Pendahuluan Hanjeli atau jali adalah sejenis tumbuhan biji-bijian (serealia) tropika dari suku padi-padian yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan pangan baru sumber karbohidrat. Di Indonesia tanaman ini termasuk kedalam tanaman langka dan lebih sering dianggap sebagai gulma, padahal dibeberapa daerah seperti jawa barat tanaman ini dibudidayakan secara konvensional. Tanaman hanjeli memiliki banyak khasiat dan manfaat. Biji hanjeli dapat digunakan sebagai bahan pangan karbohidrat dengan nilai gizi terdiri dari karbohidrat 76,40 %; lemak 7,90 % dan protein 14,10 %. Daun hanjeli dapat digunakan sebagai pupuk dan pakan ternak, sedangkan akar hanjeli dapat digunakan sebagai obat. Hanjeli memiliki kandungan kalsium yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan oleh penderita osteoporosis. Selain itu tanaman ini aman dikonsumsi penderita diabetes karena indeks glikemiknya rendah. Kandungan bioaktif dalam bijinya dapat mengendalikan tumor atau kanker, serta kulit bijinya mengandung biosilica yang tinggi. Tanaman hanjeli berbentuk rumpun setahun dengan rumpun yang banyak serta batang yang tegak dan besar. Tinggi batang dapat mencapai 1-3 m. Akar tanaman bersifat kasar dan sulit dicabut. Letak daunnya berseling dengan helaian berbentuk pita dan ukuran 1-5 cm. Ujung daun hanjeli berbentuk runcing, pangkalnya memeluk batang, dan tepinya rata. Bunga akan keluar dari ketiak daun dan ujung percabangan. Bunga tersebut berbentuk bulir. Buahnya seperti buah batu dan berbentuk bulat lonjong. Warna buah adalah putih atau biru-ungu dan berkulit keras saat sudah tua. Terdapat dua jenis buah hanjeli yaitu buah yang keras dan lunak. Buah keras biasanya tumbuh secara liar di alam bebas dengan biji dan cangkang keras berwarna putih dan berbentuk oval, biasanya jenis ini digunakan untuk pembuatan kerajinan seperti kerajinan manik-manik pada kalung. Sementara hanjeli dengan jenis buah lunak dapat dikonsumsi sebagai bahan pangan alternatif. Hanjeli jenis lunak ini yang dapat diolah menjadi alternatif panganan seperti nasi hanjeli, bubur, tape, dodol, dan sebagainya. Hanjeli jenis ini memiliki tekstur yang kenyal tetapi tidak lengket. Budidaya Hanjeli Hanjeli memiliki kemampuan tumbuh yang baik diberbagai ekosistem mulai dari daerah iklim kering, basah, lahan kering maupun lahan basah serta termasuk dilahan marginal. Tanaman ini tahan terhadap kekeringan, tahan serangan hama penyakit, dan pertumbuhannya bersifat indeterminan, serta bisa dipanen beberapa kali setelah dipangkas atau diratoon. Tanaman hanjeli dapat tumbuh optimal pada kondisi iklim panas, pH yang disukai sekitar 4,3-7,3 dengan tanah lempung berpasir atau tanah liat. Langkah pertama dalam pengolahan lahan untuk tanaman hanjeli yaitu lahan digemburkan terlebih dahulu dengan cara dicangkul kemudian dilakukan pemupukan dasar dengan menggunakan pupuk kandang atau pupuk bokashi. Langkah selanjutnya adalah dengan membuat bedengan. Untuk mengurangi pertumbuhan gulma dan menjaga kelembaban tanah sebaiknya pada bedengan yang telah disiapkan dipasangkan mulsa organik atau mulsa plastik. Setelah lahan siap digunakan, Langkah selanjutnya adalah melakukan penanaman hanjeli, namun sebelumnya benih hanjeli diberikan perlakuan insektisida dengan dosis 10-15 kg/ha. Perlakuan ini berfungsi untuk mencegah tanaman dari serangan hama penyakit. Penanaman menggunakan jarak tanam antar lubang tanam 40 cm x 60 cm dengan 2-3 biji per lubang tanam. Hanjeli dengan biji jenis lunak atau pulut biasanya akan cepat berkecambah karena tidak memiliki masa dormansi sedangkan hanjeli dengan buah atau biji keras biasanya mempunyai masa dormansi hingga 4 bulan. Pemeliharaan tanaman hanjeli ini tergolong lebih mudah dibandingkan dengan serealia lainnya. Pemeliharaan meliputi kegiatan penyiraman, pemupukan dan pengendalian hama penyakit. Penyiraman dapat dilakukan pada pagi atau siang hari, jika tidak ada hujan atau irigasi. Pupuk yang diberikan berupa NPK dan pupuk organik 2 ton/ha. Pemberian pupuk dasar dilakukan pada saat tanam. Saat menjelang pembungaan, diberikan pupuk susulan NPK 100 kg/ha. Kegiatan penyulaman dilakukan pada umur 21-24 HST. Tanaman hanjeli relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit namun tindakan pengendalian juga perlu dilakukan jika terlihat sudah ada gejala serangan. Hama yang biasa menyerang adalah burung. Pemanenan dapat dilakukan jika biji hanjeli sudah matang fisiologis, yang ditandai dengan biji telah berisi atau bernas, keras jika ditekan dengan tangan, dan berwarna putih mengkilap. Panen dengan cara dipetik sampai ketiak daun. Tanaman hanjeli biasanya berbunga pada umur 68-132 hari setelah tanam dan sampai dengan waktu panen biasanya berkisar 141-181 HST, rata-rata 165 HST. Hasil panen selanjutnya disimpan dalam keadaan kering dengan kadar air 13 %, penyimpanan menggunakan wadah kering atau plastik kedap udara. Pengolahan Hanjeli Produk pangan yang dapat dihasilkan dari hanjeli ini berupa berasan dan tepung hanjeli. Produk berasan hanjeli bisa diolah menjadi nasi hanjeli, bubur, brondong ataupun teng teng. Sedangkan produk tepung hanjeli ini dihasilkan dari olahan biji hanjeli. Produk tepung inilah yang dimanfaatkan sebagai komposit dengan tepung terigu, selanjutnya dapat dijadikan berbagai olahan pangan sehat dan enak diantaranya brownies, kerupuk, cookies, tortila, opak, yogurt hanjeli, dan aneka kue basah maupun kering lainnya.