[JAKARTA] Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa kurangnya pasokan pupuk bersubsidi membuat jumlah produksi menurun hingga 4 juta ton pada 2023. Selain itu, para petani yang bertempat tinggal di wilayah pegunungan dan hutan juga tidak berkesempatan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi. Untuk tahun ini ada penambahan anggaran pupuk subsidi sebesar Rp14 triliun pada 2024 agar pemerintah dapat bergerak cepat untuk menambah pasokan pupuk petani guna mengantisipasi fenomena El Nino”. ujar Mentan. Senada dengan hal tersebut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan Bapak Presiden sudah menyampaikannya di bulan januari untuk alokasi pupuk subsidi di tahun 2024 di tambah 14 Triliun rupiah atau setara dengan 2,5 juta ton urea ditambah Mpk. Saat ini Menteri Pertanian sudah Merevisi bahwa menebus pupuk boleh memakai Kartu Tani ataupun KTP, sehingga lebih mudah, petani dapat langsung menebus pupuk bersubsidi”. jelas Dedi Nursyamsi. Sementara itu agenda Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 02 diadakan Selasa (16/01/2024) bertemakan Pentingnya Uji Mutu Dan Uji Efektivitas Pupuk, dengan narasumber Ladiyani Retno widyawati yang merupakan Kepala BPSI Tanah Dan Pupuk. Pada arahannya Ladiyani Retno mengatakan proses cara Uji pupuk itu bisa ajukan analisa uji mutu berkala di dinas jika mau dijual di luar kabupaten.Tidak hanya terdaftar pupuk dan pembenah tanahnya, tetapi juga termonitor kualitasnya. Uji efektivitas dilakukan oleh Lembaga uji yang terkreditasi yang tercantum di Kepmentan, perlakuan dan pelaporan mengikuti perlakuan yang terdapat dalam Kepmentan, menentukan lulus atau tidaknya suatu pupuk, nilai beda nyata respon pupuk terhadap standar dan atau nilai RAE (Relative Agronomy Effectiviness)”. jelas Ladiyani Retno. Ladiyani Retno menambahkan bahwa saat ini terdapat pupuk asli dan pupuk tiruan atau palsu beredar dipasaran, petani harus jeli agar tidak tertukar. Adapun ciri kemasan pupuk asli diantaranya logo jelas dan rapi, nama produk, produsen, ijin edar. Untuk bentuk visual kompak, tidak berdebu, rasa asam dengan bau menyengat dan warna butiran seragam di bagian luar dan dalam. Sedangkan ciri pupuk tiruan atau palsu yaitu logo tidak jelas dan tidak rapi, (nama produk, produsen, ijin edar) tidak lengkap, bentuk visual tidak kompak, berdebu, mudah hancur. Rasanya asin, pahit sedangkan untuk bau tidak menyengat dan warna butiran tidak seragam di bagian luar dan dalam”. imbuh Ladiyani Retno. hevymay