Lada (Pipper nigrum Linn) merupakan komoditas ekspor Indonesia pada tahun 2000, sehingga Indonesia menjadi negara produsen lada, tetapi saat ini telah digeser oleh Vietnam yang pada tahun 1995 menduduki peringkat ke empat. Produk lada utama yang diperdagangkan adalah lada putih dan lada hitam dalam bentuk buah utuh. Lada putih berasal dari Propinsi Bangka Belitung dan lada hitam berasal dari Propinsi Lampung. Saat ini di samping kedua daerah tersebut, pertanaman lada terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur,Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Kendala yang dihadapi petani lada adalah fluktuasi harga dan keterbatasan modal petani menyebabkan kurangnya pemeliharaan pertanaman lada sehingga rentan terhadap serangan hama dan penyakit menyebabkan produktivitas lada menjadi rendah. Kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit dapat dikendalikan dengan melakukan budidaya lada yang ramah lingkungan.Komponen budidaya yang perlu diperhatikan dalam budidaya lada yang efisien dan ramah lingkungan sebagai berikut :Pengendalian secara kultur teknik1. Bahan tanaman. Bahan tanaman seringkali menjadi sumber inokulum bagi hama dan penyakit tanaman lada juga dapat menjadi sumber penyebaran ke daerah yang masih baru. Selain itu, pemilihan varietas harus dilakukan secara hati-hati karena sampai saat ini belum ada varietas yang tahan terhadap semua jenis hama dan penyakit.2. Jenis tiang panjat dan pemanfaatan biomas pangkasan. Penggunaan tajar sangat dianjurkan budidaya lada dengan tegakan mati merupakan budidaya yang intensif dan membutuhkan biaya tinggi. Pada saat harga lada rendah dan pemupukan tidak dapat dilakukan. Tanaman menjadi lemah dan peka terhadap serangan hama dan patogen. Biomas hasil pangkasan tajar (dadap cangkring/gliricidae) apabila dibenamkan dalam tanah akan meningkatkan kesuburan tanah, merangsang pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme tanah yang bermanfaat. Hal ini akan lebih baik apabila disertai dengan menyertakan pupuk kandang, sehingga proses pembusukan akan lebih cepat dan dapat menghambat perkembangan patogen berbahaya di dalam tanah.3. Saluran drainase dan pemangkasan bagian tanaman lada. Kebun lada yang baik harus mempunyai saluran drainase, sehingga tidak ada air yang tergenang di dalam kebun ; karena air yang tergenang merupakan media yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan patogen busuk pangkal batang.4. Pemeliharaan Tanaman meliputi pemangkasan/pembuangan sulur cacing dan sulur gantung yang tidak berguna. Bekas pemangkasan ditutup dengan teer/vaselin/lilin atau insektisida. Pembuangan sulur cacing juga akan mengurangi kemungkinan terinfeksinya tanaman lada oleh Phytophthora capsici dari tanah.5. Pemupukan dan komposisinya. Pemupukan tanaman lada bertujuan meningkatkan produksi dan kesehatan tanaman. Disamping dosis juga harus memperhatikan komposisi dan saat aplikasinya. Pupuk anorganik juga diperlukan disamping pupuk organik, seperti pupuk kandang atau sisa tanaman.6. Pengendalian hayati Penyakit busuk pangkal batang dapat dilakukan dengan pemberian kotoran ternak dicampur alang-alang dan agen hayati (Trichoderma harzianum). Aplikasi pupuk kandang dapat dilakukan bersama-sama dengan aplikasi alang-alang dan agen hayati (Trichoderma harzianum) untuk menekan terjadinya serangan Phytophthora capsici. Pemberian bahan organik tersebut harus dibenamkan ke dalam tanah di bawah tajuk tanaman,agar berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi tanaman, menggemburkan tanah, dan meningkatkan populasi mikroorganisme antagonis. Alang-alang sebagai sumber bahan organik dapat diberikan sebagai penutup tanah (mulching) untuk mengendalikan penyakit kuning. Apabila ditujukan untuk pengendalian busuk pangkal batang, maka alang-alang harus dibenamkan. Pengendalian penyakit kuning dengan aplikasi Phytophthora penetrans juga akan lebih efektif apabila diikuti dengan pemberian bahan organik.7. Penyiangan terbatas Penyiangan terbatas "bobokor" hanya dilakukan di sekitar tanaman lada sebatas kanopi tanaman. Sebaiknya tidak dilakukan penyiangan bersih. Untuk meningkatkan populasi parasitoid hama penggerek batang sebaiknya dilakukan penanaman tanaman sela atau penutup tanah yang mampu membentuk bunga (banyak berbunga) selain dapat untuk mengkonservasi parasitoid, juga menghambat penyebaran propagul patogen busuk pangkal batang pafa waktu musim hujan.8. Pemanfaatan agen hayati dan konservasinya. Bila dipilih jenis varietas yang rentan terhadap serangan penyakit kuning atau busuk pangkal batang, maka agen hayati pengendali patogen tersebut harus diaplikasikan sejak awal penanaman lada dan aplikasi diulang pada setiap awal musim hujan.9. Membuat pagar keliling Pagar keliling dengan tanaman hidup (rumput gajah) dianjurkan dengan tujuan agar jalan masuk kebun dibatasi jumlahnya dan bukan merupakan jalan umum. Di samping rumput gajah/tanaman hidup dapat sebagai sumber pakan ternak. Ternak peliharaan tidak dibiarkan bebas berkeliaran di dalam kebun. Disusun : Ely Novrianty, Gohan Octora Manurung dan Suryani (BPTP Lampung)Sumber : Teknologi Unggulan Lada oleh Dyah Manohara, Dono Walyuno dan Amrizal Rivai, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, tahun 2013.