Loading...

BIOMASSA INDUSTRI KELAPA SAWIT SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF

BIOMASSA INDUSTRI KELAPA SAWIT SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF
Pendahuluan Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia telah dikenal sejak tahun 1848 dan tanaman kelapa sawit pertama kali di tanam di Kebun Raya Bogor). Pemanfaatan dan pengembangan kelapa sawit sebagai penghasil minyak kelapa sawit yang sangat dibutuhkan manusia di mulai pada tahun 1911. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus bertambah dan dengan tingkat pengetahuan yang meningkat menuntut ketersediaan pangan yang memadai. Hal ini termasuk produk peternakan (daging, susu dan kulit/bulu) yang meningkat pula, tidak hanya dalam jumlah yang memadai tetapi juga kualitas yang baik. Sebagai Negara agraris, Indonesia yang terletak di hamparan geografis tropis dengan faktor pendukung/lingkungan yang serba terbatas serta semakin sempitnya lahan yang dapat dipergunakan sebagai areal budidaya ternak, khususnya ternak ruminansia, menyebabkan ternak ruminansia kurang dapat tumbuh-kembang sesuai dengan potensi genetik yang dimiliki. Produk samping asal kebun kelapa sawit Produk bahan kering vegetasi alam yang tumbuh di bawah tanaman kelapa sawit dan dapat dijadikan bahan pakan di daerah perkebunan kelapa sawit bervariasi. Produk samping industri kelapa sawit yang tersedia dalam jumlah yang banyak akan menimbulkan problem yang belum dimanfaatkan secara optimal. Produk samping industri kelapa sawit yang dimaksud adalah vegetasi alam, pelepah, daun, tandan kosong, serat perasan, lumpur sawit dan bungkil inti sawit. Salah satu pemecahannya adalah dengan memanfaatkan ternak, khususnya ternak ruminansia. Peluang yang sangat memungkinkan dalam penyediaan bahan pakan alternative sumber hijauan yang dapat dipergunakan untuk pengembangan usaha sapi potong adalah pada saat tanaman inti telah menghasilkan (TM). Produk samping yang dihasilkan dapat diperoleh dari tanaman utama, produk ikutan hasil pengolahan buah kelapa sawit dan pengolahan ini sawit. Produk samping asal tanaman utama dimaksud adalah pelepah (fronds), daun (leaves) dan batang (trunk). Sementara yang berasl dari pengolahan buah sawit adalah lumpur sawit (palm oil sludge) dan yang berasal dari pengolahan inti sawit adalah bungkil inti sawit (palm kernel cake) Perolehan data lapangan menunjukkan bahwa untuk setiap pelepah dapat menyediakan daun kelapa sawit sejumlah 0,5 kg. Nilai tersebut setara dengan bahan kering sejumlah 685 kg/ha/tahun dan dengan luasan tanam yang telah berproduksi (TM), maka bahan keriing yang dihasilkan adalah 3,3 juta ton. Selain pelepah dan daun, tanaman kelapa sawit dapat juga menediakan bahan pakan yang dapat dipergunakan sebagai pengganti hijauan dalam bentuk batang kelapa sawit. Biomassa tersebut dapat diperoleh pada saat/kondisi tertentu yalbu pada saat/kondisi tertentu, yakni pada saat peremajaan tanaman dilakukan. Tabel 1. Produk samping tanaman dan olahan kelapa sawit untuk setiap ha Biomassa Segar (kg) Bahan Kering (%) Bahan Kering (kg) Daun tanpa liji 1.430 46.18 658 Pelepah 20.000 26.07 5.214 Tandan kosong 3.680 92.10 3.386 Serat perasan 2.880 93.11 2.681 Lumpur sawit, solid 4.704 24.07 1.132 Bungkil inti sawit 560 91.83 514 Total Biomassa 13.585 Penyusun : Minas Tiurlina Panggabean, SP, M.Si Sumber bacaan : Buku Sistem Integrasi Ternak Tanaman Padi-Sawit-kakao Pusat Penelitian dan Pengembangan peternakan