Loading...

BUDIDAYA PADI RAMAH LINGKUNGAN (BPRL)

BUDIDAYA PADI RAMAH LINGKUNGAN (BPRL)

I. Definisi & Tujuan

Pertanian Ramah Lingkungan adalah sistem pertanian berkelanjutan yang mengoptimalkan sumber daya alam dengan meminimalkan penggunaan input kimia sintetis guna menjaga kelestarian lingkungan dan menghasilkan produksi yang sehat.

Target Utama: Peningkatan produktivitas padi (15-25%), efisiensi biaya produksi, dan pemulihan kesehatan tanah.

 

II. Komponen Teknologi Utama

Varietas Unggul Baru (VUB): Menggunakan benih berkualitas seperti Inpari 32, 42, 43, Padjadjaran, atau Cakrabuana yang memiliki potensi hasil tinggi dan tahan hama/penyakit.

Sistem Tanam Jajar Legowo: Meningkatkan populasi tanaman, memudahkan pemeliharaan, dan memberikan efek tanaman pinggir untuk hasil lebih tinggi.

Pupuk Organik & Biodekomposer: Memanfaatkan jerami padi secara in-situ menggunakan dekomposer (seperti Agrodeko) untuk memperbaiki struktur tanah dan mengurangi ketergantungan pupuk kimia.

Pupuk Hayati (Agrimeth): Digunakan untuk perlakuan benih guna memacu pertumbuhan akar dan efisiensi penyerapan unsur hara NPK.

Pestisida Nabati (BioProtector): Menggunakan bahan alami (minyak cengkeh/eugenol) yang mudah terurai untuk mengendalikan Wereng Batang Coklat dan Walangsangit tanpa merusak ekosistem.

 

III. Manajemen Budidaya

Bibit Muda: Tanam bibit umur 10-15 HSS dengan jumlah 1-3 batang per rumpun agar anakan lebih produktif.

Pemupukan Berimbang: Pemberian pupuk berdasarkan kebutuhan tanaman. Gunakan Bagan Warna Daun (BWD) untuk menentukan dosis Urea susulan agar lebih efisien.

Pengairan Berselang (Intermittent): Mengatur kondisi basah dan kering secara bergantian untuk menghemat air, mencegah keracunan besi, dan memberi ruang udara bagi akar.

Pengendalian Gulma: Mengutamakan penggunaan alat mekanis seperti Gasrok/Landakan yang merangsang pertumbuhan akar sekaligus ramah lingkungan.

 

IV. Indikator Keberhasilan

Tanah menjadi lebih sehat dan biota tanah (belut, ikan, katak) kembali hidup.

Gabah lebih bernas, tanaman lebih kuat (tahan rebah), dan hasil panen meningkat.

Ongkos produksi lebih hemat sehingga keuntungan petani meningkat secara nyata.