DAYA KECAMBAH BIJI BAWANG MERAH Selama ini, bawang merah biasa ditanam menggunakan umbi yang berasal dari penyisihan hasil panen (umbi konsumsi) tanaman sebelumnya. Namun setelah penanaman berlangsung sekian lama dan terus menerus, terjadi penurunan hasil bawang merah baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Adanya anggapan selama ini bahwa produksi yang rendah akibat dari kesalahan pemilihan benih, sehingga benih yang digunakan adalah benih bermutu rendah. Namun kemudian diketahui ternyata penggunaan umbi sebagai bahan tanam yang berulang-ulang dalam periode waktu lama terjadi penularan penyakit dari generasi ke generasi seperti yang terjadi pada tanaman kentang. Kondisi ini dapat menyebabkan menurunnya produksi siung bawang merah hingga 50% dan mengakibatkan terjadinya penurunan produksi sampai 45%. Alternatif saat ini yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah menggunakan biji (hasil perbanyakan generatif). Adanya produktivitas tanaman bawang merah yang tinggi dan sehat bila menggunakan benih yang berasal dari biji, sangat memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia khusunya petani bawang merah. Penanaman menggunakan biji merupakan penanaman yang sulit mengingat ukuran biji yang kecil dan daun awal pertumbuhan seperti jarum. Pengendalian gulma lebih sulit dilakukan bila dibandingkan dengan menggunakan umbi, karena ukuran gulma yang jauh lebih besar dibandingan dengan daun tanaman bawang merah yang baru tumbuh dari biji. Namun kesulitan ini tidak menjadi hambatan bagi petani bila produktivitas yang dihasilkan dapat mencapai dua kali lipat dibandingkan bila penanaman menggunakan umbi. Walaupun untuk mencapai produksi umur tanaman yang berasal dari biji lebih panjang dibandingkan dengan umur tanaman yang berasl dari umbi, namun dengan modal benih yang jauh lebih rendah akan menyebabkan petani tetap semangat menanam bawang merah dari biji, karena terjadi penghematan modal yang cukup tinggi serta sebagai antisipasi bila terjadi kegagalan panen. Kenyataan di lapangan mendapatkan produksi yang tinggi dan sehat masih jauh dari harapan. Banyaknya biji yang tidak tumbuh dan tanaman yang mati pada saat pindah tanam, serta umbi yang dihasilkan sedikit dari tanaman yang tumbuh, menyebabkan kerugianan bagi petani yang mencoba menanam bawang merah dari biji. Mungkin harapan ini masih perlu menunggu sampai dilakukan penelitian lebih lanjut hingga didapatkan biji yang betul-betul baik dengan daya tumbuh yang tinggi. Penelitian yang dilakukan Wulandari et al ( 2013); bahwa daya kecambah/daya tumbuh sampai empat minggu setelah panen masing-masing varietas berbeda. a) daya kecambah varietas Tuk-tuk; lebih dari 70%, b) daya kecambah varietas Super Filipin; lebih dari 40%, tetapi kurang dari 50%, dan c) daya kecambah varietas Bima hanya berkisar antara 41,67% sampai 51,33%.Dengan perendaman menggunakan Geberelin selama 4 jam, daya kecambah masing-masing varietas dapat meningkat: a) Varietas Tuk-tuk terjadi peningkatan menjadi 79,00 “ 85,33%, b) varietas Super Filipina terjadi peningkatan menjadi 47,67%, dan c) varietas Bima terjadi peningkatan menjadi 60%. (Ahmad Damiri). Sumber: Arief Wulandari, Joko Purnomo, dan Supriyono. 2013. Potensi Biji Botani bawang Merah (True Shallot Seed) Sebagai Bahan Tanaman Budidaya Bawang Merah di Indonesia. Jurnal.pasca. uns. ac.id. El-Vivo. Vol.2, No.1, hal 28 “ 36, April 2014.