Seledri (Apium graveolens L.) atau biasa dikenal dengan “daun sop” merupakan jenis sayuran daun yang digunakan sebagai bumbu dan juga dapat digunakan sebagai obat herbal. Permintaan pasar terhadap produk sayuran semakin meningkat, termasuk seledri. Meskipun memiliki nilai ekonomi yang tergolong tinggi, namun tidak banyak petani yang menanam seledri karena menuntut persyaratan tumbuh dan teknik budidaya yang rumit. Pembudidayaan seledri dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut : Pengolahan lahan dilakukan dalam beberapa tahap, mencangkul tanah, menggemburkan tanah, membuat bedengan, memupuk, dan meratakan tanah. Tanah dicangkul sedalam 30–40 cm, biarkan selama 15 hari. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 80–100 cm, tinggi 30 cm, panjang sesuai lahan tersedia. Jarak antara bedengan 30–40 cm, membuat parit antara bedengan untuk pengairan. Pemberian pupuk pada bedengan dengan mencampurkan 2 kg/m2 pupuk kandang dan 2 kg/ha pasir (jika tanah berliat). Menaungi bedengan dengan plastik bening atau anyaman daun kelapa. Persemaian dilakukan dibedengan persemaian dengan lebar 100-120 cm, tinggi 30–40 cm dan panjang disesuaikan dengan lahan yang ada. Sebelum disemai, benih direndam di air hangat 55–60°C selama 15 menit. Benih di semai dalam alur atau larikan sedalam 0,5 cm, jarak antar alur 10–20 cm. Bibit dipindahkan saat berumur 1 bulan atau memiliki 3–4 daun. Pemindahan sebaiknya dilakukan pada sore hari, dan selesai pemindahan harus dilakukan penyiraman. Penanaman dilakukan dengan dua cara, yaitu tanam bibit yang telah disiapkan dan tebar benih secara langsung. Tanam bibit dilakukan dengan menanam satu bibit per lubang tanam dengan jarak 25x30 cm sedangkan tebar benih dilakukan dengan menaburkan benih pada bedengan-bedengan yang telah dipersiapkan, dibutuhkan 200–250 g benih/ha lahan. Benih ditabur tipis memanjang mengikuti aluran sedalam 0,5 cm. Benih yang telah ditabur, ditutup dengan alang-alang atau jerami. Penutupan dimaksudkan agar benih tidak hanyut bila terkena hujan, tidak kekeringan dan tetap lembab. Benih tumbuh setelah 2–3 minggu sejak penaburan. Setelah benih tumbuh, alang-alang atau jerami yang digunakan untuk penutup disingkirkan. Penyulaman yang dilakukan tidak lebih dari 7–15 hari setelah tanam, yaitu dengan mencabut tanaman yang mati, kemudian diganti bibit yang baru. Pemupukan dilakukan sebanyak tiga kali, yang terdiri dari satu kali pemupukan dasar dan dua kali pemupukan alternatif. Pemberian pupuk dasar dilakukan saat tanam pada alur di dekat bedengan, dengan dosis 249 kg/ha Urea, 311 kg/ha SP-36, dan 112 kg/ha KCl. Pemberian pupuk alternatif dilakukan pada minggu ke-2 setelah tanam dan minggu ke-4 setelah tanam dengan dosis 124 kg/ha Urea dan 56 kg/ha KCl. Tanaman seledri diberi pupuk setelah berumur 3 minggu untuk bibit hasil semai, dan 1,5 bulan untuk cara penanaman dengan tabur benih langsung. Penyiraman di awal masa pertumbuhan, dilakukan 1–2 kali sehari, penyiraman berikutnya dikurangi menjadi 2–3 kali seminggu tergantung dari cuaca. Tanah tidak boleh kekeringan atau terlalu basah. Penyiangan gulma dilakukan pada saat penggemburan tanah dan pemupukan yaitu pada 2 dan 4 minggu setelah tanam agar unsur hara dapat termanfaatkan secara maksimal oleh tanaman. Pengendalian hama dan penyakit pada budidaya seledri dimulai dengan upaya pencegahan yang dilakukan dengan perlakuan bibit sebelum tanam, yaitu dengan merendam bibit dalam larutan pestisida dengan dosis 50% dosis anjuran. Sedangkan upaya pengendalian dilakukan dengan pemberian beberapa jenis insektisida dan fungisida sesuai dengan dosis anjuran pada setiap kemasan. Panen dilakukan saat umur tanaman 2–4 bulan setelah persemaian atau 1–3 bulan setelah tanam. Panen dilakukan dengan cara memetik batang 1–2 minggu sekali atau mencabut seluruh tanaman untuk seledri daun, sedangkan untuk seledri potong dengan memotong tanaman pada pangkal batang secara periodik sampai pertumbuhan anakan berkurang, untuk jenis seledri umbi pemanenan dengan memetik daun-daunnya saja dan dilakukan secara periodik sampai tanaman kurang porduktif. Sumber : Cok Agus Prabowo Pertama P. 2008. Survei Hama Dan Penyakit Pada Pertanaman Seledri (Apium Graveolens L.) Di Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor : Bogor. Penulis : Yusita Krisning Sumartini, SP Editor : Salehuddin, SP UPT. PPPP Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur