Loading...

ECO ENZYME ALTERNATIF PUPUK

ECO ENZYME ALTERNATIF PUPUK
ECO-ENZYME (Ekoenzim) adalah cairan yang banyak manfaat, dari sampah organik rumah tangga yang berasal hasil limbah dari buah-buahan dan sayuran mentah (yang belum dimasak atau diproses), yang kemudian diolah dengan cara di fermentasi untuk selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya inovasi pemanfaatan limbah rumah tangga organik bila dilaksanakan secara massif akan dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Eco-Enzyme dapat dijadikan sebagai cairan multiguna dan aplikasinya meliputi rumah tangga, pertanian dan juga peternakan. Pada dasarnya, eco-enzyme mempercepat reaksi biokimia di alam untuk menghasilkan enzim yang berguna, menggunakan sampah buah atau sayuran. Enzim dari “sampah” ini adalah salah satu cara manajemen sampah yang memanfaatkan limbah dapur untuk sesuatu yang sangat bermanfaat. Manfaat Eco-Enzyme antara lain: Eco-Enzyme dapat dicampurkan pada kompos hewan untuk mengurangi bau ammonia dan meningkatkan manfaat pupuk kompos. Penggunakan eco-enzyme dapat meningkatkan kapasitas produksi sayur dan buah-buahan. Eco-Enzyme dapat dituangkan pada air sungai yang sudah bau tidak sedap dan membuatnya menjadi air yang layak digunakan untuk pertanian. Eco-Enzyme sebagai bahan utama Pesnab atau sebagai biang POC. Jenis sampah organik yang diolah menjadi eco-enzyme hanya sisa sayur atau buah yang mentah. Fermentasi yang menghasilkan alkohol dan asam asetat yang bersifat disinfektan hanya dapat diaplikasikan pada produk tanaman karena kandungan karbohidrat (gula) di dalamnya. Proses pembusukan dan fermentasi daging berbeda dengan tanaman. Daging akan cepat membusuk dan menghasilkan patogen pada suhu yang tidak teregulasi. Jika ingin membuat eco-enzyme atau ingin sampah organik diolah oleh agen sampah pastikan sampah sisa sayur dan buah terpisah dari sampah organik atau non-organik lainnya. Proses fermentasi akan berlangsung selama tiga bulan. Bulan pertama, akan dihasilkan alkohol kemudian pada bulan kedua akan menghasilkan cuka dan pada bulan ketiga menghasilkan enzim. Pada bulan ketiga eco-enzyme sudah dapat dipanen. Caranya adalah dengan menyaring menggunakan kain yang sudah tidak terpakai atau baju juga bisa digunakan untuk saringan. Sisa atau ampas eco-enzyme dapat gunakan untuk beberapa manfaat seperti: Sebagai starter atau untuk membantu mempercepat proses pembuatan eco-enzyme selanjutnya Untuk membantu proses penguraian di dalam septitank. Untuk itu, ampas ini kita hancurkan dan masukkan ke dalam saluran toilet. Sebagai kompos dengan cara meletakkannya selapis demi selapis di dalam tanah. Bahan yang digunakan dalam pembuatan eco-enzyme yaitu Sampah Organik (sayuran atau buah mentah): Gula : Air = 3 : 1 : 10. Contohnya : 900g kulit buah : 300g gula : 3000 (ml) air atau 300g kulit buah: 100g gula dan 1liter air. Proses pembuatannya: Tuangkan semua bahan ke dalam botol, cacah limbah ke bentuk yang lebih kecil atau dapat juga mempergunakan blender kemudian campur gula (GMT) dan air dalam botol Simpan di tempat yang kering dan sejuk dengan suhu dalam rumah, jauhkan dari sinar matahari langsung. Biarkan selama tiga bulan dan dibuka setiap hari di dua minggu pertama. kemudian 2-3 hari sekali, kemudian seminggu sekali. Pada minggu pertama akan banyak gas yang dihasilkan. Kadang ada lapisan putih di permukaan larutan. Jika cacing muncul tambahkan gula segenggam, aduk rata kemudian tutup. Setelah tiga bulan saring eco-enzim menggunakan kain kasa atau saringan. Ampas dapat digunakan lagi untuk batch/kelompok baru produksi dengan menambahkan sampah segar. Ampas dapat juga dikeringkan, kemudian diblender dan dibenamkan kedalam tanah sebagai pupuk. Hal penting yang harus diingat dalam pembuatan eco-enzim yaitu: Gunakan wadah yang bisa mengembang karena wadah akan terisi gas maka dari itu perlu dibuka secara berkala untuk mengeluarkan gas. Sampah untuk membuat enzim tidak termasuk kertas plastik, logam atau bahan kaca. Hindari makanan berminyak ikan atau sisa daging (bisa digunakan sebagai bahan kompos kebun). Untuk membuat enzim berbau segar, tambahkan kulit jeruk/lemon atau daun pandan, dll. Warna ideal dari eco-enzyme adalah coklat gelap. Jika berubah menjadi hitam tambahkan molase/GMT dalam jumlah yang sama untuk memulai proses fermentasi lagi Mungkin memiliki lapisan putih hitam atau coklat di atas enzim, abaikan saja. Jika Anda menemukan lalat dan cacing dalam wadah biarkan dan reaksi kimia enzim akan melarutkannya secara alami Eco-enzyme tidak akan pernah kadaluwarsa jangan simpan di kulkas Eco-enzyme dinyatakan berhasil apabila : Warnanya cerah sesuai dengan bahan yang digunakan. Namun warna ini akan sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya, tergantung dengan bahan yang digunakan. Bahkan jika bahan yang digunakan sudah sama namun micro organisme yang berbeda akan menyebabkan warna yang berbeda. Aromanya sesuai dengan bahan (tidak berbau busuk). Ada jamur putih. Kalau jamurnya hitam berarti gagal dan kita harus segera memulihkannya dengan cara menambahkan molase/GMT kedalam wadah sesuai takaran semula. Setiap hari dalam bulan pertama sebaiknya wadah dibuka untuk mengeluarkan gas. Pada saat membuka wadah eco-enzyme jika masih ada bahan yang tidak tenggelam maka dapat diaduk dan tekan hingga bahan tenggelam ke dalam air. Bau busuk yang terjadi disebabkan oleh adanya kulit buah yang sudah mulai membusuk sehingga aktivitas pertumbuhan bakteri berlangsung sangat cepat kemudian dihasilkan gas yang sangat banyak dalam waktu yang sangat cepat juga. Gas yang dihasilkan tidak dibuang secara sempurna dan rutin bahkan dibiarkan begitu saja dalam beberapa hari sehingga saat produk eco-enzyme dipanen terdapat banyak bakteri yang tidak dikeluarkan yang menyebabkan adanya bau busuk pada produk eco-enzyme. Selain itu tidak mengukur laju pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri yang kemungkinan terdapat dalam kulit buah yang hampir membusuk sehingga mengganggu proses fermentasi eco-enzyme, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dengan jelas mengenai penyebab bau busuk pada produk eco-enzyme. Eco-enzyme ini jika diproduksi dengan baik dan secara meluas di masyarakat maka dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah sampah organik dari kegiatan rumah tangga. Perlu mendorong dan mengedukasi masyarakat, pentingnya mengelola sampah untuk dipergunakan sebagai cairan multiguna dan dapat diaplikasikan untuk rumah tangga, pertanian dan juga peternakan. Ayok belum terlambat, untuk memperbaiki lingkungan lebih baik dan pertanian berkelanjutan. Referensi: http://sumbar.litbang.pertanian.go.id