DUKUNG PROGRAM P2BN, PENYULUH KUTIM PELATIHAN DI SUBANG
Indonesia merupakan salah satu negara agraris dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, setelah negara Cina, India, dan Amerika Serikat. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun, maka ketahanan pangan nasional merupakan suatu keniscayaan dalam rangka mewujudkan stabilitas politik, ekonomi, sosial dan keamanan. Salah satu usaha dalam menuju Ketahanan dan Kemandirian Pangan Nasional adalah dengan terwujudnya Program Peningkatan Produksi Beras Nasional . Namun, Seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kutai Timur, maka permintaan beras terus meningkat. Di sisi lain, dengan adanya perubahan iklim (yang menjadi lebih ekstrim) akibat pemanasan global, berdampak pada terganggunya proses produksi pada Pasar beras di Kutai Timur. Oleh sebab itu, Kutai Timur harus mampu berswasembada beras berkelanjutan dan mampu menyediakan cadangan beras yang cukup sehingga Misi Kutai Timur Tahan Pangan dan Mandiri Pangan dapat tercapai di masa mendatang. Dalam usaha mewujudkan hal tersebut di atas, maka pada tahun 2012 Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Kutai Timur melaui dana APBD II melaksanakan pelatihan Budidaya Padi di Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi Kabupaten Subang propinsi Jawa Barat. Pelatihan ini di ikuti oleh 30 Orang Penyuluh Pertanian yang berada di 18 Kecamatan dan di dampingi oleh 3 Orang Pendamping diantaranya Kepala Bidang Pengembangan dan Penyuluhan (Dra.Hj.Hanasiah, M.Si) dan KepalaSub Bidang Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Penyuluhan (Ardiansyah, S.PKP). Dalam pelatihan tersebut seluruh peserta diberikan pendidikan teknis tentang cara bercocok tanam padi yang benar dan teknik, teknologi serta informasi terbaru lain tentang cara bercocotanam Padi. Output dari pelaksanaan pelatihan ini diharapkan agar para petugas dan penyuluh pertanian yang dilatih mampu mentransferkan ilmu pengetahuan yang didapat di Sukamandi kepada para pelaku utama/usaha di wilayah binaannya, sehingga berdampak pada peningkatan produksi beras di wilayah binaan petugas/penyuluh pertanian yang bersangkutan.