Loading...

BUDIDAYA UBI KAYU SISTEM DOUBLE ROW

BUDIDAYA UBI KAYU SISTEM DOUBLE ROW
PENDAHULUAN Budidaya ubi kayu terus dilakukan oleh petani dikarenakan permintaan dan minat masyarakat terhadap tanaman ubi kayu ini cukup tinggi tetapi akhir-akhir ini jumlah produksi ubi kayu di Provinsi Lampung berfluktuasi. Salah satu upaya yang ditawarkan oleh pemerintah dalam peningkatan produksi dan produktivitas yaitu dengan ekstensifikasi dengan pengoptimalan luas lahan dan trobosan teknologi dengan teknologi sistem tanam double row. Penerapan sisten tanam double row, memiliki beberapa keunggulan antara lain penggunaan bahan tanaman lebih sedikit dan menghasilkan ubikayu 40-50 ton/ha. Jika umumnya petani menerapkan sistem pertanaman rapat dengan jarak tanam 60 x 70 cm atau 70 x 70 cm memerlukan bibit ubikayu sebanyak 17.800 tanaman dengan produktivitas 19-25 ton/ha, tetapi dengan teknologi double row hanya memerlukan bibit sebanyak 11.200 tanaman tetapi mampu menghasilkan produktivitas sebesar 40-50 ton/ha, atau terjadi peningkatan produktivitas 90-100 persen (Asnawi, 2011). CARA BUDIDAYA UBIKAYU SISTEM DOUBLE ROW Sistem tanam double row adalah membuat baris ganda (double row), yakni jarak antar barisan 160 cm dan 80 cm, sedangkan jarak di dalam barisan sama yakni 80 cm sehingga jarak tanam ubikayu baris pertama (160 cm x 80 cm) dan baris kedua (80 cm x 80 cm). Rekomendasi cara budidaya double row dalam buku Teknologi Budidaya Ubi Kayu terdiri penggunaan bibit unggul, pengolahan tanah, sistem tanam, pemupukan, pemeliharaan dan panen, mengacu pada inovasi dari kajian sistem tanam double row yang pertama kali dilaksanakan di Kebun Percobaan BPTP Lampung oleh Dr. Ir. Robet Asnawi, M.Si selaku penggagas inovasi ini. Penggunaan Bibit Unggul Stek untuk bibit tanaman adalah varietas UJ-5 yang diambil dari tanaman yang berumur lebih dari sembilan bulan. Jumlah bibit per hektar dengan sistem tanam double row adalah 11.200 tanaman. Panjang stek yang digunakan adalah 20 cm. Pengolahan Tanah Tanah diolah sedalam 25 cm dapat dilakukan dengan membajak dengan traktor, bajak dilakukan yaitu bajak singkal dan bajak rotary kemudian dibuat guludan atau bedengan dengan jarak ganda (double row) yaitu 160 cm dan 80 cm. Sistem Tanam Sistem atau cara tanam double row adalah membuat baris ganda (double row) yakni jarak antar barisan 160 cm dan 80 cm, sedangkan jarak di dalam barisan sama yakni 80 cm. Jarak tanam baris pertama 160 cm x 80 cm dan baris kedua 80 cm x 80 cm. Penjarangan barisan ini ditujukan agar tanaman lebih banyak mendapatkan sinar matahari untuk proses fotosintesis, sehingga pembentukan zat pati lebih banyak dan ukuran umbi besar-besar. Selain itu, di antara barisan berukuran 160 cm dapat ditanami jagung dan kacang-kacangan untuk meningkatkan pendapatan petani. Keuntungan lain dari sistem tanam double row adalah jumlah bibit yang digunakan lebih sedikit yakni 11.200 tanaman dibandingkan dengan sistem tanam biasa dengan jumlah bibit 17.800 tanaman. Pemupukan Dosis pemupukan per ha yang dianjurkan adalah : 200 kg urea ,150 kg SP 36 , 100 kg KCl dan lima ton pupuk kandang. Pada musim tanam berikutnya dosis pupuk kandang dikurangi menjadi tiga ton/ha. Pemupukan urea dilakukan dua kali yakni pada umur satu bulan dan tiga bulan, sedangkan SP36 dan KCl diberikan satu kali pada umur satu bulan setelah tanam. Pemberian pupuk kandang dilakukan pada sekitar perakaran pada umur dua minggu setelah tanam. Pemeliharaan Penyiangan pertama dilakukan pada umur tiga minggu sampai satu bulan setelah tanam. Penyiangan ini dilakukan secara mekanis menggunakan koret/herbisida. Sedangkan penyiangan kedua dilakukan pada umur tiga bulan setelah tanam dengan menggunakan herbisida. Penjarangan cabang dilakukan pada umur satu bulan, dengan jumlah cabang yang dipelihara adalah dua cabang per tanaman. Panen Panen dapat dilakukan pada umur sembilan bulan sampai 12 bulan. Panen dilakukan dengan mencabut ubikayu dan memisahkan umbi dari batang. Rata-rata produktivitas ubikayu yang ditanam dengan sistem double row adalah 40-50 ton/ha (Balitkabi, 2008). Penulis : Betty Mailina, SP Sumber: berbagai sumber.