Loading...

HAMA PENTING TANAMAN BAWANG MERAH

HAMA PENTING TANAMAN BAWANG MERAH
Pendahuluan Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung usahatani bawang merah terbilang masih baru dibudidayakan oleh petani, tanaman ini memberikan peluang keberhasilan dan potensi hasilnya lumayan besar serta dapat meningkatkan pendapatan petani. Tanaman bawang merah lebih senang tumbuh di daerah beriklim kering dengan kondisi tanah yang cukup lembab dan air tidak menggenang. Waktu tanam bawang merah yang baik adalah pada musim kemarau dengan ketersediaan air pengairan yang cukup. Penggunaan varietas yang adaptif dan berdaya hasil tinggi, pengolahan tanah yang tepat, pemupukan yang efisien, dan pengendalian hama dan penyakit yang berwawasan lingkungan merupakan aspek penting dalam usaha tani bawang merah. Namun kendala utama yang dialami petani bawang merah saat ini adalah serangan OPT terutama hama. Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT) adalah semua organisme yang mempunyai kemampuan atau potensi merusak, menggangu kehidupan atau menyebabkan terganggunya metabolisme tumbuhan sampai tumbuhan tersebut mati. Beberapa hama yang sering menyerang tanaman bawang merah adalah ulat, thrips dan penggorok daun. Ulat Potong (Agrotis ipsilon) Larva dari hama ini sangat menghindari matahari dan akan bersembunyi di dalam tanah 5-10 cm atau dalam gumpalan tanah. Larva ini aktif pada malam hari untuk mencari makan dengan mengigit pangkal batang pada tanaman tanaman muda. Pangkal batang yang digigit akan mudah patah dan mati. Pergerakan dari hama ini sangatlah cepat, larva yang baru menetas, sehari kemudian sudah dapat mengigit permukaan daun. Seekor larva ini dapat merusak ratusan tanaman muda. Stadium larva berlangsung sekitar 36 hari selanjutnya akan terjadi pembentukan pupa dipermukaan tanah. Pupa berwarna coklat terang atau coklat gelap. Lama stadia pupa 5 - 6 hari selanjutnya berubah menjadi ngengat dengan ciri imago sayap depan berwarna dasar coklat keabu-abuan dengan bercak bercak hitam. Pinggiran sayap depan berwarna putih. Ngengat ini dapat hidup paling lama 20 hari. Tindakan pengendalian dapat dilakukan dengan cara (1) melakukan pengolahan tanah sempurna sehingga pupa maupun ulat mati terkena matahari, (2) memusnahkan ulat yang dijumpai di sekitar tanaman inang, (3) menggunakan lampu perangkap, (4) menggunakan musuh alami . Ulat Daun (Spodoptera exigena) Imago betina dari hama ini akan meletakkan telur dengan bentuk oval secara berkelompok pada permukaan daun tanaman bawang merah di malam hari. Adanya rambut-rambut yang halus berwarna putih akan menutupi kumpulan telur ini, dimana dalam satu kelompok terdapat kurang lebih 80 butir telur. Telurini akan menetas dalam waktu 2-5 hari di pagi hari. Disekitar tempat menetasnya telur akan muncul larva yang hidup secara bergerombol, larva tersebut selanjutnya akan menyebar ke bagian pucuk-pucuk tanaman dan akan membuat lubang gerekan pada daun, kemudian masuk ke dalam kapiler daun. Ulat mudanya selanjutnya akan menyerang daun dengan cara melubangi dan menggerek bagian ujung daun terutama daun yang masih muda, lalu masuk ke dalam daun bawang dimana terlihat ujung-ujung daun seperti terpotong potong. Akibat serangan ulat ini, daun bawang terlihat menerawang tembus cahaya atau terlihat bercak bercak berwarna putih. Selanjutnya terjadi proses pembentukan pupa yang terjadi ditanah dan akan muncul ngengat dengan sayap bagian depan berwarna putih ke abu-abuan. Pada bagian tengah sayap depan terdapat tiga pasang bintik bintik yang berwarna perak. Pengendalian serangga dewasa dari ulat bawang dapat menggunakan lampu perangkap/sex feromon, lampu bohlam dipasang di lahan dengan bak penampung berisi air dibawahnya. Jarak mulut bak dengan tanaman tidak lebih dari 40 cm. Sedangkan jarak lampu dengan mulut bak kurang lebih 7 cm. Untuk menghindari hujan, diatas lampu diberi pelindung. Lampu dinyalakan secara serentak sejak matahari terbenam sampai dengan matahari terbit. Pengendalian secara mekanis dengan cara pengumpulan kelompok telur dan ulat bawang kemudian dimusnahkan dengan cara dipencet. Pemusnahan satu kelompok telur setara dengan membunuh ± 80 ulat. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan pemanfaatan agensia hayati virus Se-NPV. Se-NPV dapat dibuat dengan cara mengumpulkan ulat ulat yang sakit yang diperoleh dari lahan dan selanjutnya digunakan untuk perbanyakan virus ini. Ciri ciri ulat bawang yang sakit yaitu ulat tampak berminyak dan perubahan warna tubuh menjadi pucat kemerahan, terutama bagian perut. Ulat cenderung merayap ke pucuk tanaman, yang kemudian mati dalam keadaan menggantung dengan kaki semuanya pada bagian tanaman. Selanjutnya tubuh ulat akan pecah dan menyebar virus yang siap menginfeksi ulat sehat lainnya. Cara perbanyakan virus Se-NPV yaitu sediakan ulat bawang, pakan ulat, biang virus Se-NPV, kotak plastic, kertas Koran, plastic, kain kasa dan air bersih. Tempat pemeliharaan ulat disiapkan dengan melubangi kotak plastic dan tutup dengan kain kasa. Biang virus Se-NPV didapat dari ulat Spodoptera exigua terserang yang dihancurkan dalam wadah mangkok dari porselen atau kaca dengan ditambahkan air sebanyak 2 sendok makan untuk setiap 1 ekor ulat. Biang Se-NPV sebanyak 1 sendok the dimasukkan dalam gelas air mineral dan ditambahkan 200 ml air bersih, kemudian diaduk. Kedalam gelas air mineral yang berisi cairan mengandung virus Se-NPV tersebut dimasukan pada ulat (daun bawang) dan dibiarkan selama 15 menit. Selanjutnya pakan ulat tersebut diangkat dan dimasukkan kedalam kotak plastik. Kedalam kotak plastic tersebut dimasukkan ulat dan diabiarkan selama 24 jam. Ulat yang mati dikumpulkan selanjutnya siap digunakan atau masukkan kedalam botol film untuk disimpan dalam lemari pendingin (freezer). Pengaplikasian dilapangan yaitu dengan cara ulat yang terserang dari hasil perbanyak tersebut dihancurkan/dilumatkan, ditambahkan dengan 0,5 liter air, selanjutnya disaring. Untuk lahan satu hektar dugunakan sebanyak 1500 ulat terinfeksi. Hasil perasan ulat (suspense) tersebut ditambahkan dengan 500 liter air dan siap diaplikasikan ke tanaman. Penyemprotan dilakukan pada bagian bawah daun, karena virus dapat bertahan lama dan hasilnya lebih baik. Pengaplikasian dilakukan pada sore hari karena Se-NPV tidak tahan terhadap sinar matahari. Ulat Grayak (Spodoptera litura) Ulat grayak meletakan telur secara berkelompok pada daun. Warna dari larva ini bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau muda dan hidup berkelompok. Gejala serangan dari ulat ini adalah daun yang terserang hanya tinggal epidermis saja dan daun transparan. Pengendalian serangga dewasa dapat menggunakan lampu perangkap sex feromon. Caranya lampu bohlam dipasang di lahan dengan bak penampung berisi air dibawahnya. Jarak mulut bak dengan tanaman tidak lebih dari 40 cm. Sedangkan jarak lampu dengan mulut bak kurang lebih 7 cm. Agar terlindung dari hujandiatas lampu diberi pelindung, lampu dinyalakan secara serentak sejak matahari terbenam sampai dengan menjelang matahari terbit. Pengendalian secara mekanis dengan cara mengumpulkan kelompok telur dan ulat bawang kemudian dimusnahkan. Trips (Thrips tabaci Lind) Hama trips menyerang daun muda dan pucuk daun. Nimfa dan imago menyerang bagian tersebut dengan cara meraut jaringan daun muda dan menghisap cairan selnya. Daun yang terserang akan berwarna putih mengkilap seperti perak lalu berubah kecoklatan dan berbintik hitam. Pada serangan berat seluruh daun akan berwarna putih, dan umbi yang dihasilkan akan kecil dengan kualitas rendah. Pengendalian yang tidak maksimal akan dapat menyebabkan trips terikut pada saat panen dan akan terbawa sampai di tempat penyimpanan dan kondisi ini akan menyebabkan bagian lembaga umbi bawang merah menjadi rusak. Serangan trips terberat biasanya terjadi pada saat suhu rata rata di atas suhu normal yang disertai hujan rintik rintik dengan kelembaban udara di atas 70 %. Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan (1) pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya, (2) penanaman serentak pada pertengahan mei sampai awal Juni, (3) penggunaan musuh alami kumbang macan, (4) melakukan pengamatan dengan intervalminimal satu minggu 2 kali, (5) Melakukan pemasangan perangkap berwarna kuning berperekat, sebanyak 80 – 100 buah per hektar, (6) pengendalian dengan insektisida secara selektif. Penggorok Daun (Liriomyza chinensis) Gejala serangan ditandai dengan adanya bintik bintik putih akibat tusukan ovipositor lalat betina dan liang korokan larva yang berliku liku pada daun bawang. Srrangan berat akan terlihat hamper seluruh helaian daun penuh dengan korokan berwarna coklat seperti terbakar dan mongering. Pengendalian dapat dilakukan dengan pemasangan perangkap likat kuning yang terbuat dari plastik kertas kuning dengan ukuran 16 x 16 cm kemudian ditempelkan pada triplek atau kaleng dengan ukuran yang sama lalu dipasang pada tiang bamboo yang gingginya maksimal 60 cm. Jumlah perangkap yang digunakan sebanyak 40 buah per ha. Selain itu pengendalian dapat juga dilakukan dengan melakukan perangkap penggorok daun dewasa menggunakan traping berjalan dengan ukuran tinggi 30n- 50 cm lebar disesuaikan dengan lebar bedengan dengan bentuk melengkung, traping diolesi dengan bahan perekat serangga. Pengendalian juga dilakukan dengan penggunaan musuh alami penggorok daun dan jika serangan berat alternative terakhir dapat menggunakan penyemprotan pestisida efektif sesuai anjuran dengan bahan aktif bensultaf, klorfenapir dan siromazin. Sumber Bacaan : Hidrayani. 2019. Pengendalian Hama Bawang Merah Ramah Lingkungan. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang. Aziz, A. 2022. Pengendalian OPT Bawang Merah. BPTPH Sumatera Barat. Nani Sumarni dan Achmad Hidayat. 2005. Budidaya Bawang Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Suwandi. 2014. Budidaya Bawang Merah di Luar Musim. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.