Pendahuluan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai provinsi yang berbentuk kepulauan saat ini terus melakukan pengembangan untuk komditas bawang merah. Ketergantungan Bangka Belitung terhadap komoditas bawang merah perlu dikurangi sehingga petani lokal dapat membudidayakan bawang merah secara baik. Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan nasional yang mempunyai daya adaptasi dan nilai ekonomi cukup tinggi. Lokasi produksinya tersebar cukup luas, baik di dataran rendah, medium maupun di dataran tinggi dan dapat ditanam pada musim penghujan maupun musim kemarau. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional. Namun seperti juga pada usahatani sayuran lainnya, berbagai kendala yang masih dihadapi oleh agribisnis bawang merah, di antaranya adalah serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang tinggi khususnya hama. Ulat Bawang (S. Exigua) Gejala Serangan : Ketika masih muda, larva berwarna hijau muda dan jika sudah tua berwarna hijau kecoklatan gelap dengan garis kekuningan-kuningan. Gejala serangan yang ditimbulkan oleh ulat bawang ditandai oleh adanya lubang-lubang pada daun mulai dari tepi daun permukaan atas atau bawah. Pengendalian : Aplikasi insektisida seperti Spinosad (0,5-1 ml/l), Tiametoksam + Klorantraniliprol (0,5-1ml/l), campuran Spinosad (0,5ml/l) + Metomil (1g/l), Lambda Sihalothrin + Klorantraniliprol (0,1-0,2 ml/l) atau Emamektin Benzoat (0,03 g/l). Penyemprotan dilakukan pada sore hari sekitar pukul 16.00 “ 17.00. Ulat Grayak (S. Litura) Gejala Serangan : Warna bervariasi, tetapi terdapat motif seperti kalung hitam pada bagian perut ruas ke empat dan ke sepuluh. Pada sisi terdapat garis kuning. Pengendalian : Jika ditemukan serangan ulat grayak, pertanaman disemprot dengan insektisida Spinosad (0,5 ml) atau Emamektin Benzoat (0,03 g/l). Trips Gejala Serangan : daun berwarna putih keperak-perakan. Pada serangan hebat, seluruh areal pertanaman berwarna putih dan akhirnya tanaman mati. Pengendalian : Permukaan air di parit dipertahankan pada ketinggian 15 “ 20 cm dari permukaan bedengan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang lembab di sekitar tanaman. Kondisi demikian tidak di sukai trips. Selanjutnya jika serangan trips berlanjut dilakukan dengan aplikasi insektisida antara lain Abamektin (0,5 ml/l), Spinosad (0,5 ml/l). Lalat Penggorok Daun Gejala Serangan : daun bawang merah yang terserang, berupa bintik-bintik putih akibat tusukan ovipositor, dan berupa liang korokan larva yang berkelok-kelok. Pada keadaan serangan berat, hampir seluruh helaian daun penuh dengan korokan, sehingga menjadi kering dan berwarna coklat seperti terbakar. Pengendalian : Jika ditemukan serangan lalat pengorok daun dan intensitas serangannya mencapai 10%, maka tanaman disemprot dengan insektisida Siromazin (0,15-1,30 g/l). Orong-orong atau Anjing Tanah Gejala Serangan : Umumnya menyerang tanaman bawang merah pada penanaman kedua. Hama ini menyerang tanaman yang berumur 1 -2 minggu setelah tanam. Gejala serangan ditandai dengan layunya tanaman, karena akar tanaman rusak. Pengendalian : Jika ditemukan serangan orong-orong segera pasang umpan beracun yang terdiri atas campuran dedak bekatul sebanyak 10 kg + insektisida Profenomos. Kedua bahan tersebut diaduk hingga rata lalu dihamparkan di atas bedengan pertanaman bawang merah pada sore hari. Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung) Sumber Bacaan : - Tonny K. Moekasan dkk. 2010. Modul Pelatihan SL-PTT Cabai Merah “ Bawang Merah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.- Tonny K. Moekasan dkk. 2011. Buku Saku PTT Cabai Merah-Bawang Merah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.- Inovasi Teknologi Hortikultura, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bangka Belitung. Sumber Gambar : Puslitbang Hortikultura