Tanaman pala (Myristica fragrans H) merupakan tanaman asli Indonesia yang sudah terkenal sebagai tanaman rempah, sehingga Indonesia merupakan produsen pala terbesar di dunia (70 – 75%). Komoditas pala Indonesia sebagian besar dihasilkan oleh perkebunan rakyat yaitu sekitar 98,84%. Perbanyakan tanaman pala umumnya menggunakan biji. Biji pala merupakan biji rekalsitran dan tidak memiliki dormansi, namun demikian perkecambahan biji memerlukan waktu lama (1 - 3 bulan) dan benih siap tanam ke lapang setelah umur 1 tahun. Tanaman pala asal biji umumnya mulai berbuah setelah 5 – 7 tahun dengan masa produktif dapat mencapai lebih dari 100 tahun. Pala merupakan tanaman berumah dua, yaitu tanaman pala jantan dan betina terpisah pada pohon yang berbeda. Namun demikian, dapat juga dijumpai tanaman yang bunga jantan dan betinanya dalam satu pohon yang sama (monoecious) meskipun sangat jarang. Penyerbukan pala merupakan penyerbukan silang sehingga perlu bantuan kumbang, thrips dan lalat. Untuk itu dalam budidaya tanaman pala, pemilihan tanaman jantan dan betina menjadi penting, karena hanya tanaman betina atau monoecious saja yang akan menghasilkan buah pala. Akibatnya jika kita salah memilih tanaman saat menanam pala maka bisa jadi tanaman pala yang kita tanam tidak berbuah sehingga akan merugikan secara ekonomis. Biji pala yang digunakan untuk benih harus mempunyai kualitas yang baik, memenuhi mutu fisik, fisiologis dan mutu genetis. Untuk itu biji yang akan dijadikan benih harus dipanen cukup umur, penampakan buah berwarna kuning kecoklatan dan atau buah sudah menunjukan adanya tanda retak (belah), tekstur kulit agak kasar, apabila dibelah warna fuli merah menyala, warna biji coklat kehitaman dan mengkilap serta biji telah keras. Deteksi pala jantan dan betina dapat dilakukan pada stadia biji dan di persemaian. Deteksi dilakukan dengan cara mengamati bentuk biji, percabangan, posisi daun serta perakaran. Deteksi pada stadia biji dilakukan dengan diperhatikan bentuk ujung benih/biji pala. Pala jantan pada bagian ujung benih/biji terdapat tonjolan/tanduk dengan perut biji agak kembung. Sedangkan pala betina pada bagian ujung benih/biji cenderung mulus membulat dengan perut biji cenderung agak datar. Deteksi pada stadia benih semai dilakukan dengan memperhatikan percabangan, posisi daun serta perakaran. Pala jantan memiliki percabangan tegak dengan sudut cabang sempit/lancip, posisi daun pada cabang cenderung agak tegak, daun lebih langsing dan mempunyai akar tunggang lurus dengan akar lateral kecil-kecil lembut. Sedangkan pala betina memiliki percabangan datar dengan sudut cabang lebih besar, posisi daun pada cabang agak datar dan agak terkulai kebawah, ukuran daun agak besar dan lebar serta mempunyai akar tunggang dengan beberapa akar lateral yang besar. Perlakuan benih jantan yang mempunyai akar tunggang lurus dengan akar lateral lembut, akar tunggang dipotong yang mengakibatkan tanaman stress, sehingga merangsang pertumbuhan akar lateral yang lebih besar yang mengakibatkan peluang benih pala akan tumbuh menjadi pala betina. Selain perlakuan yang mengakibatkan tanaman stress, perubahan jenis kelamin pada tanaman pala dapat terjadi akibat perubahan lingkungan, ukuran dan umur tanaman, perlukaan (injury) dan serangan penyakit. Hal ini akan mengakibatkan tanaman yang semula tidak berbunga menjadi dapat berbunga. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Sri Wahyuni dan Nurliani Bermawie, 2015. Deteksi Tanaman Pala Jantan dan Betina Secara Dini Berbasis Kearifan Lokal. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Vol 21 (2), Agustus 2015.