Degradasi dan penurunan kualitas lahan pertanian merupakan permasalahan dalam usahatani yang berdampak pada pelandaian bahkan penurunan produktivitas tanaman. Salah satu penyebab degradasi dan penurunan kualitas lahan adalah penggunaan bahan kimia yang berlebihan, salah satunya adalah pemupukan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penggunaan pupuk kimia dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman merupakan cara yang paling disukai petani bahkan petani cenderung untuk menggunakan pupuk kimia secara berlebih dan tidak seimbang. Konsep pemupukan berimbang adalah pemberian sejumlah pupuk untuk mencapai ketersediaan hara esensial yang seimbang dan optimum ke dalam tanah. Pemupukan berimbang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil pertanian; Meningkatkan efisiensi pemupukan; Meningkatkan kesuburan dan kelestarian tanah; serta Menghindari pencemaran lingkungan dan keracunan tanaman. Diharapkan dengan pemupukan sesuai status hara tanah, maka kebutuhan tanaman dan target hasil (neraca hara) bisa tercapai. Adapun penentuan dosis pupuk yang sesuai status hara tanah dan kebutuhan tanaman ditetapkan dengan uji tanah. Pengelolaan bahan organik dan pupuk hayati dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pupuk anorganik. Prinsip Pemupukan Berimbang adalah pemupukan dengan empat tepat: (1) Tepat Dosis yaitu sesuai dengan status hara tanah, kebutuhan tanaman, dan target hasil; (2) Tepat Waktu, yaitu Hara tersedia saat tanaman memerlukan dalam jumlah banyak; (3) Tepat Cara, yaitu Penempatan pupuk di lokasi dimana tanaman secara efektif mengakses hara; (4) Tepat Jenis/Bentuk, yaitu Formula pupuk sesuai dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman. Produktivitas tanaman akan sangat tergantung dengan ketersediaan hara, dimana dibatasi oleh ketersediaan hara dalam tanah yang paling minimum. Penambahan hara yang kurang berpengaruh terhadap ketersediaan hara lain. Jika hara yang kurang tergolong hara utama, maka produksi akan semakin rendah. Pembuatan Peta Status Hara P dan K Pembuatan peta status hara P dan K cukup rumit dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu, perlu dilakukan dengan baik dan hasil pemetaan harus dapat dimanfaatkan seluas-luasnya. Beberapa alat dan bahan yang digunakan antara lain seperti: alat tulis kantor (ATK), komputer suplies, komputer, program arcview, printer, internet atau jaringan internet, peralatan dan bahan pendukung operasional seperti soil auger (bor tanah), pisau lapang, kendaraan dan sebagainya. Metode yang digunakan adalah metode desk work, dan survei, sesuai dengan metode yang disusun dan dikembangkan oleh Puslitbang Tanah dan Agroklimat Bogor, disertai penggunaan beberapa program penunjang seperti ArcView untuk layout pemetaan. a) Tahap awal adalah intepretasi peta dasar dan penyusunan peta land unit skala 1:50.000. Peta unit lahan dibuat dengan interpretasi peta citra landsat. Hasil dari peta unit lahan selanjutnya dioverlay dengan beberapa peta tematik seperti peta batas administrasi, peta rupa bumi dan peta-peta tematik lainnya. Peta produk dari kerjaan desk work dijadikan sebagai peta lapang sebagai dasar/alat petunjuk dalam survey. b) Survei dan pengambilan contoh tanah. Survey untuk identifikasi beberapa karakteristik lahan dan juga pengambilan sampel tanah untuk analisis kandungan P dan K tanah, dilakukan ke lahan-lahan yang diberdayakan untuk pertanian baik semusim maupun tahunan. c) Interpretasi data dan pemetaan. Setelah entri data, dilakukan interpretasi data hasil analisis laboratorium untuk masing-masing unit lahan. Pemanfaatan Peta Status hara P dan K Pemupukan P dan K menjadi perhatian dalam upaya peningkatan produktivitas tanaman. Hal ini dikarenakan selama ini untuk pemenuhan kebutuhan terhadap kedua unsur utama tersebut masih berdasarkan rekomendasi umum dan belum mencerminkan kesesuaian dosis dengan kondisi spesifik lokasi. Jenis lahan pertanian di Indonesia sangat beragam. Hal ini yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi padi karena dapat menjadi faktor pendukung bahkan menjadi faktor penghambat dalam berusahatani. Faktor-faktor penghambatnya akan berdampak terhadap kondisi lingkungan yang tidak sesuai bagi pertanaman. Faktor biotik yang dimaksud adalah lingkungan yang dipengaruhi oleh mahkluk hidup (tumbuhan, hewan dan manusia), sedangkan yang termasuk dalam faktor abiotik adalah lingkungan yang dipengaruhi oleh selain makhluk hidup seperti air, tanah dan sebagainya. Pengelolaan hara untuk lahan usahatani sangat penting dilakukan, mengingat pentingnya menjaga produktivitas lahan yang semakin menurun sebagai akibat penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus yang tidak diimbangi dengan pemberian pupuk organik. Pemberian pupuk dalam jumlah yang tepat dapat meningkatkan efisiensi pemupukan karena tanaman akan memanfaatkan unsur hara dalam pupuk sesuai dengan kebutuhannya, selain dari unsur hara yang tersedia di dalam tanah. Hasil penelitian yang dilakukan di BB Padi (2015) menunjukkan bahwa ± 20% pupuk P yang diserap tanaman dan pupuk K yang diserap tanaman ± 30%, selebihnya terakumulasi di dalam tanah baik pupuk P maupun pupuk K. Pada kandungan K yang tinggi tidak disarankan untuk memberikan pupuk K karena sudah mencukupi adanya sumbangan K dari jerami yang dikembalikan ke tanah. Teknologi pendukung pemupukan berimbang dan prediksi kebutuhan pupuk dapat dilakukan dengan menggunakan: (1) Peta status Hara P dan K; (2) KATAM (Kalender Tanah); (3) Software (PHSL, PUPS, PKDSS, Sipapudi); (4) Perangkat Uji Tanah (PUTS,PUTK, PUTR, PUHT). Menurut Subandi (2002) bahwa pemupukan K harus diarahkan dan disesuaikan dengan status hara K dan untuk penerapannya di lapangan ditindaklanjuti dengan kalibrasi dan validasi dan hal ini berlaku juga untuk pemupukan P. Penyediaan informasi mengenai status hara P dan K spesifik lokasi yang disertai dengan peta zonasi skala 1:50.000 akan dapat menjadi solusi yang diharapkan dapat menjadi salah satu upaya penyelesaian masalah yang diakibatkan oleh aplikasi pupuk yang tidak berimbang. Hal tersebut harus pula didukung dengan penambahan bahan organik dan pemberian pestisida secara bijaksana. (Dari berbagai sumber) Penyusun: Fauziah Y. Adriyani, Arfi Irawati dan Kiswanto Penyuluh dan Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian LampungJl. ZA. Pagar Alam No. 1A Rajabasa Bandar Lampung