Loading...

HAMA PENYAKIT PADA TANAMAN TEBU DAN CARA PENGENDALIANNYA

HAMA PENYAKIT PADA TANAMAN TEBU DAN CARA PENGENDALIANNYA
PENDAHULUAN Tebu merupakan tanaman yang multifungsi, selain sebagai penghasil gula juga dapat dimanfaatkan sebagai biofuel, daunnya bisa menjadi sumber pakan ternak, serasahnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik yang jika dikembalikan lagi ke tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah. Namun demikian, tebu juga rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Beberapa hama dan penyakit yang dapat menyebabkan kerugian hasil yang cukup tinggi, baik itu menurunkan produksi maupun kualitas nira yang dihasilkan Ada beberapa hama dan penyakit pada tanaman tebu yang ditemukan di beberapa wilayah di Indonesia yang keberadaannya sangat mengganggu produksi dan produktivitas tebu, yaitu sebagai berikut: 1. Hama a. Penggerek Pucuk (Triporyza vinella F) Penggerek pucuk menyerang tanaman tebu pada umur 2 minggu sampai umur tebang. Gejala serangan berupa lubang-lubang melintang pada helai daun yang sudah mengembang. Serangan penggerek pucuk pada tanaman yang belum beruas dapat menyebabkan kematian, sedangkan serangan pada tanaman yang beruas akan menyebabkan tumbuhnya siwilan sehinggga rendemen menurun. Pengendalian dilakukan dengan memakai pestisida nabati dan agensia hayati atau dengan menebarkan insektisida sistemik, misalnya Carbofuran atau Petrofur di tanah dengan dosis 25 kg/ha. b. Uret (Lepidieta stigma F) Hama uret berupa larva kumbang terutama dari familia Melolonthidae dan Rutelidae. Uret menyerang perakaran dengan memakan akar, sehinga tanaman tebu menunjukkan gejala seperti kekeringan. Jenis uret yang menyerang tebu di Indonesia antara lain Leucopholis rorida, Psilophis sp. dan Pachnessa nicobarica . Pengendalian dilakukan secara mekanis atau khemis dengan menangkap kumbang pada sore/malam hari dengan perangkap lampu. Selain itu dapat pula dilakukan dengan cara pengolahan tanah untuk membunuh larva uret,penanaman menghindari musim serangan uret (Juni-Juli) atau dengan agensia hayati (Metarhyzium atau Beauveria bassiana). c. Penggerek Batang Ada beberapa jenis penggerek batang yang menyerang tanaman tebu antara lain penggerek batang bergaris (Proceras sacchariphagus Boyer), penggerek batang berkilat (Chilotraea auricilia Dudg), penggerek batang abu-abu (Eucosma schista-ceana Sn), penggerek batang kuning (Chilotraea infuscatella Sn), dan penggerek batang jambon (Sesamia inferens Walk). Diantara hama penggerek batang tersebut,penggerek batang bergaris merupakan yang hampir selalu ditemukan di semua kebun tebu. Serangan penggerek batang pada tanaman tebu muda berumur 3-5 bulan atau kurang dapat menyebabkan kematian tanaman karena titik tumbuhnya mati. Sedangkan serangan pada tanaman tua menyebabkan kerusakan ruas-ruas batang dan pertumbuhan ruas diatasnya terganggu, sehingga batang menjadi pendek, berat batang turun dan rendemen gula menjadi turun pula. Tingkat serangan hama ini dapat mencapai 25%. Pengendalian umumnya dilakukan dengan menyemprotkan insektisida,antara lain dengan penyemprotan Pestona/ Natural BVR. Beberapa cara pengendalian lain yang dilakukan yaitu secara biologis dengan musuh alami berupa cendawan Beauveria bassiana, parasitoid telur Trichogramma sp.dan lalat jatiroto (Diatraeophaga striatalis). Secara mekanis dengan rogesan. Kultur teknis dengan menggunakan varietas tahan yaitu PS 46, 56,57 dan M442-51. Secara terpadu, pengendalian dilakukan dengan memadukan 2 atau lebih cara-cara pengendalian tersebut. 2. Penyakit a. Penyakit Mosaik Penyakit ini disebabkan oleh virus. Gejala serangan ditandai pada daun terdapat noda-noda atau garis-garis berwarna hijau muda, hijau tua, kuning atau klorosis yang sejajar dengan berkas-berkas pembuluh kayu. Gejala ini nampak jelas pada helaian daun muda. Penyebaran penyakit dibantu oleh serangga vektor yaitu kutu daun tanaman jagung, Rhopalosiphun maidis. Pengendalian dilakukan dengan menanam jenis tebu yang tahan, menghindari infeksi dengan menggunakan bibit sehat, dan pembersihan lingkungan kebun tebu. b. Penyakit Busuk Akar Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Pythium sp. Penyakit ini banyak terjadi pada lahan yang drainasenya kurang sempurna. Akibat serangan maka akar tebu menjadi busuk sehingga tanaman menjadi mati dan tampak layu. Pengendalian penyakit dilakukan dengan menanam varietas tahan dan dengan memperbaiki drainase lahan. c. Penyakit Blendok Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas albilineans. Gejala serangan ditandai dengan timbulnya klorosis pada daun yang mengikuti alur pembuluh. Jalur klorosis ini lama-lamamenjadi kering. Penyakit blendok terlihat kira-kira 6 minggu hingga 2 bulan setelah tanam. Jika daun terserang berat, seluruh daun bergaris-garis hijau dan putih. Penularan penyakit terjadi melalui bibit yang berpenyakit blendok atau melalui pisau pemotong bibit. Pengendalian dengan menanam varietas tahan penyakit, penggunaan bibit sehat,dan serta mencegah penularan dengan menggunakan larutan desinfektan lysol 15% untuk pisau pemotong bibit. d. Penyakit Pokkahbung Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Gibberella moniliformis. Gejala serangan berupa bintik-bintik klorosis pada daun terutama pangkal daun, seringkali disertai cacat bentuk sehingga daun-daun tidak dapat membuka sempurna, ruas-ruas bengkok dan sedikit gepeng.Akibat serangan,pucuk tanaman tebu putus karena busuk. Pengendalian dapat dilakukan dengan menyemprotkan 2 sendok makan Natural GLIO + 2 sendok makan gula pasir pada daun muda setiap minggu, pengembusan dengan tepung kapur tembaga (1:4:5) atau dengan menanam varietas tahan Penyusun : Dede Rohayana Penyuluh Pertanian BPSIP Lampung Referensi : Pedoman Umum Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu (P2T3). Jakarta Balitbang Pertanian