Loading...

Feromon Sex

Feromon Sex
Teknologi Pengendalian Hama Ulat Bawang Merah Menggunakan Feromon Seks Feromon, berasal dari bahasa Yunani 'phero' yang artinya 'pembawa' dan 'mone' (sensasi). Feromon merupakan senyawa yang diproduksi dan dilepas oleh serangga untuk memikat serangga lawan jenisnya karena adanya tanggapan fisiologi tertentu. Zat ini berasal dari kelenjar endokrin, berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies). Feromon merupakan senyawa yang dilepas oleh salah satu jenis serangga yang dapat mempengaruhi serangga lain yang sejenis dengan adanya tanggapan fisiologi tertentu. Feromon serangga dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan serangga hama baik secara langsung maupun tidak langsung yaitu digunakan dalam hal : pemantauan serangga hama (monitoring), perangkap massal (mass trapping), pengganggu perkawinan (matting distruption), maupun kombinasi antara feromon sebagai atraktan dengan insektisida atau patogen serangga sebagai pembunuh (attracticide).Dengan mengendus feromon, serangga jantan dapat menemukan keberadaan serangga betina dari jarak berkilo-kilometer. Melalui serangkaian penelitian dan ujicoba yang panjang, ditemukan sintesa Feromon-Exi berupa atraktan feromon seks yang khusus untuk mengendalikan ulat bawang (Spodoptera exigua).Hama ulat bawang (Spodoptera sp.) hingga saat ini masih menjadi momok bagi petani Bawang Merah di Indonesia. Tidaklah heran jika petani bersedia menyediakan biaya yang cukup besar untuk mengendalikan dan membasminya. Meski serangga ulat bawang dewasa hanya kawin satu kali selama hidupnya, namun serangga ulat bawang betina mampu menghasilkan telur 300 - 500 butir/ ekor dari setiap perkawinannya. Kata peneliti Feromon Exi Dr. Ir. I Made Samudra, MSc.Feromon seks mulai diaplikasikan saat tanaman berumur satu minggu, untuk selanjutnya pemasangan kedua dilakukan saat tanaman berumur 27 hari. Perangkap feromon berupa stoples plastik yang dirancang khusus, di mana di bagian atas digantungkan senyawa feromon seks dan pada bagian bawahnya diiisi dengan air sabun. Perangkap feromon ditempatkan pada pinggiran tanaman bawang merah, secara acak dan berjarak 15 m dari masing-masing perangkap. Perangkap feromon ditempatkan pada ketinggian 30 cm di atas permukaan tanah.Dapat dibayangkan tanpa pengendalian yang tepat, peningkatan populasi akan berlipat dengan cepat. Tindakan pengendalian yang biasa dilakukan petani adalah penyemprotan berbagai jenis insektisida yang dilakukan secara intensif setiap 3-4 hari. Hal ini dilakukan petani karena menurut beberapa petani jika hama ulat bawang merah tidak dikendalikan secara intensif dapat menurunkan hasil hingga 40%. Namun demikian, penyemprotan insektisida secara intensif meningkatkan biaya untuk pemeliharaan tanaman, yaitu pengendalian hama hingga 20-25%. Selain itu, penggunaan insektisida yang berlebihan juga dapat mencemari lingkungan.Hasil percobaan di lapang menunjukkan bahwa tanaman bawang yang tidak diperlakukan dengan feromon seks membutuhkan penyemprotan insektisida sebanyak 12 kali (untuk mengendalikan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan Grandong). Hal ini berarti setiap 2 hari sekali harus dilakukan penyemprotan untuk mengendalikan hama pada tanaman bawang.Sementara itu tanaman bawang yang diperlakukan dengan feromon seks hanya disemprot sebanyak 3 kali (untuk mengendalikan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan Grandong). Dalam hal ini penyemprotan kedua dilakukan karena saat percobaan dilakukan terjadi serangan Grandong di pertanaman bawang. Rata-rata dalam semalam tidak kurang dari 200-an serangga jantan dapat terperangkap di dalam perangkap feromon.Maka dari itu penggunaan Feromon-Exi ini memiliki beberapa kelebihan :¢ Teknologi ini bersifat ramah lingkungan, tidak mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan.¢ Bersifat selektif untuk spesies hama tertentu.¢ Mampu menekan populasi serangga secara nyata.¢ Biaya yang dialokasikan lebih murah. Sebagai perbandingan penggunaan perangkap lampu membutuhkan biaya sekitar 1-2 juta rupiah tiap hektarnya, belum termasuk tambahan biaya untuk penyemprotan insektisida. Sementara itu, penyemprotan insektisida secara intensif dapat memakan biaya hingga 6 juta rupiah.¢ Mudah diterapkan. Penggunaan Feromon-ExiMenggunakan alat bantu yaitu perangkap stoples plastik yang diberi lubang jendela. Di dalam stoples, digantungkan karet atraktan Feromon-Exi dan diberikan air sabun dibagian dasar stoples. Kemudian perangkap stoples ditempatkan pada areal tanaman bawang merah, berjarak 15 m, pada ketinggian 40 cm di atas permukaan tanah.Serangga Spodoptera exigua jantan akan terpikat mendatangi perangkap dan terperangkap di air di dasar stoples. Petani dapat memeriksa serangga Spodoptera exigua yang tertangkap dengan mudah setiap saat dan mengganti air di dalam stoples.Perangkap Feromon-Exi untuk pemasangan individu diperlukan sekitar 20 perangkap per hektar. Jika pemasangan secara bersama-sama pada satu hamparan, jumlah perangkap Feromon-Exi cukup 12 perangkap per hektar.