Loading...

BIO PESTISIDA ASAP CAIR PENGENDALI HAMA UTAMA TANAMAN KEDELAI

BIO PESTISIDA ASAP CAIR PENGENDALI HAMA UTAMA TANAMAN KEDELAI
Gangguan hama yang menyerang di pertanaman kedelai terjadi sejak mulai berkecambah sampai panen. Hama utama pada tanaman kedelai antara lain penggerek polong dan ulat grayak. Pengendalian hama tersebut, hingga saat ini petani masih mengandalkan insektisida kimiawi karena hasil pengendaliannya cepat dapat dirasakan. Akan tetapi, penggunaan pestisida kimiawi secara terus menerus dan diaplikasikan secara tidak tepat dapat menimbulkan resistensi dan resurgensi hama, selain meningkatnya biaya produksi juga berdampak negatif terhadap lingkungan. Melihat dampak negatif dari pestisida kimiawi maka perlu dicari alternatif pemanfaatan pestisida alami. Salah satu bahan pestisida alami atau bio pestisida yang potensial adalah "asap cair". Pengembangan Produk Bio Pestisida berbasis "asap cair" adalah untuk mengendalikan hama yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang efektif, aman, murah dan mudah dilaksanakan petani yang dapat meningkatkan keamanan tanaman kedelai serta meningkatkan kesejahteraan petani. Hasil kajian Rumbaina dkk (2015) menunjukkan bahwa asap cair berpotensi dan efektif mengendalikan hama ulat grayak dan penggerek polong pada tanaman kedelai dengan sifatnya yang menolak ("repellent") bukan membunuh. Selanjutnya asap cair yang berasal dari bahan baku yang digunakan adalah sekam padi, tempurung kelapa dan limbah kayu berpotensi mengendalikan hama ulat grayak dan penggerek polong pada tanaman kedelai. Tetapi bahan baku terbaik untuk mengatasi masalah hama pada tanaman kedelai berasal dari tempurung kelapa dengan konsentrasi 75 ml/lt “ 105 ml/lt. Pembuatan Asap Cair Proses pembuatan asap cair adalah sebagai berikut: Sekam padi, tempurung kelapa dan limbah kayu, masing-masing dibersihkan dan dikering anginkan. Untuk tempurung kelapa terlebih dahulu diperkecil ukurannya. Masing-masing bahan sebagian dimasukkan ke wadah drum (tanur) sebagai tungku "pyrolisis", kemudian dinyalakan. Setelah api membara dan berasap, sisa masing-masing bahan dimasukkan kedalam drum terpisah kemudian ditutup untuk dilakukan proses pirolisa. Proses pirolisa ini berjalan cukup lama. Asap akan keluar dari wadah dan masuk kondensor yang terendam dalam bak air (terkondensasi) dan pada akhirnya mengeluarkan cairan hasil kondensasi yang ditampung dalam wadah. Pemanasan diakhiri sampai tidak ada asap cair yang menetes dalam wadah. Cairan yang diperoleh merupakan campuran heterogen antara asap cair dengan tar. Cairan ini kemudian didiamkan selama satu minggu untuk memberikan kesempatan tar dan senyawa tidak larut lainnya mengendap, kemudian disaring. Aplikasi Asap Cair Konsentrasi asap cair yang digunakan adalah 75 ml/lt “ 105 ml/lt dengan volume semprot 400 l/ha. Penyemprotan dilakukan pada waktu pagi hari, sebanyak 6 kali aplikasi selama pertumbuhan yaitu pada umur 7 HST, 14 HST, 28 HST, 42 HST, 56 HST dan 70 HST. Penulis: Fauziah Y Adriyani, Kiswanto, Dewi Rumbaina M Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) LampungJl. ZA Pagar Alam No. 1 A Rajabasa Bandar Lampung