PENDAHULUAN Hama keong mas adalah salah satu hama yang mengakibatkan tingginya resiko gagal panen pada tanaman padi. Hama keong mas menyerang tanaman padi baik dari fase penyemaian dan awal tanam. Tanaman padi yang terserang bisa habis dari pucuk daun hingga ke batang muda. Akibatnya tanaman menjadi merana bahkan mengalami gagal panen. Hama keong mas ini menjadi hama penting di beberapa daerah di Indonesia termasuk di lampung. Akibat serangan hama keong mas petani padi di Lampung, terpaksa melakukan penyulaman benih untuk meminimalisir kerugian yang bisa menurunkan produksi hingga 60 %. CIRI MORFOLOGI KEONG MAS. Bentuk cangkang keong mas hampir mirip dengan siput sawah yang disebut gondang, bedanya cangkang keong mas berwarna kuning keemasan hingga coklat transparan serta lebih tipis. Dagingnya lembut berwarna krem keputihan sampai merah keemasan atau oranye kekuningan, besarnya kurang lebih 10 cm dengan diameter cangkang 4-5 cm. Bertelur di tempat yang kering 10-13 cm dari permukaan air, kelompok telur memanjang dengan warna merah jambu seperti buah murbai karena itu disebut siput murbai, panjang kelompok telur 3 cm lebih, lebarnya 1-3 cm, dalam kelompok besarnya 4,5-7,7 mg ukuranya 2,0. Keong mas bersifat herbivor yang pemakan segala dan sangat rakus, tanaman yang disukai tanaman yang masih muda dan lunak seperti bibit padi, tanaman sayuran, dan enceng gondok. Apabila habitatnya dalam keadaan kekurangan air maka keong mas akan membenamkan diri pada lumpur yang dalam, hal ini dapat bertahan selama 6 bulan. Bila habitatnya sudah ada airnya maka keong mas akan muncul kembali pada saat pengolahan lahan. Keong mas mempunyai jenis kelamin yaitu jantan dan betina, tidak seperti jenis siput yang lain, siap melakukan kopulasi pada saat kondisi air terpenuhi pada areal persawahan. SIKLUS HIDUP KEONG MAS Keong mas dewasa meletakkan telur pada tempat-tempat yang tidak tergenang air (tempat yang kering) danbertelur pada malam hari pada rumpun tanaman, tonggak, saluran pengairan bagian atas dan rumput-rumputan. Telur diletakkan secara berkelompok berwarna merah jambu seperti buah murbei sehingga disebut juga keong murbei, menghasilkan telur sebanyak15-20 kelompok, yang tiap kelompok berjumlah kurang lebih 500 butir, dengan persentase penetasan lebih dari 85%. Waktu yang dibutuhkan pada fase telur yaitu 1 – 2 minggu, pada pertumbuhan awal membutuhkan waktu 2 – 4 minggu lalu menjadi siap kawin pada umur 2 bulan. Dalam satu kali siklus hidupnya memerlukan waktu antara 2 – 2,5 bulan dan mencapai umur kurang lebih 3 tahun. Menyerang tanaman padi yang baru ditanam sampai umur 15 hari setelah tanam, dengan cara melahap pangkal bibit padi muda, potongan daun yang mengambang dipermukaan serta mengkonsumsi seluruh tanaman muda dalam air. Keong bisa bertahan hidup pada lingkungan yang ganas seperti air yang terpolusi atau kurang kandungan oksigen. Beberapa hal yang dilakukan petani dalam menghindari keong mas : Memperdalam bagian areal pertanaman yang berada di sebelah pematang sawah sehingga berbentuk seperti parit; Menggunakan sistem pengairan macak-macak pada areal pertanaman padi muda hingga padi berumur kira-kira 20-30 hari setelah tanam. Membiarkan tumbuh rumput-rumputan halus pada pematang sawah. Menggenangi areal pertanaman setelah padi berumur lebih dari 20-30 hari. PENGENDALIAN Pengambilan keong mas secara langsung dengan tangan dari sawah pada pagi dan sore hari ketika keong dalam keadaan aktif dan mudah diambil, keong diambil satu per satu, dimasukkan dalam ember dan dijual dengan harga Rp 300,00 per kilogram seorang petani dapat mengumpulkan keong mas rata-rata hampir sekitar 20-30 kilogram selama 4 jam. Menggunakan tumbuhan yang mengandung racun, seperti daun sembung ( Blumea balsamifera ), daun/akar tuba, daun eceng gondok, daun tembakau, daun jeruk dan cabai merah. Aplikasikan sebelum penanam padi, dengan cara membuat saluran, yang digunakan untuk meletakkan tanaman racun tersebut. agar keong mas berada di dalam saluran tersebut dan selanjutnya di atas saluran tersebut tempatkan tumbuhan. Tersebut. Menggunakan atraktan seperti daun talas, daun pisang), daun pepaya, bunga terompet, dan koran bekas, supaya mudah mengumpulkan keong tersebut. Dengan cara letakkan daun tersebut dalam petakan sawah secara berjejer, berjarak 1-2 meter antar umpan, yang dilakukan sebelum panen sampai 5 minggu setelah tanam. Jumlah atraktan sebagai umpan yang diperlukan sekitar 40 kilogram per hektare. Tinggi air di sawah disarankan sekitar 5-10 cm. Meletakkan kawat kasa atau anyaman bambu pada pemasukan dan pengeluaran air utama, untuk mencegah masuknya keong mas kecil dan dewasa. Cara ini juga untuk mengambil keong mas yang terperangkap. Menggunakan pagar plastik, untuk mencegah masuknya keong mas ke dalam areal persawahan. Jika keong mas menjadi masalah yang besar, tanam padi yang berumur 25-30 hari setelah tanam. Untuk persawahan yang berada di dataran tinggi, gunakan bibit yang berumur 30 sampai 35 hari setelah tebar. Menancapkan ajir bambu sebagai perangkap telur di sawah yang selalu tergenang atau pada saluran pengairan untuk menarik keong mas dewasa bertelur. Dengan cara ini kelompok telur muda dapat terkumpul untuk kemudian diambil dan dihancurkan. Panjang kayu perangkap sekitar 1-1,5 meter, dengan diameter 1-3 centimeter, jarak antara tiang perangkap sekitar 2-3 meter. Dalam 1 hektare diperlukan sekitar 200 batang dan ketinggian air dalam petak sawah dianjurkan sekitar 5-10 centimeter. Mempertahankan air agar tidak terlalu tinggi (2-3 centimeter) mulai 3 hari tanam Mengeringkan sawah berkali-kali untuk mengurangi aktivitas perpindahan dan perusakan. Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah, maka 15 hari setelah tanam pindah, sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian ( flash flood intermitten irrigation ). Mempergunakan varietas yang beranak banyak dan kurang disukai keong mas seperti : Rc36, Rc38, Rc40, dan Rc 68. Menggunakan predator keong mas berupa, burung dan itik, kura-kura, ikan serta insekta. Penggembalaan itik di lahan persawahan, merupakan pengendalian yang efektif, dengan tanpa merusak padi yang telah ditanam. Penyusun : Nasriati Sumber : Agroklimat dan Hidrologi vol.4 dan Tanesia id.