Salah satu inovasi teknologi dalam budidaya tebu untuk meningkatkan produktivitas tanaman yaitu sistem tanam juring ganda. Sistem tanam jurung ganda merupakan sistem tanam tebu dengan cara meningkatkan populasi dan optimalisasi ruang tumbuh bagi tanaman tebu, sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Jarak tanam yang digunakan yaitu 135 cm x 50 cm x 50 cm. Adanya ruang yang cukup lebar maka dapat memanen radiasi matahari lebih efisien dan maksimal, kelembaban terjaga pada kondisi ideal bagi tanaman, serta dapat menekan atau mengurangi insiden serangan penyakit yang disebabkan oleh fungi atau jamur. Dengan sistem juring ganda, semua tanaman menjadi tanaman pinggir, sehingga peluang mendapat asupan hara cukup merata. Disamping itu pemeliharaan tanaman lebih mudah, penyulaman jauh lebih sedikit, penyiangan dan pengendalian gulma serta pengendalian hama dan penyakit lebih mudah dilakukan. Dengan sistem jurinng ganda diharapkan produktivitas tebu dapat meningkat antara 30-60 %. Keuntungan lain, kita dapat memanfaatkan sela di antara Pusat ke Pusat (PKP) untuk tanaman lain dengan pendekatan sistem pertanaman ganda. Persyaratan tanaman sela yaitu umur tanaman muda, struktur kanopi lebih rendah dibanding tanaman tebu, tidak rakus hara dan bukan tanaman inang bagi hama dan penyakit tanaman tebu. Budidaya tebu system juring ganda sama seperti budidaya tanaman tebu pada umumnya.. Penyiapan lahan: a) pembajakan pertama, untuk membalik tanah serta memotong sisa-sisa kayu dan vegetasi lain yang masih tertinggal; b) pembajakan kedua dilaksanakan tiga minggu setelah pembajakan pertama; c) Penggaruan untuk menghancurkan bongkahan-bongkahan tanah dan meratakan permukaan tanah; d) pembuatan kairan /pembuatan lubang untuk bibit yang akan Kairan dibuat memanjang dengan jarak PKP 1,35-1,5 m, kedalaman 30-40 cm. Penyiapan bahan tanam: benih unggul berupa bagal 2 mata /bud set/bud chip atau G2 kultur jaringan yang sudah siap ditanam di kebun tebu giling (KTG). Varietas disesuaikan dengan lokasi, tipe iklim, dan jenis tanah serta mendapat rekomendasi dari Pabrik Gula (PG) setempat Perlakuan benih sebelum tanam: a) Seleksi bibit, untuk memisahkan bibit dari jenis-jenis yang tidak ; b) Sortasi bibit untuk memilih bibit yang sehat serta memisahkan bibit bagal yang berasal dari bagian atas, tengah, dan bawah; c) Pemotongan bibit menggunakan pisau tajam dan setiap 3-4 kali pemotongan pisau dicelupkan ke dalam lisol dengan kepekatan 20%; 4) Perendaman bibit dalam air panas (500C) selama 7 jam kemudian direndam dalam air dingin selama 15 menit, untuk menjaga bibit bebas dari hama dan penyakit; 5) Bibit ditanam merata pada kairan dalam bentuk bagal dua baris dengan posisi mata di samping. Kebutuhan bibit tebu per ha antara 60-80 kwintal atau sekitar 10 mata tumbuh per meter kairan. Bibit yang telah ditanam kemudian ditutup dengan tanah setebal bibit itu sendiri. Daya kecambah > 90%, segar, tidak berkerut dan tidak kering Pemeliharaan tanaman: a.) Jumlah anakan dibatasi maksimal sepuluh (10) batang per rumpun agar kompetisi antar tanaman dapat ditekan sehingga kualitas dan produktivitas tebu meningkat dengan rendemen gula yang lebih baik; b) Penyulaman harus dilakukan bila dalam barisan tanaman tebu terdapat lebih dari 50 cm areal juring yang kosong (tidak ada tanaman yang tumbuh). Penyulaman dilakukan pada umur 4-5 minggu menjelang musim hujan menggunakan bibit tanaman yang sama baik varietas maupun umurnya; c). Pemupukan dengan dosis pupuk sesuai dengan status kesuburan lahan, mengacu pada pemupukan berimbang. Perlu penambahan pupuk organik (pupuk kandang, kompos, pupuk organik buatan atau blothing dengan dosis setidaknya 5 ton/ha) ; d). Pembumbunan tanaman. Pembumbunan pertama dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua, tanah sekedar untuk menutupi pupuk; Pembumbunan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 3-3,5 bulan; Pembumbunan ketiga dilakukan pada umur 4,5-5 bulan; e). . Klenthek, yaitu kegiatan membuang daun yang sudah tua/kering dari batang tebu untuk merangsang pertumbuhan batang, memperkeras kulit batang, menekan pertumbuhan wiwilan/sunten/tunas pada batang, mencegah roboh, dan mengurangi resiko Klenthek dilakukan setidaknya sebanyak 3 kali, pada umur 4-5 bulan, 7-8 bulan dan 1-2 bulan sebelum panen; f) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman(OPT). Pengendalian gulma dilakukan secara mekanis 2-3 kali atau sesuai kebutuhan dengan interval 4 minggu, atau secara kimia menggunakan herbisida jika gulma masih belum terkendala dengan manual. Sejak awal tanaman tumbuh sampai dengan umur 4 bulan diusahakan bebas gulma, jika sampai umur 4 bulan masih terdapat gulma, lakukan pengendalian secara mekanis. Hama yang menyerang tanaman tebu adalah penggerek pucuk, uret, dan penggerek batang, sedangkan penyakit yang menyerang tanaman tebu adalah mosaik, busuk akar, blendok, dan pokkahbung; g) fase pertumbuhan tebu dibagi menjadi 4, yaitu : (1) perkecambahan (0-5 mg), (2) pertunasan (5 mg-3,5 bulan), (3) pertumbuhan cepat (3,5-9 bulan), dan (4) pemasakan batang (≥9 bulan). Puncak kebutuhan air pada tanaman tebu terjadi pada fase pertumbuhan cepat, yaitu mencapai 0,75-0,85 cm air/hari. Panen: a) Waktu panen diatur agar penyediaan tebu di pabrik berkesinambungan dan jumlahnya sesuai dengan kapasitas pabrik; b) Waktu panen disesuaikan dengan hasil analisis pendahuluan (tingkat kematangan) tebu atau varietas tebu pada umur panen optimal; c) Batang tebu dipotong rapat dengan muka tanah atau 5-10 cm di bawah permukaan tanah; d) Batang tebu harus bersih dari daun dan pucuk; e) hindari panen dengan cara membakar batang tebu; f) Angkut ke tempat penggilingan/PG sesegera mungkin sehingga batang tebu sampai diproses pengolahan tidak lebih dari 36 jam agar rendemen tidak (Sri Wijiastuti, Pusluhtan) Sumber: https://pustaka.setjen.pertanian.go.id/multimedia/sistem-tanam-tebu-juring-ganda http://disperta.mojokertokab.go.id/berita/budidaya-tanaman-tebu-sistem-juring-ganda-1569381691 Dispertan Banten, http://disperta.mojokertokab.go.id/berita/budidaya-tanaman-tebu-sistem-juring-ganda-1569381691 http://www.litbang.pertanian.go.id