia serta jenis Arthropoda lain seperti kutu, pinjal dan lain lain dapat bertindak sebagai vektor. Penyakit ini biasanya terjadi secara sporadis di daerah endemi, namun dapat juga mewabah yang menimbulkan banyak korban kematian dan kerugian karena pengobatan dan perawatan. Apabila kondisi tubuh menurun atau tedapat cekaman misalnya stres, kurang pakan, kelelahan, kedinginan dan sebagainya merupakan pemicu terjadinya penyakit. Tanda tanda penyakit: a)gejala umum meliputi: demam, lesu, lemah dan nafsu makan berkurang b)di daerah endemik, ternak mungkin terkena infeksi tetapi tidak terlihat adanya gejala; c)Keadaan penyakit berlanjut, timbul anemia, bulu rontok, kurus, busung daerah dagu dan anggota gerak akhirnya ternak akan mati; d)Keluar getah radang dari hidung dan mata; e)Ternak berjalan sempoyongan, kejang, berputar putar hal ini disebabkan parasit dalam cairan serebrospinal sehingga terjadi gejala gangguan syaraf. Pencegahan: a)Pemberian 10 % Naganol dosis pencegahan : 1 gram/ekor intravena; b)Pembasmian serangga penghisap darah dengan insektisida; c)Pembersihan tempat yang basah dan rimbun; d)Pemotongan hewan sakit pada malam hari untuk menghindari lalat. Pengobatan: a)Hewan yang sakit dipisahkan dari yang sehat; b)Pemberian 10 % Naganol dengan dosis pengobatan 3 gram/ekor intravena; c)Moranyl 10 mg/ Kg berat badan; d)Antrycide/ Quinapiramine 3 –5 mg/ Kg berat badan;e)Berenil 3,5 mg/ Kg berat badan. Ternak yang menderita penyakit Surra dapat dipotong di bawah pengawasan Dokter Hewan berwenang dan dagingnya dapat dikonsumsi/ diperdagangkan setelah dilayukan sekurang kurangnya 10 jam setelah pemotongan. Demikianlah sekilas informasi tentang penyakit menular pada ternak ruminansia yang perlu diketahui dan diwaspadai, semoga bermanfaat (Inang Sariati). Sumber informasi: https://www.google.com/search?q=Penyakit+menular+pada+ternak+ruminansia&rlz https://disnakeswan.lebakkab.go.id/kesehatan-dan-penyakit-hewan-menular-ternak-ruminansia-sapi-kerbau-kambing-domba/ https://disnakkeswan.ntbprov.go.id/jenis-jenis-penyakit-ternak-menular/