Kambing merupakan salah satu hewan ternak yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Hal ini dikarenakan jenis hewan berkaki empat yang memiliki aroma khas ini sudah dikenal sejak lama dan merupakan salah satu bahan baku kuliner yang terbilang bergengsi. Hampir semua orang suka dan bahkan tergila-gila dengan masakan yang berbahan baku kambing ini. Tempat menikmati masakannya pun tersebar di mana-mana. Mulai dari warung di pinggir jalan, gerobak dorong, restoran dan bahkan di hotel-hotel. Ada banyak jenis dan rumpun kambing yang ada di dunia. Di Indonesia, secara umum ada tiga rumpun kambing yang dominan berdasarkan ukuran tubuhnya. Ukuran tersebut adalah besar, sedang serta kecil. Salah satu diantara kambing yang memiliki ukuran tubuhnya besar adalah kambing Ettawa dan kambing Muara. Jenis kambing yang lain berukuran tubuh lebih kecil seperti kambing kacang, kambing Samosir dan kambing Marica. Selanjutnya, kambing dengan tubuh kategori sedang adalah kambing Kosta dan kambing Gembrong. Kambing Ettawa didatangkan dari India yang disebut kambing Jamnapari. Badannya besar, tinggi gumba yang jantan 90 sentimeter hingga 127 sentimeter dan yang betina hanya mencapai 92 sentimeter. Bobot yang jantan bisa mencapai 91 kilogram, sedangkan betina hanya mencapai 63 kilogram. Telinganya panjang dan terkulai ke bawah. Dahi dan hidungnya cembung. Baik jantan maupun betina bertanduk pendek. Kambing jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari. KAMBING PERANAKAN ETTAWAH (PE) Peranakan Ettawa (PE) merupakan hasil persilangan antara kambing Ettawa (asal India) dengan kambing Kacang, yang penampilannya mirip Ettawa tetapi lebih kecil, namun lebih adaptif terhadap lingkungan lokal Indonesia. Kambing PE tipe dwiguna yaitu sebagai penghasil daging dan susu (perah). Peranakan yang penampilannya mirip Kacang disebut Bligon atau Jawa Randu, yang merupakan tipe pedaging. Ciri khas kambing PE antara lain; bentuk muka cembung melengkung dan dagu berjanggut, terdapat gelambir di bawah leher yang tumbuh berawal dari sudut janggut. Selain itu, memiliki telinga panjang, antara 18-30 cm, lembek menggantung dan ujungnya agak berlipat, ujung tanduk agak melengkung, tubuh tinggi, pipih, bentuk garis punggung mengombak ke belakang, bulu tumbuh panjang di bagian leher, pundak, punggung dan paha, bulu paha panjang dan tebal. bobot hidup dewasa jantan mencapai 40 kg dan betina sekitar 35 kg. Tinggi punggung berkisar antara 76-100 cm. Pada jantan bulu bagian atas dan bawah leher, pundak, lebih tebal dan agak panjang, sedangkan pada betina hanya bagian paha yang lebih panjang. Warna bulu ada yang tunggal; putih, hitam dan coklat, tetapi jarang ditemukan. Kebanyakan terdiri dari dua atau tiga pola warna, yaitu belang hitam, belang coklat, dan putih bertotol hitam. BIBIT KAMBING PE Kambing PE terkenal dengan sosoknya yang gagah hampir menyerupai anak sapi. Harganya tentu saja menjadi lebih mahal jika dibandingkan dengan harga kambing biasa (kambing kacang). Karena harga yang lebih mahal ini pulalah membuat peternak menjadi begitu bersemangat memeliharanya. Untuk memilih bibit kambing PE, sangat tergantung pada tujuan pemeliharaannya. Apakah untuk dijadikan pedaging, penghasil susu atau untuk kontes. Pada umumnya peternak mengembangkan kambing PE sebagai pedaging sekaligus juga menghasilkan susu. Namun hal ini tidak selalu demikian, tergantung juga faktor geografis dan pasar yang ada. Faktor geografis disini adalah dimana letak peternakan itu berada. Kambing PE dapat menghasilkan susu secara maksimal di daerah yang dingin atau pegunungan. Daerah pegunungan umumnya juga menyediakan bahan pakan hijauan yang dapat membuat produksi susu kambing semakin besar. Hijauan seperti Kaliandra dan Sengon misalnya, sangat membantu mendorong pertumbuhan dan produksi susu seekor kambing. Jika di daerah sekitar peternakan ada penadah/distributor atau konsumen susu kambing maka anda dapat menjual hasil susu kambing peternakan anda. Agar memperoleh hasil optimal, peternak harus jeli memilih varian kambing PE yang cocok untuk dipelihara. Salah satu alternative varian kambing etawa yang menguntungkan agar diperoleh daging dan sekaligus susu adalah Etawa Senduro. Varian Kambing ini memiliki postur yang bagus dan tebal. Selain itu produksi susu betinanya dapat menyamai produksi kambing etawa lainnya. Harga dari kambing ini jauh lebih murah daripada kambing etawa kontes. Jenis ini sangat dianjurkan untuk peternak yang berfokus pada pedaging dan produksi susu. Pemilihan bibit kambing betina penghasil susu juga perlu diperhatikan. Sangat dianjurkan untuk memilih kambing betina yang telah beranak dua kali atau umur sekitar 2 tahun. Hal ini disebabkan pada saat itulah seekor kambing betina dapat menghasilkan susu dengan maksimal. Selain itu kedua ambing betina tersebut juga harus memiliki bentuk yang sempurna, sama besar dan tidak cacat. Jika tujuan beternak anda untuk kontes maka yang anda utamakan adalah kualitas. Kambing etawa kelas kontes memiliki kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh seekor kambing sehingga layak disebut kambing etawa kontes. Semakin bagus kualitas yang dimiliki seekor kambing maka akan semakin mahal pula harga jualnya. Jika seekor indukan memiliki kualitas yang bagus maka hampir pasti anak (cempe) yang dihasilkan juga bagus. Akibatnya harga anakannya juga mahal. Sangat dianjurkan bagi peternak pemula untuk memilih kambing langsung di peternakan. Hal ini untuk mengetahui kualitas kambing yang akan diternakkan. Tentunya memilih kambing juga memerlukan pengetahuan yang dapat anda pelajari dari berbagai sumber seperti buku, artikel atau orang-orang yang telah berpengalaman dan anda percayai. (Inang Sariati) Sumber: https://susuwedus.wordpress.com/tag/kambing-muara/ http://sulsel.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=768:teknologi-budidaya-kambing&catid=47:panduanpetunjuk-teknis-brosur-&Itemid=231