Keterbatasan lahan menjadi salah satu permasalahan bagi sebagian orang yang hendak berbudidaya tanaman, terutama di wilayah perkotaan. Dengan adanya perkembangan teknologi di bidang pertanian, keterbatasan lahan bukan lagi menjadi masalah utama. Salah satu metode berbudidaya tanaman yang dapat mensiasati minimnya luas lahan adalah dengan sistem wall gardening. Berbagai macam istilah untuk menyebutkan wall gardening ini, seperti misalnya taman vertikal, green wall, taman dinding, vertikal landscape, living wall dan sebagainya. Konsep dari wall gardening adalah taman yang dibuat secara tegak lurus (vertikal). Pemanfaatan ruang kosong seperti pada tembok atau dinding kosong baik di dalam maupun di luar ruangan ini menjadi trend yang telah banyak ditemui terutama di kota-kota besar. Keterbatasan lahan tidak lagi menjadi faktor pembatas dalam mengembangkan pertanian di perkotaan. Selain menambah estetika, wall gardening mempunyai banyak manfaat lain seperti meningkatkan suplai oksigen, mengurangi polusi udara, dan menahan panas matahari. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat ruang hijau dengan system wall gardening adalah kekuatan dinding sebagai struktur penopang wall gardening. Pemilihan media tanam juga penting untuk diperhatikan, penggunaan media tanam sebaiknya yang ringan agar tidak terlalu membebani penopang, seperti cocopeat, peat moss, dan sebagainya. Beberapa model wall gardening yang mudah untuk diterapkan dalam skala rumah tangga adalah : Wall gardening model terpal. Model terpal ini merupakan model sederhana dengan bahan yang mudah dan murah didapatkan. Selain itu, model ini pun dapat ditempatkan dimana saja, seperti di tembok-tembok rumah, pagar rumah, lorong jalan. Tanaman yang sesuai dengan model ini adalah sayuran daun dengan metode sebar padat, misalnya kangkung, bayam, selada dan sebagainya. Media tanamnya pun sama seperti media tanam dengan sistem pot atau polybag yaitu campuran tanah, pupuk kandang/kompos dan sekam dengan perbandingan 1:1:1 atau percampuran media sampai porous/gembur. Wall gardening model paralon. Model paralon ini juga mudah dibuat dan dapat ditempatkan dimana saja, sepanjang masih mendapatkan sinar matahari. Media tanamnya pun sama dengan model terpal. Wall gardening model pot plant. Wall gardening dengan sistem ini membutuhkan pot dan rangka besi sebagai penopangnya. Pot diberi kawat untuk dikaitkan pada rangka besinya. Ukuran pot dan volume wall gardennya dapat disesuaikan dengan tembok yang tersedia. Tanaman yang cocok untuk dibudidayakan pada sistem plot plant ini adalah sayuran daun seperti bayam, kangkung, seledri, pakcoy, caisim, serta tanaman toga seperti pegagan, keji beling, myana, daun jinten, gempur batu, sirih, serta tanaman hias perdu lainnya. Media tanam yang dipakai pun sama dengan sistem terpal dan paralon. Wall gardening model modul atau partisi. Bahan yang dipakai adalah agronet (pembungkus media tanam) dengan rangka besi sebagai penopangnya, sedangkan media tanamnya adalah campuran pupuk kompos/kandang,dan cocopeat. Cara penanamannya pun mudah dengan melubangi agronet dan memasukkan akar tanaman ke dalam media tanamnya. Beberapa model wall gardening tersebut telah dikembangkan oleh BPTP Jakarta dan diintroduksikan kepada masyarakat di wilayah Jakarta. Penulis : Kartika Mayasari Sumber : BPTP Jakarta Sumber Gambar : dok. BPTP Jakarta