Kelapa sawit salah satu sumber devisa negara sehingga kelapa sawit mempunyai peranan penting dalam pererkonomian nasional kita. Selayaknya pemerintah memberikan perhatian yang tinggi pada komoditi ini. Hal dibuktikan dengan dicanangkannya program Revitalisasi Perkebunan kelapa sawit dengan sasaran sekitar 1.550.000 ha dengan rincian perluasan areal 1.375.00 ha dan peremajaan tanaman 125.00 ha dan rehabilitasi tanaman seluas 50.000 ha (Ditjen Perkebunan, 2007). Banyak faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit diantaranya adalah kondisi tanah dan iklim. Persyaratan tumbuh kelapa sawit Kelapa sawit akan tumbuh baik bila syarat pertumbuhan tanamannya dapat terpenuhi. Persyaratan tumbuh kelapa sawit sebagai berikut: 1. Tekstur tanah (permukaan): halus, agak halus dan sedang; 2. Kedalaman tanah mineral (pada lahan gambut): mempunyai ketebalan < 60 cm; b) ketebalan dengan sisipan bahan mineral < 40 cm. 3. PH tanah 5,0-6,5 4. Kandungan C-organik sebesar > 0,8% 5. Cukup tersedia unsur hara N, P, K, Ca, Mg dan S 6. Terain (kemiringan tanah): a) lereng 3-8%; b) batuan permukaan < 5%; c) singkapan batuan < 5%. Hubungan sifat tanah dan produksi kelapa sawit Sifat tanah mempunyai hubungan dengan produksi kelapa sawit hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian di Sei Pagar, Kabupaten Kampar Riau bahwa tanah yang mempunyai sifat yang sesuai dengan persyaratan tumbuh, produksi kelapa sawit cukup tinggi yaitu sekitar 25,0 ton per ha per tahun TBS (tandan buah segar) yaitu tanah cukup mengandung hara seperti C-organik, N, P, K, Ca, Mg dan S. Hal ini cukup tinggi jika dibanding dengan hasil petani yang berada di lokasi penelitian yang hasil TBS nya hanya mencapai 22 ton per ha per tahun. . Pengaruh Iklim pada produksi kelapa sawit Komponen iklim yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kelapa sawit antara lain suhu udara, curah hujan dan kelembaban udara. Untuk pertumbuhan kelapa sawit, memerlukan rata-rata curah hujan tahunan berkisar 2.000 mm tanpa bulan kering. Cekaman air tanah (kekeringan) akan menunjukkan penurunan produksi kelapa sawit, karena meningkatnya jumlah tandan buah jantan (Pahan, 2006). Kisaran rata-rata suhu udara tahunan yang optimum untuk kelapa sawit 25 - 28 derajat celcius, tetapi masih dapat berproduksi pada rata-rata suhu udara tahunan antara 24- 38 derajat Celcius. Kombinasi antara curah hujan dan suhu udara sangat berperan dalam mekanisme proses fotosintesis. Bila dua faktor tersebut ada gangguan tentunya akan mengganggu fotosinsesis yang beujung pada menurunnya produksi kelapa sawit. Terjadinya iklim ekstrim seperti kekeringan sangat berpengaruh pada pertumbuhan kelapa sawit yang dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Kekurangan air pada satadium I (nilai defisit air 200-300 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 21-32%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: a) 3-4 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka; b) 1-8 pelepah daun tua patah. 2. Kekurangan air pada satadium II (nilai defisit air 300-400 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 33-43%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: a) 4-5 pelepah daun muda umumnya tidak membuka; b) 5-12 pelepah daun tua patah. 3. Kekurangan air pada satadium III (nilai defisit air 400-500 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 44-53%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: a) 4-5 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka; b) 12-16 pelepah daun tua patah. 4. Kekurangan air pada satadium IV (nilai defisit air > 500 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 54-65%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: a) 4-5 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka; b) 12-16 pelepah daun tua patah; c) pucuk patah. Selain kekeringan iklim ekstrim juga menyebabkan terjadinya kebakaran di lahan mineral dan gambut juga mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit yang dapat digambarkan sebagai berikut: Lahan mineral 1. Tingkat kerusakan ringan, menyebabkan gangguan pada tanaman dengan gejala sebagai berikut: a) bagian bawah tanaman kering; b) bunga dan buah tidak mengalami kerusakan berat; c) tanaman akan pulih dalam waktu 6 bulan. Terjadinya pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 0-20. Sedang pengaruhnya pada lingkungan yaitu membuat lingkungan rusak, rumput tumbuh subur dan serangan hama meningkat. 2. Tingkat kerusakan sedang, menyebabkan gangguan pada tanaman dengan gejala sebagai berikut: a) pelepah daun ke 1-8 kering; b) pelepah lingkaran 2-5 layu. Terjadinya pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 100% pada tahun I, 40% pada tahun II dan 0% pada tahun III. Sedang pengaruhnya pada lingkungan yaitu membuat lingkungan rusak, rumput tumbuh subur dan serangan hama meningkat. 3. Tingkat kerusakan berat, menyebabkan gangguan pada tanaman dengan gejala sebagai berikut: a) pelepah daun 1-2 kering; b) pelepah lingkaran 3-7 layu; c) titik tumbuh masih normal. Terjadinya pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar100% pada tahun I, 80% pada tahun II, 60% pada tahun III dan 20% pada tahun IV. Sedang pengaruhnya pada lingkungan yaitu membuat lingkungan rusak, rumput tumbuh subur dan serangan hama meningkat. 4. Tingkat kerusakan ekstrim, menyebabkan tanaman mati dan kehilangan hasil mencapai 100%. Sedang pengaruhnya pada lingkungan yaitu membuat lingkungan rusak, rumput tumbuh subur dan serangan hama meningkat. Lahan gambut Tanaman mati, dan 100% tidak menghasilkan TBS. Sedang pengaruhnya pada lingkungan yaitu membuat lingkungan rusak, rumput tumbuh subur dan serangan hama meningkat. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Karakterisasi Tanah dan Iklim serta Kesesuaiannya Untuk Kelapa Swait, Jurnal Tanah dan Iklim, BB Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor 2009. Prospek dan arah Pengembangan Agribisnis Jeruk, Badan Litbang Pertanian, Jakarta, 2005.