Loading...

Budidaya Tanaman Nilam

Budidaya Tanaman Nilam
Tanaman nilam merupakan tanaman penghasil minyak nilam yang digunakan sebagai bahan campuran dalam pembuatan parfum, kosmetika, farmasi dan aromaterapi. Jenis nilam yang dikenal di Indonesia yaitu: P.cablin Bent (nilam Aceh), P.heyneanus Bent (nilam Jawa) dan P.hortensis Becker (nilam Sabun). Nilam Aceh mempunyai kadar minyak 2.5% - 5% dan kualitas minyaknya lebih tinggi daripada nilam sabun dan nilam Jawa. Faktor yang mempengaruhi kadar dan mutu minyak nilam adalah genetic (jenis), budidaya, lingkungan, panen dan pasca panen. Tiga varietas unggul nilam Aceh yang telah dilepas melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 319/Kpts/SR.120/8/2005 adalah Sidikalang, Lhokseumawe dan Tapak Tuan. Penetapan lahan: Lahan bukan bekas tanaman yang terserang penyakit budog, penyakit layu bakteri, nematode dan virus. Lahan hanya bisa ditanam selama 2-3 tahun berturut turut dengan penerapan teknologi usahatani yang tepat. Pilih lahan dengan struktur tanah subur, gembur, dan banyak mengandung humus. Tekstur tanah lembung pasir, lempung berdebu dan drainase baik. Jenis tanah yaitu andosol, latosol dan podzolik.Iklim: Nilam dapat hidup pada ketinggian 0-700 m dpl, namun sangat baik pada ketinggian 100-400 m dpl. Curah hujan 2.300-3.000 mm, Hari hujan 120-180 mm/tahun, bulan basah per tahun 10-11 bulan. Suhu udara 24°-28o C, kelembaban > 75%, Intensitas penyinaran 75-100%. Benih: Berasal dari Varietas unggul yang jelas asal usulnya, merupakan varietas murni, berupa tanaman induk yang sehat, berumur 6-12 bulan, mempunyai produksi tinggi. Benih berupa setek pucuk, cabang atau batang atau kultur jaringan yang mempunyai diameter 0,5 cm-0,8 cm, lurus dan mempunyai 2-3 ruas atau 3-4 buku.Penyemaian benih: Penyemaian benih dilakukan untuk mendapatkan pertumbuhan benih yang serentak, seragam dan sehat, serta menghindari kematian di lapangan. Persemaian dapat dilakukan di polybag atau bedengan. Pesemaian di polybag dapat mengurangi tingkat kematian akibat pemindahan, menghemat pemupukan, mudah perawatan dan pengontrolan, Pesemaian di bedengan harus pada lahan datar, dekat dengan sumber air dan tidak tercemar pathogen. Persiapan lahan: Lahan dibersihkan dari batu-batuan, gulma, dan sisa-sisa tanaman. Selanjutnya diolah hingga gembur sedalam ± 30 cm karena kedalaman akar nilam hanya ± 30 cm. Pengolahan lahan: Pengolahan lahan dilakukan ± 1 bulan sebelum tanam dan ± 2 minggu setelah pengolahan pertama. Pupuk dasar yang digunakan yaitu pupuk organik/kandang 1-2 kg/lubang tanam. Pada tanah yang masam perlu dilakukan pengapuran. Saluran drainase dibuat selebar 30 cm-40 cm, dalam 50 cm,dan bila tanah miring dibuat terasering yang arahnya sesuai dengan kontur tanah.Buat lobang tanam 30 cm x 30 cm x 30 cm. Jarak antar baris 90 cm “ 100 cm dan dalam baris 40 cm “ 50 cm. Pada lahan datar, jarak dalam barisan 50 cm “ 100 cm. Pada lahan miring, jarak dalam barisan 40 cm “ 50 cm dengan arah baris menurut kontur tanah.Penanaman: dilakukan pada awal musim hujan, pada pagi atau sore hari.. Setiap lobang tanam ditanami 1 (satu) benih setek. Penanaman tidak langsung (di polybag) untuk mengurangi resiko kematian di lapangan. Pemeliharaan: Pemeliharaan meliputi penyulaman, pemberian mulsa, pembubunan untuk memperbanyak tunas baru, penyiangan dan pemupukan. Pemupukan: Saat pengolahan lahan diberi pupuk organik dengan dosis 20 ton/ha/tahun, dan pupuk an organik diberikan setelah panen dengan dosis urea=300 kg, SP 36 130 kg dan KCl=300 kg/ha/thn, 2 kali panen pada tanah latosol.Pengendalian Hama dan Penyakit: Hama ulat pemakan dan penggulung daun (Stylecta sp) serta belalang (Valanga nigricornis) dikendalikan dengan pengamatan rutin sejak tanaman berumur 1 bulan sampai saat panen. Gunakan ekstrak mimba dan bioinsektisida (Beauveria bassiana)untuk mengendalikan hama tersebut, agar tidak mencemari lingkungan. Dapat juga digunakan pestisida apabila ada serangan berat, namun residunya dapat menurunkan kualitas daun. Penyakit layu bakteri oleh bakteri Raistonia solanacearum, dikendalikan dengan mencabut dan memusnahkan tanaman sakit, tidak menanam nilam 2-3 tahun, dan melakukan pergiliran tanaman dengan padi dan jagung, menggunakan agensia hayati Pseudomonas fluorescens, serta menanam varietas Sidikalang (tahan terhadap penyakit layu bakteri).Penyakit Budog disebabkan oleh jamur Synchytrium sp. dikendalikan dengan penggunakan benih yang sehat, dan melakukan budidaya yang baik, pergiliran tanaman, pencabutan dan pembakaran tanaman sakit, serta secara kimiawi.Penyakit gangguan nematode dikendalikan dengan mengggunakan kotoran ayam, sapi, kambing dan sekam, serbuk gergaji, nimba, nematisida atau musuh alami jamur Arthrobotrys,sp, P. penetrans.PanenPanen pertama pada umur 4-6 bulan, selanjutnya dipanen 3-4 bulan sekali sebelum daun berwarna coklat kemerahan, sampai tanaman berumur 3 tahun. Panen jangan pada siang hari karena minyaknya akan berkurang. Gunakan gunting setek yang tajam dan bersih untuk memangkas tanaman 15-30 cm di atas tanah dan tinggalkan satu cabang tanaman untuk merangsang pertumbuhan tanaman selanjutnya. Pasca panen: Daun dijemur di bawah sinar matahari atau diangin-anginkan di tempat yang teduh. Simpan di tempat yang teduh tidak lebih dari 3 bulan. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP).Sumber:1. Budidaya Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth). Direktorat Budidaya Tanaman Semusim. Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta. 2009.2. Teknologi Budidaya Nilam. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 20083. http://www.produknaturalnusantara.com/ pg