Loading...

IMPLEMENTASI PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK PADAT (POP) DAN CAIR (POC) PADA TANAMAN KUBIS RAMAH LINGKUNGAN

IMPLEMENTASI  PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK PADAT (POP) DAN CAIR (POC) PADA TANAMAN KUBIS RAMAH LINGKUNGAN
Latar BelakangPertanian ramah lingkungan merupakan konsep model pertanian yang bertujuan agar kegiatan ekonomi tidak merusak lingkungan, dengan tetap memperhatikan keterkaitan antara ekologi, ekonomi, dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Menyikapi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan pertanian konvensional, perhatian masyarakat dunia perlahan mulai bergeser ke pertanian yang ramah lingkungan. Salah satu upaya alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembangkan pertanian organik yang dapat merupakan suatu sistem yang mampu menjaga keselarasan diantara komponen ekosistem secara berkesinambungan dan lestari. Pertanian organik ini mengandalkan kebutuhan hara melalui penggunaan pupuk organik baik padat maupun cair. Usaha tani sayuran biasanya menggunakan pupuk an organik dan pestisida kimia yang tinggi. Penggunaan pupuk anorganik memegang peranan penting untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman. Namun apabila dipakai terus menerus akan merusak kondisi tanah. Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki kondisi tanah dan keberlanjutan Usaha Tani. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah yang pada akhirnya memiliki dampak positif pada peningkatan hasil panen, sehingga mewujudkan usaha agribisnis yang berdaya saing dan ramah lingkungan. Dalam kurun waktu 1 tahun satu ekor sapi dewasa dapat menghasilkan kompos 963,65 kg dengan kadar air 20%. Kadar rata-rata unsur hara dalam pupuk kandang untuk masing-masing unsur hara adalah sebagai berikut: N 0,5%; P 0,25%; K 0,4%; Na 0,08%; S 0,02%; Zn 0,004%; Co 0,0003%; Mg 0,007%; Fe 0,45%). Potensi Pupuk Organik (Kompos) dan Cair (Biourine)Dari hasil pengamatan yang dilakukan di Kelompok Tani Gading Indah rerata jumlah kotoran ternak yang dihasilkan yaitu 150,38 kg/ekor/hari dengan jumlah ternak sebanyak 13 ekor, sehingga mampu menghasilkan kompos lebih kurang 6 ton/bulan. Kandungan unsur hara POP yang dihasilkan berasal dari kotoran sapi dan kulit kopi, menunjukkan bahwa N yang tersedia sebanyak 6,06 %, P2O5 4,09 %, K2O 0,40 dan pH H2O 8,9. Dari kondisi lahan yang tersedia, dilakukan beberapa aplikasi pemberian dosis pupuk kandang sebanyak 10 ton/ha; 15 ton/ha; dan 20 ton/ha. Untuk menambah kandungan hara yang dibutuhkan tanaman kubis, dapat dilakukan dengan memberikan tambahan biourine (POC) dengan dosis 1:20 yang dibuat dengan penambahan empon-empon yang juga berfungsi sebagai pestisida nabati pada tanaman. Aplikasi penyemprotan dengan menggunakan POC dapat dilakukan dengan frekuensi 2 kali dalam seminggu. Hasil ImplementasiBerat Basah Krop pada perlakuan pemupukan 15 ton/ha menunjukkan bahwa penggunaan kompos pada dosis ini memberikan pengaruh yang sangat jelas pada tanaman yang dipanen. Berat Basah Krop pada dosis 15 ton/ha menghasilkan krop dengan berat 1.161 gram. Untuk pertumbuhan dan hasil yang lebih baik diperlukan penambahan pupuk KCL sebanyak 50 kg/ha. Analisis finansial UT kubis dengan menggunakan POP (semi Organik) seluas 0,2 ha di Desa Air Meles Tahun 2016 Semi Organik Sebelum - Biaya input produksi (Rp,-) = 1.103.000 = 2.235.000 - Produksi (kg) = 1.200 = 3.000- Harga Jual (rp/kg) = 4.000 = 900- Penerimaan (Rp) = 4.800.000 = 2.700.000- Keuntungan UT (Rp) = 3.697.000 = 465.000- B/C = 3,35 = 0,21- BEP Harga (Rp/kg) = 920 = 745- BEP Produksi (kg) = 275,75 = 2.483 Keuntungan pada Usaha Tani kubis dengan mengggunakan POP dan POC (semi organik) sebesar Rp. 3,697.000,- karena terjadi pengurangan biaya input produksi Rp. 2.769.000 dari penggunaan POP milik petani. Nilai B/C sebesar 3,35 dibanding sebelum penerapan POP dan POC menunjukan usaha tersebut layak diusahakan. Titik impas Usaha Tani kubis semi organik dicapai apabila petani saat itu memproduksi sebanyak 275,74 kg kubis dan titik impas untuk harga kubis pada saat itu bila dijual dengan harga minimum Rp. 920,-/kg PenutupPenggunaan POP dan POC mampu mengurangi biaya sarana produksi khususnya untuk pembelian pupuk dan pestisida kimia sebesar Rp.6.160.000,-/ha. Produk biofertilizer berupa POP dan POC perlu dikembangkan untuk tanaman sayuran lainnya sehingga mendukung program desa organic yang mulai digerakkan di setiap daerah dan akan terwujud Usaha pertanian ramah lingkungan Penulis : Dr. Umi Pudji Astuti, MP.