air merupakan sumber segala kehidupan. terlebih kehidupan di bidang pertanian . namun ketersediaan air semakin lama semakin berkurang salah satu penyebabnya adalah berkurangnya sumber daya air seperti hutan dan aliran sungai yang menyebabkan tampungan air seperti waduk buatan semakin terbatas airnya. padahal waduk menjadi tumpuan harapan petani yang mengunakan sistem pengairan irigasi . oleh sebab itu kegiatan atau cara-cara budidaya tanaman hemat air menjadi keharusan demi kelangsungan pertanian di masa yang akan datang. mengajak petani unuk budidaya hemat air bukanlah hal yang mudah. masih banyak petani beranggapan bahwa menanam padi yang baik di lahan sawah harus digenangi terus-menerus. salah satu alasannya adalah untuk menekan pertumbuhan gulma. padahal padi bukanlah tanaman air, tapi tanaman yang membutuhkan air dalam masa pertubuhannya. sistem pengairan terus menerus justru memiliki kelemahan yaitu tidak ramah lingkungan karena menghambat lajunya biodiversitas dan agroekosistem tanaman padi, terjadinya pemborosan dalam penggunaan air, dan terhambatnya peningkatan intensitas tanam. padahal kita selalu dituntut untuk meningkatkan produksi pangan terutama padi. meningkatkan intensifikasi tanaman sudahlah menjadi keharusan. tentu saja hal ini akan dibarengi dengan peningkatan penggunaan air. akhir akhir ini wacana penghematan air menjadi masalah yang serius. hal ini disebabkan tuntutan meningkatnya indeks pertanaman, sementara ketersediaan air tidak bertambah. oleh karena itu sangat perlunya upaya penghematan air . upaya penghematan air dapat dilakukan dalam sisitem budidaya padi hemat air. selama ini yang telah dikenalkan kepada petani adalah sistem sri (system of rice intensification) dan awd (alternate wetting and drying). sistem sri telah diperkenalkan dalam beberpa tahun terakhir dan tearbukti mampu menghemat air dalam sistem budidayanya. namun dalam perkembangannya sistem ini sulit diterima oleh petani karena dianggap lebih rumit sehingga berkembang sangat lambat. cara yang relatif lebih sederhana yang saat ini masih terus diperkenalkan dan dikembangkan awd (alternate wetting and drying) sebagai cara baru dalam budidaya hemat air. harapannya cara ini kelak kemudian hari dapat dipraktekkan oleh semua petani dan menjadi solusi bagi keterbatasan air. alternate wetting and drying (awd), merupakan salah satu metode irigasi hemat air. metode awd adalah metode pengairan berselang. pengukuran dan pengaturan air di lahan secara bergantian antara tergenang dan kering dikendalikan dengan bantuan alat berupa paralon yang telah dilubangi sedemikian rupa. pengaturan kondisi tergenang dan kering secara bergantian sesuai dengan kondisi lahan dan fase pertumbuhan. sawah diairi apabila kedalaman muka air tanah mencapai kurang lebih 5 cm diukur dari permukaan tanah. teknik hemat air memberi banyak keuntungan seperti berkurangnya kehilangan air melalui rembesan dan perkolasi, aerasi tanah meningkat, memperbaiki sistem perakaran serta penyerapan hara. penggenangan air yang dalam (diatas 15 cm) dan dalam jangka waktu yang lama kan menciptakan kondisi tanah semakin masam, ektrem reduktif, ketersediaan hara mikro berkurang, infeksi penyakit dan infestasi hama meningkat,batang tanaman menjadi lemah dan mudah rebah, perakaran rusak sehingga penyerapan hara terhambat. selain itu potensi kehilangan hara melalui pencucian dan aliran permukaan meningkat. kondisi tanpa penggenangan air semama periode tertentu diperlukan tertama untuk memperbaiki kondisi aerasi di daerah perakaran sehingga akar lebih berkembang, merangsang pembentukan anakan, aktivitas perakaran meningkat, aktivitas jasad renik mikroba meningkat karena temperatur meningkat, menghambat dan mengurangi populasi hama wereng,penggerek batang, keong mas dan penyakit busuk batang dan busuk pelepah, menekan laju perkolasi, rembesan, aliran permukaan dan pencucian hara. keuntungan lainnya yang tidak kalah penting adalah menekan gas emisi rumah kaca (gas metan) dan juga mengurangi keracunan akibat akumulasi besi (fe) di dalam tanah. (penulis: tasmin. thltbpp kecamatan bekri lampung tengah)