Loading...

HAMA TANAMAN JERUK DAN CARA PENGENDALIANNYA

HAMA TANAMAN JERUK DAN CARA PENGENDALIANNYA
Kutu Loncat Jeruk (Diaphorina citri Kuw.) Gejala Kutu loncat jeruk menyerang kuncup, tunas, daun-daun muda dan tangkai daun yang mengakibatkan tunas-tunas muda keriting dan pertumbuhannya Apabila serangan parah, bagian tanaman terserang biasanya kering secara perlahan kemudian mati. Kutu juga menghasilkan sekresi berwama putih transparan berbentuk spiral, diletakkan berserak di atas permukaan daun atau Serangga ini selain sebagai hama juga sebagai vektor penyakit CVPD. Pengendalian Pengendalian secara kimiawi yang cukup efektif untuk mengendalikan hama ini antara lain insektisida dengan bahan aktif Dimethoate, Alfametrin,Profenofos, Sipermetrin dan sebagainya yang diaplikasikan melalui penyemprotan daun dan imidakloprid yang diaplikasikan melalui saputan batang. Saputan batang diaplikasikan pada ketinggian 10-20 cm di atas bidang sambungan/okulasi dengan lebar saputan kurang lebih sama dengan diameter batang. Aplikasi penyaputan batang harus diikuti dengan penyiraman dengan air untuk mempercepat distribusi insektisida ke seluruh jaringan tanaman. Pengendalian sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Kutu Daun Coklat (Toxoptera citricidus Kirk), Kutu Daun Hitam (Toxoptera aurantii), Kutu Daun Hijau (Myzus persicae dan Aphis gossypii) Gejala Kutu daun ini menyerang tunas dan daun muda dengan cara menghisap cairan tanaman sehingga helaian daun menggulung. Kutu menghasilkan embun madu yang melapisi permukaan daun sehingga merangsang jamur tumbuh (embun jelaga). Pengendalian Di alam kutu ini dikendalikan oleh predator-predator dari famili Syrphidae, Coccinellidae, Secara kultur teknis, penggunaan mulsa jerami di bedengan pembibitan jeruk dapat menghambat perkembangan populasi kutu. Untuk pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Dimethoate, Alfametrin, AbaJmektin dan Sipermetrin secara penyemprotan terbatas pada tunas-tunas yang terserang dan apabila serangan parah dapat dikendalikan dengan Imidaklopind yang diaplikasikan melalui saputan batang Tungau (Panonychus citri McGregor, Phyllocoptruta oleivora Ashmead) Gejala Tungau karat jeruk memangsa buah muda mulai yang ukurannya sebesar kacang dan kerusakan biasanya tampak setelah buah berukuran sebesar kelereng. Lapisan epidermis kulit buah ikut rusak dan seiring dengan membesamya buah maka akan tampak gejala bekas tusukan pada buah, walaupun hama tungaunya sudah tidak ada. Apabila serangannya parah, selain cabang, daun dan buah muda, buah yang masak bisa juga terserang. Serangan awal pada buah menimbulkan gejala wama buah keperakan (pada jenis lemon dan grapefruit) atau coklat keperakan (pada jeruk jenis lain). Pada fase selanjutnya buah yang terserang wamanya berubah menjadi coklat, sampai ungu kehitaman. Pengendalian Di lapang populasi tungau dikendalikan secara alami oleh musuh alami seperti predator Amblyseius citri. Pengendalian hayati juga dapat dilakukan dengan entomopatogen Hirsutella sp. dan predator Secara kimia hama tungau dapat dikendalikan dengan akarisida antara lain yang berbahan aktif Propagit, Dikofol, Dinobuton, Sipermetrin, Karbosulfan, Permetrin, dan Piridaben. Apabila pengendalian terhadap serangan penyakit menggunakan fungisida yang berbahan aktif belerang (Sulfur) seperti Maneb, Mankozeb atau Zineb maupun bubur California maka pengendalian terhadap tungau kadang-kadang tidak diperlukan lagi karena sulfur diketahui dapat mengurangi populasi tungau. Thrips (Scirtothrips citri) Gejala Thrips menyerang bagian tangkai dan daun muda mengakibatkan helai daun menebal, kedua sisi daun agak menggulung ke atas dan pertumbuhannya tidak normal. Serangan pada buah terjadi mulai pada fase bunga dan etika buah masih sangat muda, dengan meninggalkan bekas luka berwama coklat keabu-abuan yang disertai garis nekrotis di sekeliling luka, tampak di permukaan kulit buah di sekeliling tangkai atau melingkar pada sekeliling kulit buah. Pengendalian Menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidak terlalu rapat sehingga sinar matahari bisa menerobos sampai ke bagian dalam tajuk. Hindari penggunaan mulsa jerami yang dapat digunakan untuk tempat bertelur. Pengendalian terhadap hama ini pada saat tanaman sedang bertunas, berbunga dan pembentukan buah pada musim kemarau cukup efektif mengendalikan populasi thrips. Secara kimia thrips dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisid berbahan aktifAlfametrin/Alfasipermetrin. Penggerek Buah (Citripestis sagittiferella Moore) Gejala Ulat menggerek buah sampai ke daging buah, sehingga terlihat bekas lubang yang mengeluarkan getah seperti blendok, kadang-kadang tertutup dengan kotoran. Bagian buah yang terserang biasanya tampak pada bagian bawah dan apabila serangan parah buah akan busuk dan gugur. Pengendalian Untuk mencegah peletakan telur sebaiknya dilakukan pembungkusan pada buah (jeruk besar), memetik buah jeruk yang terserang kemudian dibenam dalam tanah atau dibakar. Pengendalian cara ini biasanya dilakukan sekaligus untuk mengendalikan lalat buah dan puru Pengendalian dengan insektisida dilakukan sebelum telur menetas yaitu saat buah umur 2-5 bulan sehingga larva yang baru keluar akan segera mati sebelum sempat menggerek. Di alam, populasi hama ini dikendalikan oleh parasit telur Trichogramma nana. Lalat Buah (Bactrocera spp.) Gejala Serangan lalat buah ditemukan terutama pada buah yang hampir masak. Gejala awal ditandai dengan noda/titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur) lalat betina saat meletakkan telur ke dalam buah. Selanjutnya karena aktivitas hama di dalam buah, noda tersebut berkembang menjadi Larva makan daging buah sehingga menyebabkan buah busuk sebelum masak. Apabila dibelah pada daging buah terdapat belatung-belatung kecil yang biasanya meloncat apabila tersentuh. Pada buah yang terserang biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengah kulitnya. Pengendalian Di alam lalat buah mempunyai musuh alami berupa parasitoid dari genus biosteres dan opius dan beberapa predator seperti semut sayap jala Chrysopidae va. (ordo Neuroptera), kepik Pentatomide ( ordo Hemiptera) dan beberapa kumbang tanah (ordo Coleoptera). Cara mekanis untuk mengendalikan lalat buah adalah dengan pengumpulan dan pemungutan sisa buah yang tidak dipanen terutama buah sotiran untuk menghindarkan hama tersebut menjadi inang potensial, akan menjadi sumber serangan berikutnya. Pengendalian mekanis dilakukan juga dengan mengumpulkan buah yang busuk atau sudah terserang kemudian dibenamkan kedalam tanah atau dibakar. Pembungkusan buah mulai umur 1,5 bulan untuk mencegah peletakan telur (oviposisi) Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan pengolahan tanah (membalik tanah) di bawah pohon/tajuk tanaman dengan tujuan agar pupa terangkat ke permukaan tanah sehingga terkena sinar matahari dan akhimya mati. Pengendalian dengan cara kimia dilakukan dengan menggunakan senyawa perangkap/atraktan yang dikombinasikan dengan insektisida. Senyawa yang umum digunakan adalah Methyl Caranya dengan meneteskan pada segumpal kapas sampai basah namun tidak menetes, ditambah dengan insektisida dan dipasang pada perangkap yang sederhana, modifikasi dari model perangkap Stiener. Alat perangkap terbuat dari dari botol bekas air minum mineral yang lehemya berbentuk kerucut atau toples plastik. Perangkap dipasang dekat pertanaman atau pada cabang atau ranting tanaman jeruk. Pemasangan dilakukan sejak buah pentil (umur ± 1,5 bulan) sampai panen. Pemberian cairan atraktan diulang setiap 2 minggu sampai 1 bulan. Setiap satu hektar dapat dipasang 15-25 perangkap.